Artikulasi Hati dan Otak

We are What We Choose

Kontemplasi ini muncul saat berada di remote area selama sembilan hari. ketika saya menyaksikan beberapa karyawan yang telah menua dan berada di area yang jauh dari keluarga, tentu membuat saya berpikir dan memproyeksikan diri andai saya menjadi sosok yang tengah saya lihat.

satu pertanyaan yang hinggap ketika saya mendapati diri sebagai mereka yang telah menua adalah : “kenangan masa muda apakah yang saya banggakan? yang bisa saya bangkitkan sembari berharap semoga hal ini menjadi tabungan amal baik di kehidupan selanjutnya?”

tidak ada yang menjanjikan saya surga

pun juga tidak ada yang menjanjikan neraka

hanya setiap pilihan pilihan hiduplah yang bernilai janji baik surga maupun neraka

sepulangnya ke “peradaban”, saya membaca sebuah postingan di milis mengutip tulisan dari Jeff Bezos,  “We are What We Choose”

dan saya sertakan disini kutipan yang saya sukai ”

 

How will you use your gifts? What choices will you make?

Will inertia be your guide, or will you follow your passions?

Will you follow dogma, or will you be original?

Will you choose a life of ease, or a life of service and adventure?

Will you wilt under criticism, or will you follow your convictions?

Will you bluff it out when you’re wrong, or will you apologize?

Will you guard your heart against rejection, or will you act when you fall in love?

Will you play it safe, or will you be a little bit swashbuckling?

When it’s tough, will you give up, or will you be relentless?

Will you be a cynic, or will you be a builder?

Will you be clever at the expense of others, or will you be kind?

 

I will hazard a prediction. When you are 80 years old, and in a quiet moment of reflection narrating for only yourself the most personal version of your life story, the telling that will be most compact and meaningful will be the series of choices you have made. In the end, we are our choices. Build yourself a great story.

 

Hidup kita adalah rangkaian cerita tentang pilihan hidup. pilihan hidup itulah yang kelak akan menjadikan cerita hidup kita menarik atau bisa jadi membosankan. bagaimana cerita hidupmu ketika kelak di masa tua kau membaca dan mendapati kau memilih pilihan yang salah ?

pada akhirnya, kita adalah pilihan-pilihan hidup kita.

November 28, 2010 Posted by | kontemplasi | 1 Komentar

Mengarifi hidup, kehidupan, dan cita cita

kontemplasi tengah malam. ketika dibenturkan dengan kenyataan hidup, kita perlu bicara dengan diri kita. menasehati diri sendiri. karena memang musuh yang terbesar adalah mengalahkan diri sendiri (hawa nafsu).

hidup. banyak manusia yang tanpa sadar kita menjalaninya dengan rutinitas. bahkan bisa menjalani tanpa keinsyafanlebih dalam memahami setiap gerak langkah hidup kita. kali ini saya merasa terjebak dalam rutinitas hidup. membosankan dan membuat frustasi. yang saya khawatirkan keadaan ini akan membuat diri meyerah pada kenyataan hidup. menjadi pro status quo yang berujung pada pertanyaan quo vadis hidup kita.

teringat kembali akan peta hidup yang dulu pernah dibuat yang entah hilang kemana. mungkin masuk ke tempat sampah saat pindahan pasca lulus kuliah. tapi saya rindu membacanya kembali. mengingat dan merasa bahwa saya sempat memiliki idealisme hidup yang berpangkal pada kemanfaatan bagi umat. frustasi memang menulis kata kata ini. tapi terkadang jiwa kita butuh katalis dalam mempercepat reaksi pemahaman dan penginsyafan terhadap realita hidup supaya tidak terjebak dan menyerah di dalamnya.

cukuplah romantisme masa lalu itu. manis memang tapi berujung kecewa bila hasilnya tidak sesuai harapan kita. dan saya telah membuat tekad bahwa saya tidak pernah menyesal dengan hidupku sekarang. malah saya bersyukur bahwa saya sampai pada tahap ini. melihat hidup sebagai suatu alur keinsyafan tanpa jeda yang bila kita lengah, kita akan terjebak di dalamnya. ingat, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

wahai diri, marilah kembali menata hidup kita.cara yang paling ampuh adalah TULISKAN CITA CITA HIDUP KEMBALI!

Baiklah, mari kita mulai dengan :

AKU BERCITA CITA MENJADI EXPERT DI BIDANG ELECTRICITY MARKET

 

bagaimana denganmu?

November 12, 2010 Posted by | kontemplasi | 2 Komentar

Ngado

4 Desember 2008, gw belom juga nemu hadiah ultah buat adek gw yang paling kecil. sebenernya gw udah tau mau ngasih apa, tapi barang barang yang udah gw liat ga ada yang cocok, minimal menurut selera gw yang emang agak agak high ini (apa iya ?)bahkan di mal kayak BIP pun ga ada. walhasil gw memutuskan mencari di pasar baru. stselah untel untelan di Damri (yang pasti gw berdiri, selain damrinya penuh, dengkul gw juga mentok di kursi depan kalo duduk) akhirnya gw nyampe juga di pasar baru.

gw ubek ubek dah tu pasar. di lantai satu, ga ketemu, lantai dua ga ketemu juga barangnya. di lantai tiga, kagak ada juga. di lantai empat, pusing bau kain. di lantai lima, perasaan gw berkata kalo gw bakal nemu, eh bener juga. deket tangga sono gw liat toko yang ngejual barang yang gw butuhin (barangnya rahasia yee). humm,,langsung deh gw pilih pilih barang yang cucok. ketemu juga deh barang yang sesuai ama selera gw, elegan. tu penjual ngasih harga 110 ribu. gw tau sih kalo di pasar pasar kek gini, biasanya harga aslinya setengahnye. langsung deh gw tawar 50 ribu hehehe, sadis yah nawarnya. soalnya hari tu gw ga bisa lama lama buat bikin tu penjual bosen liat tampang gw sehingga harganya bisa jatuh banget. seperti yang udah gw duga, penjualnya ternyata ga mau ngejual dengan harga segitu hehehe…dia minta 75 ribu, duuh gw males nawar lagi..gw tawar deh 60 ribu (katanya males nawar, tapi masih ada dorongan buat nawar soalny penjualnya lumayan good looking hwehehe..kidding)..keukeuh tu penjual ngejual 75 ribu. gw naekin tawaran deh jadi 65 ribu, ehh mau tu penjual. akhirnya dapet deh tu barang.

sepanjang perjalanan pulang, kepikiranlah buat ngebungkus tuh barang. padahal gw belom pernah sama sekali ngebungkus kado sendiri. kalo mau ngado, pasti minta dibungkusin orang. pas ngado buat adek taon kemarin, yang ngebungkusin si anggi. pas uchan nikah, yang ngebungkusin, si tia. akhirnya bulatlah tekadku untuk membungkus kado sendiri. sesampainya di salman, gw mampir dulu ke istek buat beli kertas kado.

ternyata ngebungkus kado lumayan mengasyikkan juga. sempet kepikiran sih, ngapain repot repot di bungkus, toh bakal di sobek juga. tapi, akhirnya gw sadar filosofi membungkus kado. membungkus kado ternyata sebuah jalan supaya pemberian itu terasa lebih manis. ada kesungguhan disana untuk memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayangi. tapi, kita tidak merasa sakit hati ato menyesal saat hasil jerih payah kita membungkus kado malah dibalas dengan disobeknya bungkus kado itu untuk diambil isinya. justru kita merasa gembira saat orang berbahagia menerima pemberian kita, tanpa terpikirkan telah sobeknya bungkus kado itu. artinya, kita rela bersusah payah demi melihat orang yang kita sayangi bahagia. gw tulis susah payah karena gw emang susah payah ngebungkus kado itu.

dan inilah hasil jerih payah gw…

dsc00005

Desember 5, 2008 Posted by | iseng, kontemplasi | 3 Komentar

Medan Aktualisasi Pemimpin Alternatif

Wacana pemimpin alternatif deras bergulir seiring makin dekatnya waktu pemilu dan kebosanan akan muka muka lama yang muncul kembali sebagai calon pemimpin bangsa ini. Belum lagi kemenangan barrack obama yang minus pengalaman, namun menghidangkan aroma perubahan pada pemilihan presiden AS. Akan tetapi, wacana ini perlu disinkronkan dengan realitas Bangsa Indonesia yang justru menghambat kemunculan pemimpin alternatif pada posisi puncak kepemimpinan bangsa. Sebab, kondisi saat ini memfasilitasi pemimpin alternatif hanya sebagai pemanis wacana politik semata.

Hambatan pertama kemunculan pemimpin alternatif adalah diberlakukannya UU pilpres yang menyatakan bahwa calon presiden harus didukung oleh kekuatan politik yang memiliki 25% kursi di legislatif dan 20% suara pada pemilu. Secara kalkulasi politik, hanya segelintir partai yang mampu memenuhi syarat tersebut, dan partai – partai tersebut jelas mengelus calon calon yang itu – itu saja.

Hambatan kedua datang dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Masyarakat Indonesia lebih memilih calon dengan popularitas tertinggi daripada calon dengan visi misi dan kapabilitas kepemimpinan yang mumpuni. Sinyalemen ini jelas terlihat dengan makin bertaburnya bintang bintang layar kaca yang berada di pentas politik, dan mayoritas sebagai badut penarik suara saja. Tentu saja hal ini bukan karena kebetulan calonnya artis, tapi lebih pada ke-paranoid-an parpol akan penurunan jumlah pemilih. Bahkan, mantan-mantan presiden Indonesia yang jelas gagal dalam masa kepemimpinannya menyatakan siap bertarung kembali dalam pemilihan presiden karena dukungan masyarakat Indonesia yang mengkultuskannya.

faktor inhibitor diatas jelas menjegal langkah pemimpin alternatif di ranah politik. Sehingga, kemunculan pemimpin alternatif di ranah politik akan sia sia. Maka dari itu, pemimpin – pemimpin alternatif perlu memikirkan kembali kemunculannya di ranah politik, atau lebih tepatnya memikirkan kembali medan perjuangan non-politiknya.

Lahan – lahan hijau yang masih bisa digarap oleh pemimpin alternatif adalah bidang ekonomi & bisnis, serta sosial-kemasyarakatan khususnya pencerdasan masyarakat. Kedua ranah tersebut merupakan ranah potensial yang bila digarap optimal akan mampu memfasilitasi jalan datangnya pemimpin alternatif di ranah politik. Letak potensi ranah ekonomi & bisnis, serta sosial kemasyarakatan ada pada potensi pemenuhan kebutuhan dasar manusia berupa sandang, pangan, rumah, dan pendidikan.

Bukan tidak mungkin masa depan kepemimpinan bangsa terletak pada figur figur pemimpin di ranah ekonomi&bisnis, serta sosial-kemasyarakatan. Dalam bidang ekonomi&bisnis, china telah membuktikan bahwa dengan semangat entrepreneurship, taraf hidup masyarakat China perlahan tapi pasti membaik hingga tahun 2005, PDB China 2,2638 Triliun US$ menjadikannya negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia, menggeser Inggris. Maka tidak heran China telah menjadi raksasa ekonomi dunia saat ini. Hal ini diimbangi pula perbaikan dalam sektor sosial-kemasyarakatan khususnya pencerdasan masyarakat China. Sebab, tanpa sumber daya manusia yang mumpuni, negara sekaya apapun cuma menjadi lahan yang diperebutkan pemilik modal dan penduduknya dijadikan kuli murahan.

Maka dari itu, jelas yang harus disadari oleh segenap pemimpin bangsa ini, baik yang alternatif maupun bukan, bahwa perjuangan pembangunan Indonesia tidak sebatas agenda lima tahunan semata. Perjuangan pembangunan Indonesia merupakan jalan hidup sang pemimpin atau lebih tepatnya generasi pemimpin, sebab wahananya bukan hanya kepemimpinan politik semata, namun juga kepemimpinan di semua lini strategis bangsa, sehingga diperlukan kerja sama kepemimpinan dalam merealisasikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Toh, bagi pemimpin sejati, tidaklah penting ia seorang presiden atau bukan, yang lebih penting adalah bagaimana hidupnya bisa mendatangkan kemanfaatan secara optimal bagi sebanyak – banyak manusia.

November 20, 2008 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | Tinggalkan komentar

Nikah…

setiap manusia kelak apabila diberi umur panjang akan dihadapkan pada keinginan, bahkan kebutuhan untuk menikah. suatu hal fitrah yang dirasakan manusia.

bagi saya sendiri, entah..akhir akhir ini telah menjadi seperti kebutuhan. sedari dulu, memang saya membutuhkan sebuah tempat kembali tempat telaga kasih sayang berada. membutuhkan tempat kembali yang mampu menghadirkan ketenangan jiwa..sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah..entah bagaimana rasanya berada dalam keluarga yang seperti itu, dan betapa inginnya diriku berada di tengah tengah keluarga yang seperti itu..saya membutuhkan rumah tempatku kembali..

saya membutuhkan rumah..

dan saya merasa dengan menikah, saya mampu memiliki rumah itu…

entah kapan aku pulang..namun alunan jiwa ini terdengar sendu melagukan hasrat ingin pulang..

pulang ke rumah..

tulang rusukku yang hilang, biarkan kini aku menjemputmu dan berkata I’m home…….

Agustus 5, 2008 Posted by | kontemplasi, my stuff and I | 3 Komentar

serakan hikmah di jalan–2

sabtu, 2 agustus 2008 saya masih ada di cirebon. seperti biasa pukul setengah 6 sore saya menjemput adik di jalan raya. sambil menunggu, biasalah…sambil nongkrong pinggir jalan ditemani tukang beca yang ngobrol ngalor ngidul sambil becanda. kami pun ngobrol ngalor ngidul, mereka biasanya nanya saya kapan lulus ? nanya siapa yang dateng kemaren ? anak mana ? dan saya pun menjawab dengan apa adanya.

tak beberapa lama, ada dermawan yang bershodaqoh pada mereka dengan membagi bagikan amplop. bukan main girangnya mereka dan mereka pun berebut jatahnya masing masing. ternyata isinya uang sepuluh ribu. dalam benak saya, saya berpikir kok cuma 10 ribu ? tapi melihat raut muka tukang becak disana, saya bisa merasakan kegembiraan yang memancar dari muka mereka. saya benar benar merasa bersalah dengan pikiran saya, cuma…kenapa ada kata cuma ?apakah karena uang 10 ribu bagiku hanya cukup untuk pulang pergi naik angkot atau membeli satu buah es duren saja ?saya benar benar merasa dicambuk hatinya.

kami pun larut dalam obrolan kembali. kemudian seorang tukang becak bercerita padaku tentang pendapatnya tentang kejadian terbakarnya pasar plumbon. beliau bercerita bahwa sumber kebakaran tersebut berasal dari sebuah kios yang pemiliknya pernah menyakiti hati beliau dan temannya sesama tukang becak. ceritanya, suatu hari ia pernah diminta untuk memuat barang belanjaan seorang pembeli di kios tersebut. lama sudah ia menunggu sang pembeli membeli barang2 di kios, hingga ada orang yang mau menggunakan jasanya pun ia tolak karena telah ada yang meminta jasa dirinya terlebih dahulu. namun, alangkah kecewanya saat ia mendengar pemilik kios tersebut berkata pada pembelinya

“sudah, ga usah make beca lagi. nanti dianter ama mobil saya ke rumah”, sembari menawarkan mobil bak terbukanya. akhirnya, sang pembeli pun urung menggunakan jasa tukang becak tersebut.

tukang becak itu pun kecewa dan merasa sakit hati. ia merasa bahwa pemilik kios itu tidak peduli dengan dirinya yang mencari penghidupan dengan menarik becak. ia tidak ingin menjadi wong briman (peminta minta dalam bahasa cirebon). ia masih punya harga diri.

dan saat kios tersebut terbakar, bukan rasa peduli yang timbul melainkan ungkapan kualat…

——————————————————————————-

hikmah yang bisa diambil, bahwa kita harus mampu mengerti keadaan orang lain apalagi yang jauh lebih tidak beruntung dari kita.

perbedaan memandang uang 10 ribu harus menjadi pelajaran bahwa bisa jadi kita merasa apa yang kita perbuat adalah kecil, namun bagi orang lain hal itu begitu berarti

jangan sampai kita gagal memahami orang lain yang akibatnya memantik rasa sakit hati pada diri orang tersebut, apalagi orang tersebut adalah fakir miskin yang sejatinya harus kita bantu..

Agustus 3, 2008 Posted by | kontemplasi, my stuff and I | 1 Komentar

Keluh Kesah Layang Layang

Ah..aku benci diam

belaian angin benar benar memabukkanku

lepaskan segera aku dari cengkeramanmu!

biarkan aku menari bersama angin

biarkan hembusannya membelai mesra kulit kertasku..

toh, kamu bisa memegang otot benangku kan?

Ah..mengapa kau masih mencengkeramku ?

biarkan aku pergi dengan angin kencang ini !

kurela cinta ini menerbangkan kemanapun

ah..aku benci semua ini

kemanakah kau kan menculikku dari angin kekasihku ?

betapa malangnya aku

tak kurasakan lagi gelora cinta sang angin padaku..

(diluar, hujan turun dengan lebatnya disertai angin ribut. sang anak bersyukur ia sampai dirumah sebelum hujan turun sehingga layang layangnya tidak basah dan rusak)

Juli 17, 2008 Posted by | kontemplasi, Poem, sang pujangga | Tinggalkan komentar

Meratapi Sejarah

Tinta yang tertulis di lembar sejarah

hampir selalu menggunakan warna peperangan dan pertumpahan darah

dituliskan oleh otot otot pongah manusia

yang merasa berbuat kebajikan ditengah kesesatannya

prasasti yang terpancang pada tanah sejarah

hampir selalu dipahat dengan kekerasan dan kesewenangan

oleh otot otot kekuasaan dan tiran manusia

yang membungkus kepentingan dengan kata kata manis kemanusiaan

pada akhirnya,

sejarah menjadi sebuah repetisi

penderitaan manusia dibawah kesenangan yang lainnya

Juli 16, 2008 Posted by | kebangsaan, kontemplasi, Poem | 1 Komentar

Ayat ayat Cinta…

Ayat – ayat cinta telah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Hingga saat ini, novel tersebut telah dicetak lebih dari 300 ribu buku, sangat fenomenal. alur cerita dari novel itu, tak bisa saya gambarkan disini, speechless saya….Film nya pun yang akan diputar sekitar awal tahun 2008 Nampak ditunggu – tunggu oleh para pembaca novel dan masyarakat luas pada umumnya. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung situs Youtube yang melihat trailer ayat – ayat cinta yang mencapai 13 ribu orang. Bukan tidak mungkin film ini akan meledak.

Namun, bukan film atau novelnya yang akan saya bahas. Saya lebih tertarik pada tulisan Hanung Bramantyo, sutradara dari ayat – ayat Cinta yang ada pada blog pribadinya, http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/9

Saya tertarik dengan perbincangan hanung dan produser dimana produsernya mempertanyakan apaah film ini bakal laku karena “terlalu berat” kontennya. Bahkan ada konten bagus yang akan dihilangan, berikut kutipannya :

“Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai …”

Memang secara dzahir saat ini anak – anak muda kita gandrung terhadap hal hal yang sifatnya instan, pop, bahkan hedonistic, bukan hal yang sifatnya lebih berat ke aspek perenungan. Memang demikian adanya, Tapi dalam opini saya, saya melihat sesuatu yang berbeda. Okelah saat ini pemuda pemudi kita suka hal instan, pop dan hedon. Tapi, melihat dari tingginya penjualan novel ayat – ayat cinta, saya pikir mampu membuktikan bahwa kebutuhan akan penyampaian nilai nilai perenungan dengan cara yang indah dan bisa dipahami mereka pun tak kalah tinggi. Inilah yang harus menjadi concern kita bersama. Para pemuda dan pemudi serta rakyat Indonesia muslim secara keseluruhan membutuhkan secercah cahaya, setelaga oase pemuas dahaga mereka akan tuntunan agama yang memberi ketenangan batin pada mereka, ini fitrah.

Pada akhirnya, semoga film ini mampu memberikan sedikit (saya harap banyak) penyegaran pada pikiran pikiran kita semua sehingga mampu memacu semangat untuk mendalami agama.

 

Desember 28, 2007 Posted by | kontemplasi | 12 Komentar

Taujih Rabbani

Saat pulang kemarin, saya cukup terhenyak saat menonton televisi dan mengetahui bahwasanya seorang public figure telah mengubah keyakinannya, menjadi non muslim. Beliau mengatakan bahwasanya beliau merasa menemukan kebenaran di agama barunya. Saya tidak hendak menggugat keputusannya berpindah keyakinannya, karena hidaya semata – mata urusan Allah. Allah yang menganugerahkannya, Allah jua yang berkehendak mencabutnya. Kita, manusia hanya berjuang mencari hidayah dan mempertahankannya.

Namun, saya sangat menyesalkan bahwa alasannya berpindah keyakinan semata – mata karena ia merasa bahwa ia menemukan kebenaran dalam agama barunya. Bukan saya menggugat kebenaran agama barunya, tapi apakah ia tidak menemukan kebenaran jua dalam agama islam ini? Lantas, seberapa besar usaha ia dan kita tentu saja untuk terus istiqomah berada di jalan islam ataupun jua terus mencari hidayah Allah ?

Parameter yang paling jelas adalah interaksi kita dengan Al Quran. Bagaimanapun jua, Al Quran adalah taujih rabbani, pembelajaran langsung dari Ilahi Rabbi. Interaksi seorang muslim dengan Al Quran adalah manifestasi konsistensi dalam berislam. Saya ingin sejenak merenungi terjemah dan tafsir dari surat Al An’am ayat 92 dan 155

“Dan ini adalah kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah. Membenarkan kitab – kitab yang diturunkan sebelumnya dan agar engkau member peringatan kepada penduduk ummul Qura (mekkah) dan orang – orang yang ada disekitarnya. Orang – orang yang beriman kepada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran), dan merewka selalu memelihara shalatnya”

“Dan ini adalah kitab (Al Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah dan bertakwalah agar kamu bertakwa dan mendapat rahmat”

Dalam ayat tersebut ada kata Mubarak yang berasal dari kata barkah (berkah –Indonesia) yang berarti kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta berkesinambungan. Keberkatan Ilahi datang dari arah yang sering kali tidak terduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur. Segala penambahan yang tidak terukur indra inilah yang dinamai berkah.

Adanya berkat pada sesuatu berarti adanya kebajikan yang menyertai sesuatu, misalnya keberkahan pada makanan, bisa mendatangkan kesehatan, mencegah penyakit, mendorong aktivitas positif dan sebagainya. Itulah yang membedakan makanan yang berkah dengan makanan yang tidak berkah, karena bisa jadi setelah makan yang tidak berkah kita malah terlena dan malah tidak bisa melakukan aktivitas positif karena kekenyangan.

Kembali pada Al Quran. Al Quran adalah kitab yang mantap karena kandungannya hak (benar), sehingga ia tidak berubah. Di sisi lain, kitab ini pun penuh berkah karena yang menurunkannya adalah Allah swt, sumber segala kebaikan, yang menerimanya pun Muhammad SAW yang hidupnya mencerminkan kehidupan penuh kebaikan. Membacanya pun penuh berkah, hal ini dikuatkan dengan banyaknya orang yang menghafal dengan mudah walaupun tidak mengerti artinya. Berkahnya juga ada pada pengaruh positif yang ditimbulkannya pada manusia dalam kisah sukses dan keberhasilan dari orang yang mengamalkannya secara konsisten.

Betapa dekat tuntunan Al Quran pada jiwa manusia yang memelihara fitrah kesuciannya…

Desember 24, 2007 Posted by | kontemplasi, Taushiyah | 1 Komentar