Artikulasi Hati dan Otak

Keluh Kesah Layang Layang

Ah..aku benci diam

belaian angin benar benar memabukkanku

lepaskan segera aku dari cengkeramanmu!

biarkan aku menari bersama angin

biarkan hembusannya membelai mesra kulit kertasku..

toh, kamu bisa memegang otot benangku kan?

Ah..mengapa kau masih mencengkeramku ?

biarkan aku pergi dengan angin kencang ini !

kurela cinta ini menerbangkan kemanapun

ah..aku benci semua ini

kemanakah kau kan menculikku dari angin kekasihku ?

betapa malangnya aku

tak kurasakan lagi gelora cinta sang angin padaku..

(diluar, hujan turun dengan lebatnya disertai angin ribut. sang anak bersyukur ia sampai dirumah sebelum hujan turun sehingga layang layangnya tidak basah dan rusak)

Juli 17, 2008 Posted by | kontemplasi, Poem, sang pujangga | Tinggalkan komentar

Meratapi Sejarah

Tinta yang tertulis di lembar sejarah

hampir selalu menggunakan warna peperangan dan pertumpahan darah

dituliskan oleh otot otot pongah manusia

yang merasa berbuat kebajikan ditengah kesesatannya

prasasti yang terpancang pada tanah sejarah

hampir selalu dipahat dengan kekerasan dan kesewenangan

oleh otot otot kekuasaan dan tiran manusia

yang membungkus kepentingan dengan kata kata manis kemanusiaan

pada akhirnya,

sejarah menjadi sebuah repetisi

penderitaan manusia dibawah kesenangan yang lainnya

Juli 16, 2008 Posted by | kebangsaan, kontemplasi, Poem | 1 Komentar

Biarkan Aku Tidak Berkata Cinta

Biarkan aku tidak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti busana

yang kelak mendapat potongan harga

biarkan aku tidak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti hutang berbunga tak hingga

yang selalu dituntut untuk dilunasi dan takkan pernah akan lunas

biarkan aku tak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti bunga

yang semerbak lalu layu dan gugur berganti

Biarkan aku tidak berkata cinta

karena kuingin kau menangkapnya tanpa kata

dan tidak usah berkata kata

Juli 16, 2008 Posted by | Poem | 2 Komentar

Lelaki dan Hujan

Hujan masih begitu dinanti sang lelaki

Ia hanya ingin berdiri di tengah guyurannya

menghayati setiap tetes tetes air

merasakan lembutnya air yang mengalir di permukaan kulitnya

Ia begitu menyukai berdiri di tengah hujan

karena hujan mampu menutupi derai airmatanya

membiaskannya bersama aliran air langit

dan menutupi duka dan lemahnya dari pandangan kasihan manusia

Juli 16, 2008 Posted by | Poem | 3 Komentar

I who advocates Oneness

Muwahhidun ana, wa mu’minun billah

Allahu Kholiqii, wa waahibul hayyah
Muwahhidun ana, wa mu’minun billaah

Qolbii bi nurillaah, mudhiiatun khuthooh

Daqootuhu taquul, Allah Allah Allah
Muwahhidun ana, Wa mu’minun billah

Warruuhu fiil isyrooq, wal fikru fii sholaah
Muwahhidun ana, Wa mu’minun billah

Qolbii bidzikrillah, yasydu wa madal hayaah

Muwahhidun ana, wa mu’minun billah

Alkaunu kulluhu, lillaahi saajidu

Wal kullu yunsyidu, Allahu waahidu

dengerin lagu ini sambil baca sirah sungguh luar biasa rasanya…

oiya, mungkin ada yang ngerasa frustrated dengan sejarah Indonesia…mungkin bisa mencoba membaca sirah entah itu nabawi, atau shahabat..InsyaAllah luar biasa, banyak teladannya.

wallahualam

Agustus 31, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem | 1 Komentar

maya

Ada dunia
yang tak tersentuh indera
hanya rasa yang mampu membaca dunia
dikala ironi berpadu dengan kewajaran
tampak biasa
tampak awam
tampak hambar
tampak abu – abu
tak terasakah tawa lepas seorang balita
yang menjadi begitu menyesakkan dada ?
atau lelapnya tidur seorang anak kecil
yang menjadi begitu teramat menyayat hati ?
inilah realitas dunia
sakit memang
apa daya
daya apa ?
kita terlampau banyak berwacana
hingga wacana kita menjadi melangit
tak lagi berpijak di bumi realitas
sekali lagi aku bertanya
daya apa ?
sakit oleh pemahaman
kenapa tidak besikap cuek ?
sebentar saja..
aku tak bisa..
aku tak tahan melihat wajah itu
pipi tirus dengan sorot mata lelah
di tengah temaram lampu jalanan malam hari
aku rindu Umar…

Mei 27, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem | Tinggalkan komentar

aku berdiri


aku berdiri di sini
di tanah ibu pertiwi
dan kusadari betapa elok disekitarku
keelokan ini terasa begitu mengiris hatikubetapa tidak
lihat orang – orang yang menggadaikan tanah ibu
untuk dieksploitasi dan diambil manfaatnya
bukan untuk anak – anak ibu bumi
tapi untuk sangkuni – sangkuni pertiwi
yang menggerogoti satu – persatu sendi kehidupan hingga nyaris mati

aku tidak rela
bila ibu semakin sakit oleh mereka
dan sekali – kali aku tak akan pernah rela
bila mereka terus menari – nari diatas bumi ini
ibu……..
aku ingin membuatmu tersenyum
melihat hidupku

Allah ilahku
izinkan dalam waktu singkat hidupku
aku ingin menghadiahkan karya untuk ibu
walaupun hanya sebuah
semoga ini memberi arti bagi ribuan nyawa yang tidur di haribaan pertiwi
dan izinkan pula aku tidur bersama mereka
dalam kebahagian hakiki
karena Engkau telah membenarkan tindakanku..

April 16, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem | Tinggalkan komentar

Sajak oleh Asy Syahid Sayyid Qutb Sebelum Syahi

Sajak oleh
Asy Syahid Sayyid Qutb
Sebelum Syahid di tali gantung

———————————————————————-

Sahabat,
Andainya kematian kau tangisi
Pusara kau siram dengan air matamu
Maka di atas tulang belulangku yang sudah luluh
Nyalakanlah obor untuk umat ini
Dan …
Lanjutkanlah gerak merebut kemenangan

Sahabat,
Kematianku hanyalah suatu perjalanan
Memenuhi panggilan kekasih yang merindu
Taman-taman indah di syurga Allah
Terhampar menanti
Burung burungnya berpesta menyambutku
Dan berbahagilah hidupku disana

Sahabat,
Puaka kegelapan pasti kan lebur
Fajar kan menyingsing
Dan alam ini kan disinari cahaya lagi
Relakanlah rohku terbang menjelang rindunya
Jangan gentar berkelana ke alam abadi
Disana … cahaya fajar memancar

Al-Maghfurulahy Al-‘Arif Billah
Asy-Syahid Sayyaid Ibnu Qutb Ibrahim
Isnin 13 Jumadil Awal 1386

April 13, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem, Taushiyah | Tinggalkan komentar