Artikulasi Hati dan Otak

Cinta di atas Cinta

hari ini teringat “masa lalu”, masa yang telah lama ingin kubenamkan memorinya.namun, hari ini entah kenapa rasa ini mengemuka kembali..maka kubuka lembaran demi lembaran buku “mencari pahlawan Indonesia” dan membaca artikel ini..berikut ringkasannya.

perempuan oh perempuan!Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit daripada yang kita bayangkan. apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan?keagungan!

itulah pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. namun, ia dibesarkan di lingkungan istana bani umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulaman. ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. shalat jamaah kadang tertunda gara – gara ia masih sedang menyisir rambutnya.

namun justru saat menjadi khalifah, kesadaran spiritualnya tumbuh mendadak pada detik kemunculannya. ia pun bertaubat. “Aku takut pada neraka” katanya menjelaskan rahasia perubahannya pada seorang ulama terbesar zamannya, Al Zuhri.

ia pun memulai perubahan besar yang melingkupi anak, istri, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyat. kerja kerasnya membuahkan hasil, walau hanya memerintah 2 tahun 5 bulan ia berhasil memakmurkan dan memberi keadilan dan kejayaan bagi rakyat dan negerinya.

akan tetapi semua ada harganya. fisiknya anjlok. saat itulah sang istri datang membawa kejutan besar, menghadiahkan seorang gadis pada suaminya untuk dinikahinya (lagi). ironisnya, hal ini karena Umar telah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebalikny. Namun, istrinya Fatimah tiada pernah mengizinkan atas nama cinta dan cemburu. sekarang, justru istrinyalah yang membawanya sebagai hadia, sebagai bentuk dukungan moril baginya.

itulah saat terindah dan mengharu biru dalam diri umar. kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali dan menyalakan api cinta yang telah membakar segenap jiwanya. namun, cinta ini hadir kembali di jalan pertaubatannya, ketika cita – cita perubahan belum selesai. Cinta dan CIta bertarung disana, dihati Umar.

apa yang salah jika Umar menikahi gadis itu?Tidak ada!!!tapi apa jawabannya ? “Tidak, Ini tidak boleh terjadi.Saya benar – benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia semacam ini” kata Umar. Cinta yang terbelah diantaa kesadaran psiko-spiritual berujung pada keagungan. Imar mmenangkn cinta yang lain, cinta di atas cinta!akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.

TIDAK ADA CINTA YANG MATI DISINI. karena sebelum meninggalkan rumah umar, gadis itu bertanya dengan sendu, “Umar, dulu kau pernah sangat mencintaiku.tapi kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, namun kemudian menjawab, ” CINTA ITU MASIH TETAP ADA, BAHKAN KINI RASANYA JAUH LEBIH DALAM”

SELESAI

membaca fragmen kisah ini, selalu menimbulkan kesan yang sama bagi saya. inilah jalan saya, jalan perubahan. memang pernah ada seseorang (cuma 1) yang menjadi tempat hati ini bertaut di masa lalu, dan saya memutuskan untuk berubah selepas membaca buku NPSP…memang apa yang dikatakan buku itu benar, cobaan paling besar adalah setelah keputusan itu diambil. ingatan dan memori masa lalu sering kali hadir, dan saat jiwa lemah menjadi begitu rupa rupa rasanya…

namun, hikmah yang bisa saya ambil dari sana adalah bahwa ketika saya memutuskan untuk mencinta, maka konsekuensinya saya akan berjuang demi cinta itu dan sekiranya saya tidak bisa mendapatkan cinta itu maka terimalah dengan lapang dada dan jiwa besar. karena sekali lagi, tidak ada cinta yang mati disana namun saat kita menerima takdir Allah sebagai yang terbaik bagi manusia, maka kita akan menemukan bahwa disanalah letak keagungan cinta yang terbingkai dalam rasa yang meneguhkan saya untuk tetap setia pada jalan pertubatan dan juga rasa tenang bahwasanya sang tercinta hidup disana dengan yang terbaik dan tentu saja semua rasa ini adalah lebih dalam daripada cinta yang sebelumnya…

untuk kau yang disana, smoga keberkahan, rahmat, hidayah dan kebahagiaan senantiasa tercurah padamu…

Desember 15, 2007 Posted by | kontemplasi, my stuff and I | 2 Komentar

Kepahlawanan Kolektif, Introspeksi dan Visi

“ Manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan mampu menjadi superman, namun dengan kelebihannya mampu menjadi superteam “

 

Layakkah bangsa ini terpuruk? Bangsa ini memiliki banyak kelebihan dalam segi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia. Namun, potensi sumber daya manusia yang sedemikian besarnya belum mampu mengeksplorasi sumber daya alam yang ada sehingga mampu mendatangkan kemakmuran bagi bangsa ini.

 

Manusia bangsa ini bukan manusia – manusia bodoh. Anak – anak bangsa kita mampu meraih prestasi terhormat dalam pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia sekalipun, melalui olimpiade. Putra – putra bangsa ini juga yang mampu berbicara di pentas internasional melalui karya monumentalnya seperti Pak Habibie. Berapa banyak elemen bangsa ini yang bergelar Doktor bahkan Profesor, namun kedaan bangsa ini masih saja carut marut.

 

Kita memang memiliki kecerdasan yang mampu bersaing dalam tataran internasional dalam ruang lingkup individu, namun ketika berbicara dalam tataran kolektif, masih ada yang harus dikompromikan antar individunya. Ketika kita masih berada dalam kondisi menyamakan kepentingan antar individu artinya kita belum memiliki satu visi kebangsaan yang sama. Ambil contoh dalam aspek teknologi. Teknologi saat ini masih terparsialkan dalam penentuan kebijakan politik kita yang masih sebatas suara dan lobi, belum menyentuh konten. Harus ada mainstream politik baru yang mengintegrasikan semua aspek sehingga politik kita berhasil menyentuh aspek konten politiknya tidak sebatas suara dan lobi semata.

 

Kita pernah melewati sebuah masa yang singkat dimana aspek – aspek kehidupan dari sosial, politik, ekonomi, teknologi berjuang bersama dalam mengangkat kondisi bangsa. Hanya saja aspek budaya dan pertahanan keamanan masih menjadi kendala utama yang merusak harmonisanya selain politik yang memang bermata dua. Masa itu adalah masa Habibie menjabat sebagai presiden. Konsep Habibienomics yang mengedepankan produksi demi mengangkat perekonomian mampu menaikkan kondisi perekonomian kita yang masih terpuruk menjadi lebih baik, walaupun belum baik benar. Sekilas konsep ini menyerupai konsep reformasi ekonomi Park Chung Hee saat mejabat sebagai presiden republik korea. Konsep Industrialisasi berbasis ekspor ternyata berimbas besar pada kehidupan perekonomiannya jauh setelah ia tidak berkuasa lagi. Ketahanan ekonomi mikro yang terbentuk dari mapannya industri rumah tangga mampu membuat Korea menjadi negara pertama yang lepas dari jeratan krisis ekonomi yang melanda
Asia tahun 1998. Kemapanan bangsa ini turut dubangun oleh kebijakan ekonomi, pemanfaatan   teknologi, kebijakan politik, sosial kemasyarakatan, dan budaya bangsa, semuanya terintegrasi.

 

Ketika berbicara tentang integrasi semua aspek kehidupan, kita butuh figur – figur yang memiliki spesialisasi dalam keilmuan dan wawasan global dalam tingkat pemikiran sehingga mainstream ini mampu menjadi masif dan memfasilitasi transformasi kehidupan bangsa ini. Kita sudah tidak akan membicarakan lagi figur – figur ratu adil yang dikultuskan, tapi sebuah sistem besar transformasi dengan figur – figur itu sebagai instrumen utama penggeraknya. Kekolektivitasan menjadi sebuah energi dalam menggerakkan sistem besar ini, sinergi menjadi senjata utama sistem ini.

 

Justru disinilah letak problematikan krusial bangsa ini. Untuk menjamin harmonisasi kekolektivitasan, kesediaan figur – figur untuk ’hanya’ menjadi instrumen sistem amat dibutuhkan, loyalitas inilah yang memang kurang dipunya oleh bangsa ini. Kepentingan dan ambisi pribadi masih menjadi hal yang begitu menggoda bagi figur untuk ’berjuang’ sedangkan urusan kompetensi dan spesialisasi entah ditempatkan di nomor berapa. Padahal, kepahlawanan kolektif ini bergantung pada spesialisasi dan kompetensi instrumen – instrumennya.

 

Pada akhirnya, sebuah mainstream pergerakan yang mengkombinasikan serta memaksimalkan potensi dan kapabilitas instrumennya akan mampu mewujudkan cita – cita besar bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang gemah ripah loh jinawi, baldah thoyyibah wa rabbun ghafur. Bahkan, untuk mewujudkan cita – cita itu, seorang superman pun tak akan mampu, tapi sebuah superteam punya kans besar mewujudkannya, tinggal bagaimana memfokuskan kerja instrumen – instrumennya dan merangkai kerja dan karyanya menjadi tinta emas yang menghiasi sejarah bangsa ini.

November 26, 2007 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | 3 Komentar

Values diri

Kita, manusia, memiliki setidaknya 7 values dominan dalam diri kita. values ini apabila terlanggar akan membuat rasa sakit yang luar biasa. values ini harus ditemukan oleh masing – masing individu sebab dengan values ini akan lahir ketegasan. tiada kata gamang dan ragu – ragu. kegamangan atau keragu – raguan dalam menentukan keputusan yang harus dipilih merupakan bukti bahwa kita sendiri belum menemukan values diri kita.

cara menemukan values diri kita memang membutuhkan waktu tersendiri untuk berpikir dan berkontemplasi. apakah sebenernya membuat diri kita merasa sakit atau amat terganggu sekali bila itu terjadi pada kita ? apakah yang teramat sangat kita harapkan orang melakukan itu ke kita dan yang seharusnya kita lakukan pada orang lain ? apa harapan terbesar kita yang apabila kita tidak mampu mencapainya atau ada gangguan padanya maka kita akan merasa sangat tersiksa ?

jika kita melihat tingkah polah pemimpin kita yang cenderung gamang, maka bisa jadi sebenernya beliau sendiri belum menemukan values dirinya. ketidak tahuan values diri akan bisa membuat kita tidak bisa bertindak tegas karena kita dibuat bingung oleh persepsi kita dalam memandang masalah. bila persepsi kita dalam memandang masalah sendiri blur, maka keputusan yang dihasilkan pastilah tidak berkualitas. values diri ini berguna sebagai koridor diri kita dalam menghadapi kehidupan.

contohnya SBY, kita melihat dan mempertanyakan mengapa ia begitu ragu – ragu dan gamang dalam segala hal. karena dalam pandangan saya, beliau lebih mengutamakan popularitas daripada berbicara pada dirinya sendiri tentang values diri yang ia punya. jika values diri yang ia punya salah satunya adalah keadilan, maka ia tak perlu repot – repot berpikir dan mengambil keputusan dalam memandang masalah Iran misalnya sehingga keputusannya bisa tegas. misal Iran boleh mengembangkan nuklir karena mengembangkan nuklir untuk tujuan damai adalah hak semua bangsa. amerika tidak boleh melarang, kalaupun ia melarang harusnya proyek senjata nuklirnyalah yang harus dihentikan karena senjata bukan untuk menjaga perdamaian namun untuk menghancurkan perdamaian. itu contohnya. bisa kita lihat, bila kita memandang melalui values diri kita, ga ada yang namanya standar ganda.

saya telah menemukan setidaknya 3 dari 7 values utama. saya belum mengurutkan dan belum penting bagi saya untuk mengurutkan karena kalaupun ada deviasi values, 7 values dominan ini tetap tidak akan berganti. 5 lagi masih dalam pencarian. values diri saya adalah :

1. kesetiaan

2. keterbukaan

3. keadilan

secara global, saya ini orang yang sulit berpaling. bila saya udah stuck dengan suatu hal, maka saya biasanya keukeuh disana (makanya saya suka dengan karakter Noah Bennet di film Heroes, he truly looks like me). walau saya tahu bahwa sesuatu itu ada sisi baik dan sisi buruknya, but saya sering berkata pada diri saya bahwa I can deal with and cope with the dark side, I can make the light side shine !. saya jika stuck, suka, cinta pada sesuatu maka saya tahu bahwa itu ada sisi buruknya, tapi penglihatan saya pada sisi baik itu jauh lebih besar. entah mengapa. dalam pengharapan pun demikian, sulit rasanya menerima orang yang telah berkhianat. rasanya seperti ada yang mau meledak di dalem diri.

dalam keterbukaan pun sama, saya tidak bisa menerima jika ada sesuatu yang menyangkut saya disembunyikan. atau orang terdekat saya tidak terbuka atau menyembunyikan sesuatu ttg saya. believe it or not, I have no secret to everybody I close with. saya tidak pernah menyimpan rahasia pada orang – orang terdekat saya.

keadilan ini sebenernya values yang mungkin sudah dari semenjak saya smp sudah saya sadari. saya dalam kehidupan menghendaki hal ini, bahkan ketika bisnis ini dimana apabila saya merasa keuntungan yang saya ambil terlampau besar, maka hati saya akan protes. keadilan ini pula yang saya kehendaki terimplementasi dari perlakuan yang saya terima dari orang lain maupun yang saya lakukan pada orang lain.

ketiga values ini penemuannya dilatarbelakangi oleh masalah keluarga saya, jadi memang saya sudah lama berinteraksi ddengan ketiga values diatas.

4 lagi masih dalam pencarian, namun ada beberapa nominasi untuk itu dan saya lagi memikirkan masak – masak apakah itu memang values diri saya ato tidak.

November 25, 2007 Posted by | kontemplasi, my stuff and I | Tinggalkan komentar

Ga Ada Alasan Buat Ngerasa Kesel

pernah ga ngerasa di hari ini lo siaal banget. misalnya kejebak macet ato ban motor lo bocor ga jelas ? ato misalnya lo ngadepin masalah yang njelimet banget ? gw yakin semua orang pasti pernah ngerasain hal ini. namun, pernah ga coba mikir laen ? yang gw maksud yaitu lo ga nurutin rasa kesel yang muncul di ati.

siang tadi gw ngalamin semua kejadian diatas. pertama, macet. tapi, setelah gw pikir – pikir, macet ternyata ada baeknya juga. mungkin Allah ngasih rejeki buat pengamen, pengemis, anak jalanan di kemacetan ini. bayangin, misalnya jalanan lancar. penghasilan mereka berkurang dong ? nah sebenernya solusi memecahkan masalah kemacetan itu mungkin juga dengan jalan mensejahterakan mereka yaitu anak jalanan, pengemis, pengamen itu. karena apa, supaya Allah ngasih rejeki ke mereka dari jalan yang lain, bukan di jalan raya, di kemaceta.

hal yang sama berlaku pula di ban bocor. pertama, emang gw kesel pas bannya bocor, hampir maghrib lagi. tapi ternyata pas gw liat tukang tambal bannya, gw langsung nangkep bahwa inilah jalan rejekinya. so, ngapain gw harus kesel dengan ban motor yang bocor, toh ada yang ngerasa seneng dengan adanya ban yang bocor ini supaya dia dapet rejeki.

so..mikir – mikir lagi deh kalo mau kesel, siapa tau ada hikmah yang ga bisa lo dapet kalo misalnya lo nurutin rasa kesel lo..

Oktober 22, 2007 Posted by | kontemplasi | Tinggalkan komentar

menyoal peran manusia

tergelitik menulis tema ini setelah berdiskusi dengan sahabat via sms. semuanya diawali oleh perasaanku yang merasa ada yang aneh dengan sms – sms sahabatku itu. saya merasa dia sedang dalam kondisi tertekan atau dalam kondisi kebimbangan. akhirnya saya memberanikan diri meng-sms-nya

inti dari diskusi kita adalah tentang peran manusia. teman saya berpendapat bahwasanya ia merasa takut tidak dapat mencapai hal – hal ideal. orang – orang terlalu berharap dan menuntut banyak dari dirinya. ketika membaca sms-nya, sejujurnya aku pernah mengalami hal yang sama. pada akhirnya saya putuskan ‘mengalah’. memang pertama akan sangat sulit karena ego kita berharap lebih. namun kemudian saya sadar bahwasanya ini memang tanggung jawab saya bukan kehendak mereka.

kemudian, beliau mempertanyakan mengapa saya ‘mengalah’, beliau mempertanyakan mengapa manusia selalu terjebak dalam dualisme peran. di satu sisi dia bebas dan berhak atas dirinya, di sisi lain dia terikat dengan orang lain. bagaimana memadukan keduanya supaya sejalan ? dan ga ada yang harus mengalah.

sejurus saya hampir merasa setuju dengan pendapatnya. kemudian saya mencoba merenungi apa yang telah aku putuskan dengan sikap ‘mengalah’ ku pada beberapa hal. kemudian aku menemukan sesuatu yang berbeda dengan pendapatnya. dimataku manusia tidak terjebak dalam dualisme peran, namun memang manusia memiliki multi-peran. dan mencari jalan yang terbaik dari peran – peran tersebut adalah bukan dengan maksimalisasi salah satu peran namun dengan optimalisasi peran – peran yang kita punya sehingga kita bisa menunaikan kewajiban kita pada orang lain pun juga hak kita sebagai manusia pribadi.

memang, menyoal peran ini adalah tak ada habisnya. semua bergantung dari sudut pandang pribadi masing – masing. namun, pelajaran yang saya ambil dari ramadhan kali ini membuktikan bahwasanya penurutan ego dalam mencari titik temu antar peran yang dimiliku hanya akan membuat jurang antar peran semakin besar. maka dari itu yang terpenting adalah menyadari apa yang menjadi tanggung jawab kita. peran – peran yang kita miliki tidak lantas menjadikan tanggung jawab kita pada pihak yang terkait dengan satu peran kita menjadi terbagi. semuanya membuat satu doa menjadi lebih sering kupanjatkan

“Allahumma Alhimnii Rusydii, wa A’iznii min kulli nafsii..”

Oktober 19, 2007 Posted by | kontemplasi | Tinggalkan komentar

Peluang bagi Mahasiswa kala Mudik

Mudik udah jadi bagian yang ga terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. paling nggak setaon 3 kali mudik lah, mudik idul fitri, liburan, ma idul adha. sebenernya dibalik rutinitas itu, mudik ternyata punya peluang gede buat mahasiswa terutama sebagai media penjembatan antara mahasiswa sendiri dan masyarakat banyak.

kalo ngeliat dari pandangan masyarakat tentang mahasiswa sendiri, masyarakat udah sepantasnya naroh harapan besar di pundak mahasiswa sebagai generasi pewaris negeri ini. walaupun tidak secara eksplisit emang, namun respect yang diberi masyarakat ke mahasiswa ga bisa dipungkiri emang ada.

adanya respect ini tentunya kudu bisa ngebuat mahasiswa mikir, apakah pantas kalo momen mudik ini cuman diabisin buat makan, tidur, nonton tivi ato dengan kata lain ngendog di rumah aja ? nah kalo kebanyakan mahasiswa cuman ngendog doang, ya ga perlu heran dengan realitas bahwa walo negeri ini punya banyak sarjana, tapi pembangunannya semrawut ga jelas arahnya, lha wong bisa jadi sarjananya sendiri bisa jadi ga ngerti mau ngapain di masyarakatnya ?

jadi inget perkataannya bung hatta tentang hal ini. bahwa penyakit klasik bagi kaum cendekia (intelektual) adalah apakah ia akan tenggelam dalam rutinitas ataukah turun menyelesaikan persoalan – persoalan masyarakatnya ?. kalo ngeliat dari perkataan ini, jelas ini adalah pertanyaan yang besar yang mesti kudu di jawab selagi kita jadi mahasiswa. parameternya gampang aja, di rumahnya sendiri dia gaul kagak ? kalo misalnya dikit yang kenal ama dia, yaa bisa dipahami mengapa ia ga terlalu peduli ma orang lain. gimana mau peduli kalo kenal aja kagak ?

mumpung masih jadi mahasiswa, at least masih punya waktu seenggknya 7 bulan lagi buat ngerubah hal ini. yang perlu kita, mahasiswa, lakuin itu nanemin dan ngebangun trust and respect pada mahasiswa dari masyarakat. bisa dimulai dari hal yang simpel tuh, misalnya pas idul fitri kan ada kebiasaan saling beranjangsana ke tetangga..coba deh mulai ngobrol ga cuma salaman, pamer senyum, trus udah. at least, orang itu mulai tau tentang diri kita. nah kalo pas ramadhan ini udah pada mudik, momen ramadhan lebih cuco’ lagi. misalnya pan biasanya kalo di desa itu ais sholat tarawih pada tadarusan, coba deh kita ikutan. yaa walopun misalnya ngaji kita ga bagus – bagus amat, tapi kita ada partisipasinya ke masyarakat.

so, selamat mudik, selamat ngebangun trust and respect di masyarakat. insyaallah temen – temen bakal nemuin banyak hikmah dari hal ini. hikmah yang semakin ngebuat temen – temen yakin kalo bangsa ini ngebutuhin banyak pahlawan, dan semoga kita termasuk golongan itu.

you are not what you were born, but what you have within yourself to be…

Oktober 9, 2007 Posted by | kontemplasi | Tinggalkan komentar

Belum Apa Apa

renungan bagi seseorang yang tengah malas

Usamah bin Zaid saat umur 18 tahun telah menjadi panglima perang. sia memimpin pasukan yang didalamnya ada veteran perang badar sekaliber Abu Bakar, Umar bin Khaththab,  Usman bin Affan, dan Ali bin Abi thalib.

Abdullah ibnu ‘umar pada usia 13 tahun amat membara keinginannya untuk berjihad bersama Rasulullah di Perang Badar dan perang Uhud. walaupun ditolak, pada akhirnya ia mendapat kesempatan itu di Perang Ahzab.

Shalahuddin Al Ayubi merebut palestina kembali melalui paduan yang luar biasa antara kecerdasan strategi perang dengan keimanan.

Handzalah yang bersegera meninggalkan kehangatan malam pertamanya demi memenuhi seruan jihad ke medan uhud dan akhirnya menemui syahidnya. Ia dimandikan Malaikat.

kau ? belum apa – apa

seharusnya

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran : 110).

lantas, mengapa masih malas jua ?

September 26, 2007 Posted by | kontemplasi, Taushiyah | Tinggalkan komentar

I who advocates Oneness

Muwahhidun ana, wa mu’minun billah

Allahu Kholiqii, wa waahibul hayyah
Muwahhidun ana, wa mu’minun billaah

Qolbii bi nurillaah, mudhiiatun khuthooh

Daqootuhu taquul, Allah Allah Allah
Muwahhidun ana, Wa mu’minun billah

Warruuhu fiil isyrooq, wal fikru fii sholaah
Muwahhidun ana, Wa mu’minun billah

Qolbii bidzikrillah, yasydu wa madal hayaah

Muwahhidun ana, wa mu’minun billah

Alkaunu kulluhu, lillaahi saajidu

Wal kullu yunsyidu, Allahu waahidu

dengerin lagu ini sambil baca sirah sungguh luar biasa rasanya…

oiya, mungkin ada yang ngerasa frustrated dengan sejarah Indonesia…mungkin bisa mencoba membaca sirah entah itu nabawi, atau shahabat..InsyaAllah luar biasa, banyak teladannya.

wallahualam

Agustus 31, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem | 1 Komentar

Menghargai Pahlawan

(dilatarbelakangi atas peristiwa peresmian patungsoekarno hatta di dekat bandara)

Abu Ubaid* begitu bangga akan kemenangan demi kemenangan yang ia dapatkan dalam perang melawan Persia untuk pembebasan Irak. Kini, pasukannya kembali berhadapan dengan pasukan Persia yang dipimpin oleh Bahman Jadhuweh. Hanya sungai yang memisahkan pasukan muslimin dan pasukan Persia.
Utusan Persia pun datang memberikan tawaran
„Pasukan kalian yang myeberang sungai, atau pasukan kami ? „
Dengan yakin Abu Ubaid memutuskan bahwa pasukan muslimin lah yang akan menyeberang sungai yang lebar itu.
„jangan biarkan orang – orang Persia itu lebih berani mati daripada kita“
Abu Ubaid telah lupa akan nasihat Amirul Mukminin Umar, agar mendengarkan pendapat para veteran perang badar. Pahlawan badar yang turut berjuang di sisi Abu Ubaid. Salit bin Qais adalah salah satunya. Salit sendiri berpendapat bahwa amat riskan dan berbahaya bagi pasukan muslimin untuk menyeberang sebab pasukan persia lebih mengerti kondisi geografis daerah tersebut.

Akan tetapi, Abu Ubaid tetap pada keputusannya semula. Ia yakin kemenangannya akan berlanjut. Ia sendiri tidak menginginkan orang – orang Persia terlihat lebih berani mati daripada pasukan muslimin. Ia telah melupakan nasihat umar. Nasihat yang bermakna hargailah para pahlawan yang ada di sampingmu. Akhirnya pasukan muslimin pun mengalami kekalahan menyakitkan dalam perang yang dikenal dengan perang jembatan itu. Salit dan Abu Ubaid pun akhirnya syahid dalam perang tersebut.

Umar telah memberikan nasihat yang berharga bagi seorang anak muda yang hendak meretas jalan kepahlawanannya. Nasihat yang menunjukkan cara menghargai para pahlawan dengan menempatkannya sebagai seorang guru dan penasihat bagi pemimpin muda yang penuh semangat.

Pahlawan itu dilihat dari kebijaksanaan mereka yang menyemai karena pengalaman sejarahnya walaupun karakter lahir mereka sendiri bukan tergolong orang yang bijaksana.

Seperti Salit,ia adalah tipikal orang yang tergopih – gopoh dalam perang. Maka, ia tidak dijadikan pemimpin pasukan dalam perang. Ia memilih Abu Ubaid sebagai pemimpin perang yang memang membutuhkan seseorang yang lebih tenang, sabar, dan tabah dalam menjalani ganasnya peperangan.

Tapi Umar menempatkan Salit sesuai kapasitasnya sebagai seorang pahlawan. Sebagai guru. Sebagai penasihat. Sebagai pemberi masukan bagi pemimpin. Semua itu karena ia memiliki kebijaksanaan yang didapat dari tempaan pengalaman sejarahnya.

Kebijaksanaan karena tempaan pengalaman sejarah inilah yang merupakan harta karun terbesar dari seorang pahlawan. Bukan cerita heroic dan patriotiknya. Bukan pula banyaknya bintang jasa atau harta rampasan perang yang didapatnya. Dan harta karun terbesar ini bukanlah harta statis, namun mampu menular dan menginspirasi banyak orang.

Maka dari itu, menghargai seorang pahlawan bukan dengan jalan membangun patung – patung replica dirinya. Penghargaan semacam ini akan menimbulkan salah kaprah dan pengerdilan makna kepahlawanan itu sendiri. Salah kaprah sebab orang akan melihat bahwa penghargaan atas jasa pahlawan itu dalam segi kebendaan. Lantas apakah bedanya dengan berhala ? hal ini jelas mengerdilkan makna kepahlawanan. Sebab orang akan mengenang kepahlawanan hanya dari apa yang pernah ia lakukan, pada akhirnya semuanya hanyalah kisah sejarah yang menjadi sebatas pengetahuan semata. Makna itu terlalu kecil untuk orang sekaliber pahlawan.

Pahlawan sejatinya adalah orang yang mampu menginspirasi bagi banyak orang sehingga orang orang tersebut meneruskan kerja – kerja sejarahnya atau memulai kerja – kerja besar kepahlawanan di aspek lain. Sehingga, penghargaan terhadap para pahlawan adalah meneruskan kerja – kerja besar kepahlawanan itu atau memulai kerja besar di bidang lain. Maka jasa besar seorang pahlawan adalah inspirasinya yang diberikan ke generasi selanjutnya dengan kebijaksanaan akibat tempaan pengalaman sejarahnya. Sedangkan bagi generasi selanjutnya, menghargai para pahlawan adalah mengkonversi inspirasi itu menjadi ledakan energi kerja dan karya untuk memulai atau melanjutkan estafet kepahlawanan itu sendiri.

Maka lihatlah sejarah Islam yang memesona sebagai untaian zamrud kerja besar instrument – instrument nya. Dimulai dari seorang Rasulullah hingga ditaklukkannya rumawi dan Persia dibawah bendera Tauhid. Apa yang bisa kita lihat ? hasil kerja mereka secara kolektif, bukan kerja secara individu bahkan siapa yang mengerjakannya. Musanna bin Haritsah, Qa’Qa’ bin Amr, Khalid bin Walid, Tulaihah bin Khuwailid adalah orang – orang besar yang turut menjadi arsitek sekaligus kuli dari bangunan sejarah tersebut. Tetapi saya yakin orang lebih mengenal untaian hasil kerja mereka berupa penaklukan rumawi dan persia dibandingkan kisah mereka secara individu seperti penggalan kisah kemenangan Musanna dalam perang Buwaib yang menjadi salah satu mata rantai penaklukan persia. Semua ini karena kepahlawanan sendiri yang bukan merupakan kerja individu tetapi estafet kerja kolektif dari pahlawan – pahlawannya.

Hal diatas tentunya berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Kepahlawanan dipandang sebagai potongan – potongan tak beraturan dari kerja – kerja individu yang amat susah disatukan. Seperti soekarno dengan PNI nya, Tan Malaka, Semaun dengan PKI –nya, dan lain sebagainya. Pada akhirnya bangsa ini melihat kepahlawanan dalam perspektif jasa yang diberikan individu bukan kerja kolektif.

Akibat yang kongkrit terjadi pun bukan main – main. Pembangunan bangsa dan karakternya mandheg. Ini PR besar persepsi kepahlawanan kita. Pada akhirnya bangsa ini kehilangan harta karun terbesar kebijaksanaan pahlawan karena tempaan pengalaman sejarah yang seharunya telah melahirkan instrumen – instrumen pahlawan baru yang meneruskan atau memulai estafet kerja kolektif kepahlawanan. Maka wajarah jika banyak generasi muda yang mengklaim sebagai generasi pengganti bukan generasi penerus sebab mereka tidak melihat ada yang harus diteruskan dalam rangkaian kerja besar sejarah.

Marilah kita berhenti sejenak dan melihat ke segala arah kehidupan kita. Lihatlah ke belakang. Adakah sisa – sisa tanda telah ditinggalkannya kerja besar yang belum selesai dan menunggu untuk dilanjutkan. Lihatlah ke depan, disanalah mimpi semua manusia Indonesia terpancang. Mimpi yang mungkin ada banyak orang yang takut memandangnya dan kemudian memilih duduk – duduk di sekitar anda berdiri. Lihatlah kanan dan kiri kita. Adakah orang lain yang tengah memandang anda dan memulai kerja mereka walau dengan langkah – langkah kecil ? jika ya..maka ikutlah melangkah atau mulailah langkah kecil kerja anda. Jika tidak, teruslah melangkah ke depan dengan kerja kerja kecil anda. Semakin anda dekat ke arah mimpi itu, maka kita akan melihat semakin banyak pula orang yang menuju ke arahnya sembari memintal karya dengan benang kerja. Anda akan semakin jarang melihat orang yang duduk – duduk karena orang yang duduk – duduk itu telah tertinggal jauh disana. Yakinlah, dalam melangkah ke arah sana tidak ada kerja yang bernilai kecil, sebab sekecil apapun benang yang anda pintal dalam menuju ke sana adalah tetap bagian dari busana sejarah yang kelak terbentuk. Semoga kita bukanlah orang yang duduk – duduk itu sehingga cepat atau lambat kita akan bertemu………

*bukan Abu Ubaidah bin Al Jarrah

Agustus 29, 2007 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | Tinggalkan komentar

Memahami Disintegrasi

Kaum mukmin pun berangkat ke Abbisinia. Jazirah Hijjaz tak lagi aman dan merdeka bagi mereka dalam menjalankan agama mereka. Di rombongan itu terdapat Umm Abdullah dan suaminya. Umm Abdullah melihat sesosok lelaki berperawakan tinggi besar dan berkulit coklat kemerahan tengah memperhatikan mereka dengan tatapan penuh kesedihan dan kehilangan.

“Jadi berangkat Umm Abdullah ?”, tanya lelaki itu
“Ya, kami akan pergi. Bumi Allah ini tak lagi aman bagi kami untuk beribadah “,
Jawaban lelaki itu singkat saja,
“Allah menyertaimu”,

Umm Abdullah menyaksikan lelaki itu begitu terharu. Kesedihan yang mendalam tampak sekali di wajah lelaki itu. Lelaki itu adalah Umar bin Khaththab Jahiliyah.

Ia sedih melihat betapa masyarakatnya mengalami perpecahan. Jalan – jalan di Makkah menjadi semakin sepi seiring hari demi hari yang berlalu karena banyak penduduk muslim Makkah yang telah berhijrah menyelamatkan akidah mereka. Ia pun bukannya tidak berbuat apa – apa untuk menjaga persatuan masyarakatnya. Sudah banyak Kaum Sabi’ yang ia siksa. Namun riak – riak perpecahan di masyarakatnya kini menjadi gelombang yang mengganggu tatanan persatuan yang ingin ia jaga. Ia heran melihat militansi kaum Sabi’ ini dalam menghadapi terror, siksaan demi siksaan yang ia lancarkan. Apakah sebenarnya yang dimiliki Muhammad itu sehingga mereka semua seperti ini ?

Realitas disintegrasi yang pernah menjangkiti masyarakat arab saat itu, kini tengah menjangkiti pula bangsa ini. Di Aceh, Papua, Maluku telah berkobar semangat memisahkan diri dari tatanan kehidupan bangsa Indonesia.

Bisa jadi, kita dan pemerintah Indonesia saat ini adalah Umar Jahiliyah pada masa itu. Operasi militer yang digelar di daerah konflik telah menunjukkan bahwa pemerintah telah melakukan hal yang sama yang dilakukan Umar Jahiliyah dalam menjaga tatanan persatuan dan kesatuannya. Kekerasan dan penyiksaan. Inilah realitas itu.

Akan tetapi kesemua tindakan itu tidak juga memadamkan kobaran api semangat disintegrasi itu. Bahkan arang yang timbul akibat kobaran itu menjadi sedemikian panasnya. Arang itu salah satunya adalah Perjanjian Helsinki. Betapa kita sebagai bangsa tak bisa menutupi perasaan malu dan sakit bahwasanya perjanjian itu sama halnya dengan pengakuan pemerintah Bangsa Indonesia secara de jure terhadap eksistensi pemerintahan GAM di Aceh. Sama halnya dengan diakuinya eksistensi muslim sebagai sebuah bangsa melalui perjanjian Hudaibiyah.

Penyulut kobaran itu adalah tokoh – tokoh karismatik semacam Daud Beureuh dan Kahar Muzakkar. Kita pun tidak tahu apa sebenarnya yang mereka bawa atau beri kepada masyarakat sehingga visi mereka terejawantah menjadi sebuah gerakan nyata walaupun kini mereka telah tiada. Inilah alasan mengapa mereka adalah tokoh karismatik. Pastinya tokoh – tokoh semacam ini mampu memahami kondisi daerah dan masyarakatnya melebihi pemahaman yang dimiliki pemerintah. Kefahaman yang menyadarkan mereka bahwa sesuatu yang salah tengah terjadi di daerah dan masyarakatnya. Kemudian kesadaran inilah yang mengkristal menjadi sebuah gerakan.

Akar dari semuanya adalah pemahaman dan keadilan. Pemahaman saya letakkan sebelum keadilan karena inilah yang akan menentukan takaran adil itu sendiri. Kefahaman pemerintah akan kondisi bangsa ini telah membuat keadilan itu tidak terimplementasi dengan baik dalam sebuah wajah pembangunan daerah. Pada realitasnya saat ini, satu daerah Indonesia menjadi sebuah daerah metropolis, di sisi lain ada daerah yang tidak termaksimalkan potensinya sehingga masyarakatnya tetap tinggal dalam keterbelakangan.
Marilah bangsa ini berkontemplasi sejenak dengan alunan kidung sejarah tentang disintegrasi tadi. Kita tengah terjebak dalam nasionalisme primordialis buta. Nasionalisme yang terbungkus kebanggaan akan daerah. nasionalisme yang tercadar oleh kekurangpahaman kita akan suku daerah lain selain suku kita. Pada akhirnya, nasionalisme ini yang menggiring kita menyatakan sepakat bahwa pemberontakan di daerah di nusantara harus dibumihanguskan. Maka sebelum kata maupun tindakan yang menyuarakan kesepakatan itu muncul, cobalah memahami terlebih dahulu alasan mengapa semangat itu berkobar.

Bisa jadi, di mata pengobar disintegrasi itu perlakuan bangsa ini telah jauh dari kebaikan bersama dan kebijakan – kebijakan yang ada banyak menimbulkan kemudharatan bagi mereka.
Papua sebagai contohnya. Disadari atau tidak, pemerintah kita telah menjual Papua pada asing untuk dieksploitasi habis – habisan. Ketika masyarakat Papua merasakan kemudharatan, mereka pun bergerak. Kita sendiri pernah menyaksikan tindakan anarkis yang mereka buat. Tapi apakah kita juga pernah melihat pemerintah sedapat mungkin melindungi hak – hak mereka, mengakomodasi kepentingan mereka ? maka, salahkah apabila mereka bergerak atas nama daerahnya guna melepaskan diri dari pemerintahan bangsa ini ?

Aceh, apa yang bisa kita katakan terhadapanya ? sebuah daerah yang tak pernah sekalipun diduduki pemerintahan belanda. Namun, ia dipaksa bertekuk lutut pada pemerintahan Indonesia. Beruntung, pemerintah menyadari kesalahannya dengan memberikan otonomi khusus bagi aceh guna menyelenggarakan pemerintahan yang mandiri. Namun, itu tidak serta merta menghapus luka yang ditinggalkan akibat penindasan lebih – lebih pada masa Daerah Operasi Militer (DOM).

Maluku, sebuah negeri penghasil rempah – rempah yang dahulu kala diperebutkan oleh bangsa – bangsa colonial. Kini, nasibnya menjadi tak jelas kemana akan diarahkan pembangunan daerah tersebut.

Bisa jadi, daerah – daerah lain pun merasakan hal yang sama. Hanya saja momen pengobaran disintegrasi itu belum tecapai.

Maka dari itu, sebelum hati ini merasakan sakit yang amat sangat akibat tercabik – cabiknya bangsa ini dengan disintegrasi, marilah kita bersama memperbaiki paradigma kita dalam kehidupan berkebangsaan. Pemerintah sebagai pemimpin bangsa harus bisa berpikir dan bertindak secara general, mengarahkan dan mensinergiskan potensi daerah dan menyatukannya dalam satu gerak ritme pembangunan nasional. Sedangkan putera – putera daerah dengan wawasan kewilayahan daerah dan kemasyarakatannya harus mampu menerjemahkan arahan ini menjadi langkah – langkah taktis dan teknis pembangunan daerah.

Peran diatas dirasa belum maksimal digarap oleh pemerintah sebab pembangunan dan jalur investasi masih berkutat di pulau jawa. Sedangkan di daerah lain seperti maluku, papua dan bagian timur Indonesia belum terberdayakan potensinya.

Harapan terbesar yang masih terasa manis dalam hati ini adalah menyaksikan bangsa ini dalam satu derap langkah pembangunan sehingga keadilan pemerataan pembangunan bisa dirasakan segenap manusia Indonesia. Pada akhirnya kesemuanya akan mengantarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera pada momennya.

Agustus 24, 2007 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | 2 Komentar