Artikulasi Hati dan Otak

Mengenal Deregulated Electricity Market

Sebelumnya, pembahasan ini hanya memberikan gambaran secara umum tentang electricity market yang telah diberlakukan di banyak Negara di dunia. Ciri khas utama dari electricity market sendiri adalah adanya unbundling dan multi partisipan. Hal yang diharapkan dari electricity market sendiri adalah adanya kompetisi sehat yang menghasilkan harga listrik yang lebih murah, perkembangan teknologi, dan mengalirnya investasi.

Analoginya mungkin seperti penyedia jasa komunikasi sekarang ini. Di Indonesia, banyak provider yang berkompetisi dalam menjaring konsumen. Mereka berlomba menyediakan banyak benefit bagi konsumen yang menggunakan jasa mereka seperti phonecall cost yang murah, sms gratis, hingga nomer hp dengan masa berlaku tak terbatas. Kemudian, dari sisi teknologi, mereka berlomba menyediakan teknologi yang semakin canggih dan memanjakan konsumen. Pada awalnya,mungkin kita hanya mengenal GSM saja, setelah itu muncul CDMA, kemudian muncul teknologi 3G ditambah lagi fitur multimedia dan kamera yang makin maknyuuus.

Sama halnya dengan kompetisi yang diinginkan terjadi di sector ketenagalistrikan, diharapkan akan dihasilkan harga jual listrik yang lebih murah bagi konsumen, teknologi yang makin berkembang yang menyebabkan listrik menjadi reliable. Mengalirnya iklim investasi yang memberi banyak lapangan kerja.

Komponen Dasar Electricity Market

Sama halnya dengan pasar jenis lain, electricity market memiliki komponen yang serupa seperti adanya penjual dan pembeli, ada komoditi yang diperjualbelikan, ada alat tukar yang digunakan dan ada aturan main perdagangannya. Komponen yang terakhir merupakan bagian yang paling menarik untuk dibahas sebab merupakan pembahasan holistic yang menyatukan sisi enjiniring dengan ekonomi. Secara umum, model dari deregulated electricity market adalah sebagai berikut :

Dari model di atas, mayoritas komponen merupakan komponen yang lumrah ditemui di bidang ketenagalistrikan. Namun komponen seperti wholesaler dan retailer hanya ditemui di deregulated electricity market. Wholesaler atau pemborong besar dapat diartikan sebagai orang ketiga yang mempertemukan antara penjual dan pembeli. wholesaler dapat berupa pool market yang didalamnya terdapat proses bidding dan auction dari penjual dan pembeli. mekanisme biddingnya pun bisa terbuka dan tertutup, begitu pula hasil auction nya. Saya akan membahas lebih detail tentang hal ini di artikel yang berbeda. Sedangkan retailer adalah pembeli listrik yang dia menjual lagi listrik tersebut dengan skala kecil.

Seperti itulah gambaran umum dari deregulated electricity market. Tentu saja ini hanya kulit kulitnya saja, ke depannya saya berencana menulis beberapa aspek detail dari hal ini. Tulisan ini pun tidak menggiring opini bahwa Negara kita perlu menerapkan hal ini walaupun saya sendiri memiliki pandangan tentang konsep ketenagalistrikan yang berbeda dengan saat ini dan meng-encourage kompetisi di sector ketenagalistrikan, masih ada pertimbangan lain, selain itu pun jenis deregulated electricity market pun berbeda beda tergantung kondisi dari wilayah tersebut.

Iklan

November 4, 2010 Posted by | Keelektroan | Tinggalkan komentar

Galau

galau, barangkali itu perasaan yang berkecamuk dalam hati saya. hal ini terkait tugas akhir saya yang memaksa saya mengetahui sedikit tentang konsep ekonomi liberalis-kapitalis.

ya, tugas akhir saya tentang bisnis ketenagalistrikan yang sempat membuat saya terkesima dengan konsep ekonomi yang ditawarkan adam smith. konsep yang mendorong saya berkeyakinan bahwa deregulasi akan membuat iklim bisnis lebih kompetitif adapun ekses negatifnya bisa diselesaikan dengan aturan main yang disepakati bersama. teori teori tentang efisiensi yang dihasilkan dari iklim yang kompetitif yang membuat tidak ada pihak yang dirugikan, konsumen mendapatkan surplus dan produsen memperoleh maksimalisasi profit. konsep konsep keseimbangan pasar yang menggairahkan investasi dalam negeri.

berjalan jalan ke gramedia dan terantuk pada buku pa amien rais membuat saya berpikir ulang tentang keyakinan saya. hal ini terjadi saat saya membaca bab tentang otokritik oleh joseph stiglitz yang dipaparkan dalam buku itu mengenai konsep ekonomi barat. bahwasanya tidak ada invisible hand seperti kata adam smith, namun pihak yang menguasai informasilah yang akan menang.

hal itu membuat saya berpikir bahwa kekuatan pasar yang selama ini menjadi perhatian saya dalam merancang sistem bisnis ini akan selalu ada meskipun kecil dan saat menemukan momennya-saya khawatirkan- akan chaos.

namun, saya juga berpikir, apa yang saya lakukan dan pelajari adalah bentuk manajemen pengelolaan industri ketenagalistrikan yang saya coba cari di ketentuan syar’i tidak pernah di singgung. dan hanya berkaca pada baratlah saya bisa mempelajari pengelolaan industri ketenagalistrikan tersebut. saya tahu sebuah resiko besar yang mungkin terjadi, bila suatu saat sistem saya diimplementasikan di indonesia dan saya membuat kesalahan dengan gagal mengantisipasi ekses buruk, maka bisa jadi kelompok  sejenis mafia berkeley akan kembali muncul.

namun saya juga tahu bila diimplementasikan dan berhasil, maka pahala Allah akan mengalir karena memberi kemanfaatan bagi banyak orang.

tapi, kalaupun tidak diimplementasikan, sekali lagi tidak ada yang kebetulan. berarti Allah berbaik hati pada saya bahwa eksesnya akan buruk.

Juli 11, 2008 Posted by | Keelektroan, my stuff and I | Tinggalkan komentar

kenapa bahan bakar fuel mahal ?

pertama kali ngebaca tulisan diatas pasti mikirnya karena harga minyak dunia mahal..emang bener, ini itung itungan lengkapnya…

kita tau kalo harga minyak sekarang kan 6800 rupiah/liter. sedangkan SFC (specific Fuel consumtion) dari minyak itu sekitar 0.27 liter/kWh..maka biaya penggunaan minyak sebagai bahan bakar ini akan memakan biaya sebesar 6800×0.27 atau sebesar 1700 rupiah/kWh…bandingkan dengan harga perkWh listrik saat ini yang sebesar 600 rupiah/kWh. rugi 1100 rupiah per kWh nya..yah bayangin aja ada berapa orang yang make listrik seindonesia dan konsumsi kWh perharinya..

Desember 15, 2007 Posted by | Keelektroan | Tinggalkan komentar

Hapus Kekhawatiran Tentang PLTN

Meskipun belum dibangun secara fisik, pembangunan PLTN di Muria telah memicu kekhawatiran banyak pihak akan keamanannya. Tak bisa dipungkiri, tragedy Chernobyl yang terjadi tanggal 26 April 1986 telah menyisakan efek traumatis bagi dunia tak terkecuali bangsa Indonesia. Trauma ini menjadi simalakama bagi Indonesia tatkala bangsa ini dihadapkan pada krisis energi yang ditandai dengan semakin meroketnya harga bahan bakar fosil dunia.

Sebenarnya wacana pembangunan PLTN di Muria sendiri telah beredar pada dekade 70an. Rencana pembangunannya sendiri dimulai tahun 1988. Akan tetapi, hantaman ekonomi yang melanda Indonesia telah membuat pembangunan PLTN ini batal.

Kemudian, krisis energi yang melanda dunia memaksa wacana ini muncul kembali ke permukaan. Pembangunan PLTN pun kembali direncanakan di Semenanjung Muria, jawa tengah. Pembangunan fisiknya sendiri akan dimulai tahun 2010 dengan perkiraan biaya sektar 35 trilyun rupiah. PLTN ini diharapkan akan mensolusikan krisis listrik Jawa Bali dengan memasok sekitar 7000 MW.

Rencana ini pun memicu demonstrasi besar – besaran di Kota Kudus. Bahkan, Bupati kudus sendiri mendukung aksi tersebut. Ketidakkompakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah kudus ini pun semakin membuat masyarakat semakin larut dalam nuclearphobia.

Nuklir sebagai sumber energi masa depan

Sebagai pembangkit daya, nuklir memiliki keunggulan dibanding pembangkit daya lainnya. Keuntungan yang sangat signifikan yaitu memiliki ketersediaan bahan bakar yang melimpah dan biaya bahan bakarnya rendah. Selain itu, dalam pengoperasiannya secara normal sebagai pembangkit daya, nuklir tidak menghasilkan gas rumah kaca dan tidak mencemari udara.

Hal ini tentu saja jauh lebih unggul daripada PLTU batubara yang dalam pengoperasiannya menghasilkan gas – gas SOx, NOx, COx, dan logam – logam berat seperti Pb, Hg, Ar, Ni, Se yang jauh melebihi kadar normal di sekitar PLTU. Gas SOx sendiri menjadi pemicu gangguan paru – paru dan penyakit pernafasan. Sedangkan gas NOx menjadi penyebab hujan asam apabila bereaksi dengan gas SOx yang berakibat bburuk bagi peternakan dan pertanian. Gas COx sendiri akan menyebbkan efek rumah kaca yang berperan dalam pemanasan global bumi.

Dalam segi pembangunan pembangkit dayanya pun PLTN lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan pembangkit lain yang menggunakan bahan bakar fosil. PLTN digolongkan sebagai investasi dengan modal tinggi namun memiliki biaya rutin rendah. Sedangkan pembangkit berbahan bakar fosil digolongkan sebagai investasi dengan modal rendah, namun memiliki biaya rutin tinggi. Tentunya dari segi anggaran, akan sangat menguntungkan bila memanfaatkan nuklir sebagai pembangkit daya.

Sumber ketakutan masyarakat

Ketakutan utama masyarakat terhadap nuklir adalah dalam hal operasional, kemanan, keselamatan, dan limbah nuklir. Masyarakat masih larut dalam trauma chernobyl yang membuat mereka kurang open mind dalam menyikapi masalah ini. Bila menilik kasus Chernobyl sendiri, kecelakaan tersebut memang diakibatkan oleh human error saat akan dilaksanakan maintenance di reaktor 4. reaktor 4 sendiri adalah reaktor tempat terjadinya kecelakaan tersebut. Kecelakaan tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pengalaman training dari operator. Sehingga ada beberapa prosedur yang tidak biasa yang dilakukan. Salah satunya adalah dimatikannya beberapa sistem keamanan dan keselamatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan berdasarkan petunjuk teknis pengoperasiannya.

Hal lain yang turut berkontribusi bagi ketakutan masyarakat adalah polusi PLTN sendiri yang berupa radiasi radioaktif. Kekhawatrian akan hal ini sangatlah berlebihan, sebab telah terbukti bahwa secara rata-rata untuk seorang yang tinggal sampai 1 km dari sebuah reaktor nuklir, dosis radiasi yang diterimanya dari bahan-bahan yang dipakai di reaktor tersebut adalah kurang dari 10% dari dosis radiasi alam (dari batuan radioaktif alami, sinar kosmis, sinar-sinar radioaktif untuk maksud-maksud medis) . maka, sebenarnya kekhawatiran akan polusi radiasi ini tidak perlu ada.

Yang cukup menjadi perhatian saat ini adalah penanganan limbah nuklir. Sebab, limbah PLTN ini memiliki konsentrasi radiasi yang cukup tinggi, sehingga membutuhkan penanganan khusus. Selama ini, penanganan sisa bahan bakar dengan radiasi tinggi dilakukan dengan cara disimpan sementara di kolam-kolam penampungan sehingga efek radiasi yang ditimbulkannya dapat diabaikan.

Kewaspadaan bukan ketakutan

Dari berbagai macam respon yang ditunjukkan masyarakat, bisa ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan masyarakat memandang realitas sosial ini dengan orientasi nilai negatif yang pada akhirnya memunculkan ketakutan terhadap ilmu pengetahuan, yang dalam hal ini adalah nuklir. Maka dari itu, perlu dilakukan pendekatan struktural dan yang lebih utama adalah kultural.

Disinilah peran strategis manusia dalam pengembangan teknologi. Sebab, bagaimanapun juga, pembangunan teknologi nuklir ini adalah untuk manusia juga pada akhirnya, sehingga hal yang harus dipersiapkan dengan baik adalah manusianya pula.

Pemahaman tentang teknologi nuklir harus dilakukan pemerintah, sehingga persepsi nilai yang berkembang di masyarakat bukan ketakutan, namun kewaspadaan. Persepsi ini penting untuk membuat masyarakat kita lebih open mind terhadap teknologi terutama nuklir. Selain itu, persepsi nilai kewaspadaan akan mampu meminimalisir kemungkinan terjadinya human error dalam pengoperasian PLTN kelak.

Pemahaman tentang nuklir ini bisa dilakukan lewat dua jalan, yaitu top down dan bottom up. Pada pemberian pemahaman dengan jalan top down, pemerintah harus mampu menjadi supervisor yang mengawasi secara ketat pembangunan, dan pengoperasian PLTN sesuai standar yang diberikan IAEA. Di sini pemerintah harus memainkan perannya dalam tataran struktural. Sedangkan pemahaman dengan jalan bottom up, pemerintah harus mampu menjadi motor pembongkaran paradigma dalam perencanaan pembangunan nuklir terutama dalam tataran sosial budaya. Hal ini didasarkan pada pemahaman yang berkembang saat ini di masyarakat yang banyak dilatarbelakangi tingkat pengetahuan, harapan, bahkan ketakutan dan kekhawatiran masyarakat. Maka dari itu, pendekatan ini haruslah bersifat kultural sehingga mudah diterima masyarakat.

Dalam menyikapi masalah inipun, masyarakat harus tetap open mind. jangan mudah terjebak oleh stigmatisasi nuklir yang digiring ke persepsi negatif. Masyarakat harus membuka mata bahwasanya kebutuhan akan energi yang terbarukan dalam jumlah besar sangat diperlukan, dan nuklir mampu menyediakannya. Sehingga, persepsi yang terbentuk bukan ketakutan, namun kewaspadaan dalam pengelolaan nuklir untuk tujuan damai. Sehingga masyarakat, khususnya lembaga lingkungan hidup, dapat menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah supaya tetap menjamin keselamatan dan keamanan lingkungan.

Maka dari itu, yang harus diutamakan adalah dibukanya dialog dari hati ke hati antara pemerintah dan masyarakat dalam permasalahan PLTN ini. Masing – masing pihak harus saling memahami kondisi riil yang terjadi baik itu mengenai krisis energi maupun kekhawatiran dari masyarakat sendiri. Selain itu, dialog ini diharapkan akan membuka kesempatan bagi pembagian peran antara pemerintah dan masyarakat yang termasuk di dalamnya lembaga lingkungan hidup, sehingga mampu menciptakan mekanisme pelaksanaan dan pengawasan terhadap operasional PLTN.

Simpulan

Nuklir telah menjadi sebuah solusi tersendiri dalam menghadapi krisis energi yang melanda Indonesia. Kelebihan nuklir sebagai pembangkit daya pun telah terbukti baik dari segi daya yang dihasilkan maupun terhadap lingkungan apabila dijalankan sesuai prosedur yang menjamin keamanan dan keselamatan sesuai dengan regulasi IAEA. Maka dari itu, perlu ada dialog dari hati ke hati antara pemerintah dan masyarakat termasuk lembaga lingkungan hidup sehingga ada kerjasama yang konstruktif dalam pengelolaan dan pengawasan operasional PLTN ini.

November 26, 2007 Posted by | kebangsaan, Keelektroan | 3 Komentar

Next Contribution

barusan di sms, diminta bantuin proyek perhitungan susut daya di saluran PLN oleh dosen. proyek ini akan ditangani oleh akademisi dri berbagai universitas dan institut di Indonesia.

excited? sure

karena

1. dari segi keelektroan, susut daya adalah suatu masalah jaringan yang bisa diakibatkan faktor teknis dan nonteknis. faktor teknis biasa dipengaruhi oleh komponen atau alam misalnya petir, material kabel, atau konfigurasi jaringan (semakin kabel itu panjang, maka resistensi akan jauh lebik kecil dari kapasitansi dan induktansi) dn faktor nonteknisnya, biasanya disebabkan karena manusia yang mementingkan kepentingan sendiri, misalnya nyolong listrik atau ngutak – ngatik meteran (kWh meter).

2. dari segi ilmu sosial kemasyarakatan, kesempatan ini akan menjadi study case saya sebelum terjun ke msyarakat nanti. apalagi saya berkeinginan berkontribusi di PLN yang erat kaitannya dengan pelayanan listrik pada masyarakat.

keterlibatan dalam perhitungan susut daya ini akan mengajarkan kepada saya banyak hal. baik dalam segi keelektroan maupun dalam memahami kondisi sosial kemasyarakatan bangsa Indonesia sendiri. teringat kata – kata bung hatta bahwasanya pertanyaan klasik yang dihadapi kaum cendekia adalah apakah ia akan turun menyelesaikan permasalahan di msyarakat ? pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan positif oleh kaum cendekia jikalau memang kaum cendekia tersebut bisa memahami ilmu dalam kerangka yang integral dan holistik tidak ada sekat – sekat yang mambatasinya baik antara ilmu sosial dengan ilmu eksakta maupun ilmu politik dengan ilmu bahasa (soalnya bahasa sering diplintirin di politik ^^).

saya sendiri memahami keengineeringan sebagai salah satu solusi bagi permasalahan Indonesia. dalam keelektroan sendiri apalagi ketika membicarakan bidang transmisi daya listrik, kita akan menemukan paradoks yang memilukan dalam kehidupan bangsa ini. PLN sebagai perusahaan yang menguasai jaringan listrik tanah air tetap dirudung kerugian. memang korupsi ditengarai sebagai penyebab utama, namun tak menutup kemungkinan aspek teknis pun berkontribusi besar termasuk susut daya ini. maka solusi untuk masalah teknis pastinya menjadi tugas seorang engineer. menilik dari hasil yang telah ditorehkan BUMN lain seperti REKIN yang telah menuliskan tinta emas prestasi bagi bidang rekayasa teknologi tanah air yang luar biasa dengan mampu membangun kilang minyak bagi pertamina, telah memanjangkan nafas harapan bagi cerahnya masa depan teknologi tanah air. dan dalam melihat semuanya, kita jangan melihat dari jaman sekarang saja, lihat bagaimana REKIN dibangun. bagaimana totalitas para pendirinya (salut untuk Pak Triharyo <Hengki> ) Dirut Rekin atas idealismenya. dan saya ingin hal itu terjadi di PLN pula.

p ada akhirnya, “janganlah bertanya apakah yang bisa negara berikan pada anda, namun tanyakan apakah yang bisa anda berikan pada negara”

November 16, 2007 Posted by | kebangsaan, Keelektroan | 3 Komentar

Diversifikasi Pelayanan Jasa Listrik Untuk Meningkatkan Ratio Elektrifikasi Indonesia

 Salah satu tolok ukur kepuasan pelanggan di suatu Negara atas pelayanan jasa penyediaan listrik bisa dilihat dari ratio elektrifikasi. Semakin tinggi ratio elektrifikasi suatu Negara, maka akan semakin banyak masyarakat yang mampu menikmati pelayanan listrik.

Banyaknya masyarakat yang menikmati pelayanan listrik menandakan energy listrik yang didistribusikan cukup melimpah sehingga mampu mencukupi kebutuhan banyak orang. Bila energy listrik yang didistribusikan mampu mencukupi kebutuhan banyak orang yang ditandai dengan tingginya ratio elektrifikasi, maka diasumsikan tingkat kepuasan pelanggan cukup tinggi karena tidak perlu ada pemadaman bergilir, maupun pemadaman akibat kelebihan beban.

Selain itu, tingginya ratio elektrifikasi menunjukkan pula pemerataan pembangunan daerah. Suplai energi yang cukup ke daerah menyebabkan investasi bisa berjalan dengan lancar. Hal ini disebabkan berkurangnya kekhawatiran investor akan kekurangan asupan daya bagi industrinya. Apabila investai ke daerah lancar, maka tentu saja pendapatan asli daerah akan bertambah dan pengangguran akan berkurang.

Di Indonesia sendiri, ratio elektrifikasi baru sekitar 57 %. Artinya baru sekitar 57 % penduduk Indonesia atau sekitar 150 juta penduduk Indonesia yang dapat menikmati pelayanan jasa listrik. Sedangkan 43 % lainnya, atau sekitar 86 juta penduduk masih belum bisa menikmati jasa listrik. Tentu saja mereka yang belum bisa menimati jasa listrik ini berada di bawah garis kemiskinan. Ironisnya, penyediaan jasa listrik mendapat subsidi yang cukup besar dari pemerintah. Untuk tahun 2007 ini, subsidi listrik yang diberikan pemerintah mencapai 25.8 trilyun rupiah. Artinya, subsidi dari pemerintah yang lebih dari 25 trilyun rupiah ini hanya dinikmati oleh 57 % penduduk yang pada umumnya berada dalam kondisi ekonomi yang cukup mampu. Kebijakan ini tentu saja tidak berpihak pada golongan ekonomi lemah yang direpresentsikan dengan angka 43 % diatas. Maka dari itu, dibutuhkan suatu metode untuk memperluas jangkauan pelayanan jasa listrik hingga mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Metode ini harus mampu mengarifi fakta – fakta yang dialami bangsa Indonesia, misalnya tidak semua rakyat Indonesia mampu membayar tagihan iuran listrik. Hal ini bisa dilihat dari kontradiksi antara tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia dengan harga tarif dasar listrik yang ditetapkan. Tarif dasar listrik Indonesia yang memcapai US$ 6.5 sen per kWh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia (US$ 6.2 sen per kWh), Thailand (US$ 6.0 sen per kWh), dan Vietnam (US$ 5.2 sen per kWh). Sedangkan dalam tingkat kesejahteraan rakyatnya, yang salah satu tolok ukurnya adalah indeks pembangunan masyarakat, Indonesia berada di bawah keempat negara diatas. Maka, besarnya tarif dasar listrik yang tidak diimbangi dengan baiknya kesejahteraan rakyat mengakibatkan listrik tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Di sisi lain, pembanguan jaringan transmisi dan distribusi untuk mengatasi krisis energi listrik memakan dana yang tidak sedikit. PT PLN (Persero) akan investasi sekitar Rp 10 triliun untuk membangun jaringan transmisi listrik di seluruh wilayah Indonesia. anggaran pembangunan jaringan transmisi itu akan diambil dari APBN sekitar Rp 5 triliun, anggaran perseroan sekitar Rp 2,5 triliun. Sisanya berupa kredit ekspor yang berasal dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC)1 dan Asian Development Bank (ADB)2.Di lain pihak, PLN terus menerus didera kerugian yang diakibatkan lossless energi listrik. Pada tahun 2006, tercatat kerugian PLN mencapai 1.08 Trilyun rupiah. Artinya, subsidi yang diberikan pemerintah saat ini kepada PLN tidak bisa diimbangi dengan keuntungan operasional, malah kerugianlah yang harus ditanggung pemerintah.

Untuk menyelesaikan permasalahan diatas sembari meningkatkan ratio elektrifikasi sehingga mampu meningkatkan kepuasan pelanggan dan memfasilitasi pembangunan daerah, dibutuhkan metode yang fleksibel tergantung dari kondisi medan jual energi listrik di lapangan. Sehingga diversifikasi pelayanan jasa penyediaan energi listrik mutlak diperlukan.

Diversifikasi ini dibagi menjadi tiga segmen pasar yaitu masyarakat pedesaan, masyarakat umum, dan kota industri. Masing – masing segmen mendapatkan pelayanan yang berbeda disesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Perbedaan pelayanan ini tidak dimaksudkan untuk memberi banyak fasilitas kepada satu fihak, sedang di sisi lain ada fihak yang dirugikan. Perbedaan ini lebih karena didasarkan atas kebutuhan dari masing – masing segmen yang memang berbeda.  

Pelayanan bagi masyarakat pedesaan

Kebutuhan daya bagi masyarakat pedesaan berkisar di angka 450 Watt. Data ini didasarkan pada barang – barang elektronik yang dipunyai masyarakat pedesaan tidak memkan daya listrik yang terlampau besar. Kebutuhan daya ini bisa lebih kecil lagi untuk daerah – daerah yang memang tertinggal dan belum mendapat pelayanan jasa listrik. Kebutuhan daya yang kecil ditambah dengan jumlah konsumen yang tidak terlalu besar menyebabkan pemberian suplai daya melalui jaringan transmisi jarak jauh menjadi tidak ekonomis. Solusi terbaik untuk melistrikkan masyarakat pedesaan ini adalah dengan pembangkit daya skala kecil yang dibangun di sekitar daerah tersebut.

Pemilihan sumber energi bagi pembangkit daya pun harus didasarkan pada potensi pedesaan tersebut. Misalkan, desa tersebut adalah desa agraris, maka energi yang cocok bagi pembangkit daya desa adalah energi biomassa. Sedangkan, apabila desa tersebut memiliki potensi mikrohidro, maka PLTA mikrohidro menjadi solusi terbaik bagi elektrifikasi daerah itu.Untuk lebih menghemat biaya operasional, lebih baik pembangkit daya ini dikelola masyarakat setempat. Bentuk pengelolaannya bisa berupa usaha swadaya masyarakat maupun koperasi unit desa. Di satu sisi, PLN tidak akan dirugikan dengan menambah jumlah SDM untuk mengoperasikannya, di sisi lain, selain mendapat keuntungan karena harga listrik yang murah, wawasan masyarakat desa bisa berkembang, baik dalam pengetahuan teknis maupun dalam segi ekonominya. Dalam segi pengetahuan teknis, masyarakat akan mampu mengerti pengelolaan stasiun pembangkit listrik, dan perawatannya. Dalam segi ekonomi, masyarakat akan mampu mengerti menjalankan suatu usaha dalam hal ini usaha penyediaan energi listrik dalam lingkup kerjasama profesional. Dalam hal ini, peran yang bisa diambil PLN bisa berupa mitra bisnis, distributor, dan pendamping operasional. PLN sebagai mitra bisnis berarti PLN akan memposisikan dirinya sebagai pembeli listrik dari badan usaha milik masyarakat tersebut. Sedangkan PLN sebagai distributor artinya PLN akan mendistribusikan daya yang dibangkitkan tersebut ke masyarakat setempat.

PLN sebagai pendamping operasional memiliki pengertian bahwa PLN menjadi rujukan bagi masyarakat apabila ada masalah dengan pembangkitan energi listriknya. 

Pelayanan bagi masyarakat umum

Bagi masyarakat umum, daya yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari – harinya berkisar di angka 900 – 1300 MW. Kebutuhan barang elektronik yang telah menjadi salah satu gaya hidup menyebabkan angka ini cukup mewakili kebutuhan energi listrik masyarakat umum Indonesia. Pelayanan yang paling tepat bagi masyarakat umum ini adalah pelayanan yang telah ada sekarang. Jumlah konsumen yang banyak dan tersebar di seantero Indonesia menyebabkan diperlukan jaringan transmisi dan distribusi yang andal guna menjamin kepuasan pelanggan. Masalah yang harus diatasi dalam pelayanan listrik bagi masyarakat umum ini adalah pencurian listrik, bahan bakar pembangkit, dan keandalan jaringan transmisi dan distribusi. Ketiga masalah diatas harus segera memiliki solusi sehingga transmisi dan distribusi listrik di tanah air mampu memberikan keuntungan signifikan bagi pemerintah.

Keandalan sistem jaringan transmisi dan distribusi di tanah air dapat ditingkatkan dengan melakukan penyeimbangan antara jumlah penjualan dan konsumen dengan pembangunan saluran transmisi dan distribusi baru. kondisi transmisi dan distribusi selama 5 tahun ini, pembangunannya justru tidak seimbang dengan tambahan penjualan dan konsumen. Kondisi ini mengakibatkan jaringan transmisi dan distribusi mengalami kepadatan, konsekuensinya apabila sudah terlalu padat maka dilakukan pemadaman. Peningkatan keandalan sistem ini sangat bergantung pada investasi. Akibat menurunnya investasi dalam 5 tahun terakhir, kepadatan transmisi dan distribusi meningkat secara signifikan. Kerjasama dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan konstituennya amat dibutuhkan untuk mensolusikan masalah ini. Inti dari masalah keandalan sistem ini adalah kurangnya investasi. Kurangnya investasi ini salah satunya disebabkan oleh instabilitas keamanan nasional. Maka dari itu, pemerintah harus mampu menjamin stabilitas nasional dengan menunjukkan good governance sehingga rakyatnya memiliki kepercayaan pada pemerintah sehingga anarki bisa dihindarkan. Kondisi sekarang, pemerintah kurang menunjukkan adanya itikad baik untuk menyelenggarakan good governance yang ditunjukkan oleh masih maraknya korupsi, kesenjangan sosial antara pemerintah dan rakyat yang besar, serta kebijakan – kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat misalnya kenaikan harga sembako maupun tarif dasar listrik.

Untuk permasalahan bahan bakar bagi pembangkitan listrik, hal yang harus segera diupayakan adalah mencari sumber energy lain selain minyak mentah. Hal ini disebabkan harga minyak mentah yang semakin membumbung tinggi. Data per-september 2007 menunjukkan bahwa harga minyak mentah saat ini telah mencapai US$ 77.86 per barel.  Di sisi lain, konsumsi BBM PLN malah meningkat menjadi 9 juta kiloliter per tahun. Hal ini diakibatkan beralihnya masyarakat yang semula munggunakan diesel menjadi konsumen PLN akibat harga BBM yang jauh lebih mahal dari harga listrik PLN. Penggunaan BBM oleh PLN yang semakin membesar mengakibatkan banyak kerugian yang harus ditanggung PLN sendiri, Pertamina, Pemerintah, dan BP Migas.

Batubara saat ini dipandang sebagai solusi yang terbaik guna menggantikan BBM. Tapi benarkah demikian ? Saat ini Indonesia adalah pengekspor terbesar batubara. Di sisi lain, faktanya bahwa Indonesia adalah yang paling sedikit memiliki cadangan batubara dari lima eksportir batubara terbesar di dunia saat ini. Indonesia hanya memiliki 12 milyar ton cadangan batubara, yang nilai ini amat jauh dibandingkan dengan rusia yang cadangan batubaranya mencapa 157 milyar ton dan china yang sebanyak 114 milyar ton. Saat ini PLN membutuhkan sekitar 70 juta ton batubara untuk memenuhi kebutuhan delapan proyek PLTU yang menjadi bagian proyek 10.000 MW. Sedangkan tingkat ekspor batubara kita mencapai 123.3 juta ton per tahun. Bila melihat kondisi sekarang, bisa diramalkan bahwa dalam tempo 10 tahun, cadangan batubara kita akan habis. Maka, akankah kita tetap bertahan dalam mengupayakan batubara sebagai sumber energy utama setelah BBM ?Solusi yang terbaik dalam mengupayakan energy utama bagi pembangkitan listrik adalah dengan mencari sumber energy terbarukan. Sumber energy terbarukan banyak macamnya mulai dari air, biomassa, nuklir, angin, solar cell, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, sumber energy seperti air, angin, biomassa, solar cell tidak mampu menghasilkan daya dalam jumlah besar. Indonesia harus segera beralih ke sumber energy nuklir untuk segera mengatasi krisis energy ini. Memang dalam mengupayakannya terasa berat, tentangan timbul di mana – mana, namun sudah sepatutnya pemerintah berusaha mengkomunikasikan hal ini dengan masayrakat luas sebelum semuanya terlambat. Kita dihadapkan pada fakta bahwa kita harus segera meninggalkan sumber energy tak terbarukan dalam jangkan waktu 10 tahun, jika tidak maka kelistrikan nasional akan lumpuh, dan nuklir adalah solusi potensial dalam mengatasi krisis energy listrik.

Sedangkan masalah pencurian listrik, harus bisa disolusikan secara teknik, hukum, dan kultural. Solusi secara teknik bisa digali dengan mencari sebuah metode guna mendeteksi pencurian listrik dan mengatasinya. Sedangkan solusi secara hokum telah ada di Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan bahwa pelaku pencurian aliran listrik dapat dikenakan hukuman denda maksimal sebesar Rp. 500.000.000,- dan hukuman pidana maksimal 5 tahun. Pencurian listrik dan perusakan peralatan milik PLN juga dapat diancam pidana berdasarkan beberapa Pasal di dalam KUHP. Maka yang perlu diupayakan semaksimal mungkin adalah solusi secara kultural.Solusi secara kultural harus dimulai dengan membenahi paradigma seluruh elemen bangsa. Paradigma mendahulukan kepentingan umum dan Negara diatas kepentingan pribadi masih susah terbentuk di hampir seluruh strata masyarakat. Tentunya ini menunjukkan bahwa proses nation and character building masih jauh dari sasaran. Pembangunan karakter bangsa inilah yag harus menjadi prioritas utama bagi seluruh elemen bangsa khususnya pemerintah dalam menyelaraskan arah gerak sebagai bangsa. Maka, bila kita semua telah memiliki paradigm mendahulukan kepentingan umum dan Negara diatas kepentingan pribadi, pencurian listrik bisa diminimalisir.

 Pelayanan bagi kota industri

Kebutuhan daya listrik bagi Industri berkisar antara 20 kW hingga 1 MW. Sehingga tidak heran banyak industry yang memiliki instalasi pembangkit listrik sendiri. Namun, apabila PLN mampu mensuplai listrik bagi industry, maka kota industry ini adalah pasar yang potensial bagi PLN. Bila melihat kondisi PLN sekarang memang belum mampu mensuplai kebutuhan daya yang besar dari kota industry ini. Sehingga, untuk mampu mengupayakan keuntungan yang besar dari kota industry ini, konsep komersialisasi pasar listrik bisa menjadi solusi alternatif bagi PLN.Konsep pasar listrik telah diimplementasikan di Amerika dengan regulasi yang telah ditetapkan tahun 2003. Komisi Federal Pengaturan Energi Amerika Serikat (FERC) telah mengajukan platform pasar listrik di Amerika untuk diimplementasikan di seantero Amerika. Konsep dari system ini adalah bahwasanya suplai listrik perjam dari suatu region ditawarkan kepada pihak swasta untuk mensuplainya. Penawaran ini dilakukan H – 1 dari hari pelaksanaan pensuplaian listrik pada region tersebut.Indonesia belum siap untuk melakukan sistem ini diseantero nusantara.

Namun, apabila dilakukan di kota Industri, konsep ini memiliki prospek yang cukup cerah. Selain mampu mengatasi kebutuhan daya listrik yang tidak mampu disuplai PLN, konsep ini akan mendatangkan investai pula dari luar negeri dalam hal ini pihak swasta yang hendak melakukan bidding. Yang harus diperjelas dalam konsep ini adalah kedudukan PLN dan pihak swasta sehingga ada kejelasan system pengaturan dan jangan sampai terjadi non-technical error yang mampu berakibat kelumpuhan suplai energy bagi kota industry ini. Kedudukan PLN dalam system ini adalah tetap sebagai distributor listrik, sedangkan kedudukan pihak swasta adalah produsen energy listrik. Perbedaannya dengan konsep yang ada sekarang adalah dari konsep penyediaan listrik perharinya. Setiap hari PLN mengadakan tender kepada swasta tentang penyediaan listrik perjam esok harinya. Hal ini memungkinkan swasta melakukan bidding dengan harga yang bersaing. Konsep ini mungkin relatif baru di Indonesia.

Maka perlu ada regulasi khusus bila konsep pasar listrik ini diimplementasikan. Satu hal yang harus digarisbawahi dalam pasar listrik ini adalah kedudukan PLN sebagai distributor tunggal tidak boleh diusik. Hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga harga listrik di kota industri tersebut.

Ketiga bentuk pelayanan diatas dimaksudkan agar pelayanan listrik tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi pelanggan. Konsekuensi yang timbul adalah harga listrik di masing – masing zona pelayanan akan berbeda satu sama lain. Namun hal ini harus diimbangi dengan kualitas pelayanan yang memang juga berbeda. Akan tetapi, konsep pelayanan di suatu zona tentunya akan berganti seiring dengan tingkat kemajuan daerah tersebut. Misalnya, suatu daerah menggunakan model pelayanan bagi masyarakat pedesaan ternyata mengalami perkembangan yang pesat di segala bidang. Maka PLN harus siap untuk mengadakan transformasi pelayanan. PLN tidak perlu risau dengan dana yang besar, sebab dari pelayanan bagi kota industry, PLN mampu meraih untung sebesar mugkin. Bila diberi porsi antara orientasi profit dan orientasi social, pelayanan pedesaan memiliki porsi sosial yang jauh lebih besar. Sedangkan pelayanan umum memiliki porsi seimbang. Untuk pelayanan bagi kota industry, orientasi profit lebih diutamakan dari orientasi sosial. Pada akhirnya, tujuan diadakannya diversifikasi pelayanan jasa listrik adalah untuk mengakselerasi perkembangan daerah dan meningkatkan ratio elektrifikasi di Indonesia. Selain itu, kondisi kebutuhan daya yang memang berbeda di masing – masing zona membuat PLN harus mampu menyediakan dana secara proporsional, tidak kurang dan tidak pula lebih. Maka, apabila pelayanan PLN mampu dinikmati semua pihak baik masyarakat pedesaan, umum, dan indutri dengan memuaskan, electricity for a better life akan menemukan momennya. 

September 23, 2007 Posted by | kebangsaan, Keelektroan | 2 Komentar

Menyoal Penggunaan Listrik Selama Ramadhan

Ramadhan selalu menjadi momen dimana jam aktivitas manusia meningkat. Imbasnya, pemakaian listrik sebagai sarana penunjang aktivitas pun meningkat. Hal ini bisa dilihat dari perubahan jam beban puncak yang pada bulan lain berkisar antara jam 17.00 – 22.00, pada bulan Ramadhan ini bertambah dari jam 03.00 – 06.00, saat dimana umat muslim tengah melakukan makan sahur dan ibadah lainnya.  Penambahan jam beban puncak ini menimbulkan masalah bagi daerah – daerah yang memang kekurangan pasokan daya.  Seperti yang terjadi di Bengkulu, gempa yang terjadi mengakibatkan kinerja pembangkit daya terganggu hingga sampai ke Sumbagut. Kondisi jaringan listrik Sumatra ini semakin parah dengan beban berlebih yang dialami provinsi Lampung dimana beban puncaknya mencapai 360 MW padahal kapasitas suplai dayanya sendiri berkisar di angka 298 MW. Di Pulau Jawa, yang relatif tidak memiliki masalah terhadap suplai energy listrik nampaknya tidak bisa memanfaatkan kenikmatan penggunaan energy listrik ini untuk tujuan yang bermanfaat. Hal ini terlihat dari tingginya rating acara Ramadhan di televisi. Jam beban puncak sangat mungkin diakibatkan karena menyalanya televisi di seantero penjuru Indonesia. Jika acara yang ditonton menunjang prduktivitas dan religiusitas tentunya bukan masalah. Namun, berkaca dari tayangan Televisi kita, maka harapan itu terlalu jauh. Hal ini menimbulkan ironi tersendiri bagi kondisi kelistrikan tanah air. Di satu belahan daerah kekurangan pasokan listrik, di sisi lain penggunaan listrik tidak menunjang perlombaan kebaikan selama Ramadhan. Bahkan, hal itu mengesankan kekurangseriusan dalam menjalani Ramadhan dengan tontonan lelucon tanpa makna.  Realitas yang terjadi menggambarkan fakta tentang karakter kita sebagai sebuah bangsa. Memulai hari dengan suguhan lelucon tentunya sama sekali jauh dari makna produktivitas dan keseriusan berkarya. Ditambah lagi kekurangsadaran kita bahwa Negara ini tengah menghadapi krisis energy membuat kita adalah kumpulan orang – orang egosentris yang membentuk sebuah bangsa. Pada akhirnya, kepentingan bangsa sendiri terabaikan karena keinginan pribadi dalam hal yang kecil sekalipun seperti penggunaan fasilitas listrik negara. Pada akhirnya, sense of belonging masyarakat Indonesia terhadap bangsa dan Negara dipertanyakan. Listrik yang notabene hanya dinikmati oleh hanya 57 % masyarakat Indonesia, bahkan telah menikmati paket subsidi pula didalamnya, tidak bisa dimaksimalkan potensinya untuk menunjang produktivitas kerja. Hal ini bisa dilihat dengan tingginya rating televisi pada acara – acara yang kurang memiliki muatan pengetahuan dan lebih besar konten hiburannya. Di sisi lain, Negara terus menerus merugi akibat penggunaan listrik ini. Pada tahun 2006 kemarin, kerugian Negara akibat pelayanan listrik mencapai Rp. 1.08 Trilyun. Lantas, apakah pantas kita memanfaatkan fasilitas listrik Negara yang bahkan Negara pun rugi karenanya hanya untuk hiburan semata ? Memaknai kembali penggunaan listrik di ramadhanRamadhan memberi kesempatan bagi pribadi bahkan komunitas bangsa untuk berkontemplasi dan mengarifi dirinya serta lingkungannya. Paradigma bangsa ini dalam menyikapi fasilitas termasuk listrik harus dibenahi. Fasilitas selalu menjadi sebuah tuntutan yang selalu ingin terpenuhi bagi bangsa ini. Namun kita harus sadar, bahwa pemberian fasilitas tanpa bekal karakter dan sense of awareness hanya membuat fasilitas tersebut sedemikian melenakan dan menjauhkan dari realitas. Realitas bahwa tidak semua orang mendapatkan fasilitas yang sama. Maka, jadikan listrik ini sebagai sebuah fasilitas guna menunjang pelaksanaan ibadah Ramadhan menjadi lebih produktif dan lebih bermakna. Prinsip 3 M yaitu Mulai dari diri sendiri, mulai dari dari hal terkecil, mulai dari sekarang agaknya tepat untuk memulai sebuah revolusi besar karakter bangsa Indonesia salah satunya dalam penggunaan energy listrik ini. Prinsip yang harus dipegang dalam penggunaan energy listrik ini adalah prinsip kemanfaatan dan kolektivitas. Kedua poin diatas tidak seimbang proporsinya di konsumen listrik Indonesia. Proporsi yang paling besar adalah proporsi hiburan dan kenyamanan seperti pada penggunaan televisi dan Air conditioner yang memakan daya banyak. Pada akhirnya, mari jadikan Ramadhan kali ini sebagai sebuah wahana mendidik sense of nation dan sebagai wahana nation and character building Indonesia, dalam hal terkecil seperti penggunaan tenaga listrik sekalipun. Sebab, cara kita menyikapi hal yang kecil, menunjukkan pula cara kita menyikapi sesuatu yang besar.  

September 23, 2007 Posted by | kebangsaan, Keelektroan | Tinggalkan komentar