Artikulasi Hati dan Otak

Medan Aktualisasi Pemimpin Alternatif

Wacana pemimpin alternatif deras bergulir seiring makin dekatnya waktu pemilu dan kebosanan akan muka muka lama yang muncul kembali sebagai calon pemimpin bangsa ini. Belum lagi kemenangan barrack obama yang minus pengalaman, namun menghidangkan aroma perubahan pada pemilihan presiden AS. Akan tetapi, wacana ini perlu disinkronkan dengan realitas Bangsa Indonesia yang justru menghambat kemunculan pemimpin alternatif pada posisi puncak kepemimpinan bangsa. Sebab, kondisi saat ini memfasilitasi pemimpin alternatif hanya sebagai pemanis wacana politik semata.

Hambatan pertama kemunculan pemimpin alternatif adalah diberlakukannya UU pilpres yang menyatakan bahwa calon presiden harus didukung oleh kekuatan politik yang memiliki 25% kursi di legislatif dan 20% suara pada pemilu. Secara kalkulasi politik, hanya segelintir partai yang mampu memenuhi syarat tersebut, dan partai – partai tersebut jelas mengelus calon calon yang itu – itu saja.

Hambatan kedua datang dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Masyarakat Indonesia lebih memilih calon dengan popularitas tertinggi daripada calon dengan visi misi dan kapabilitas kepemimpinan yang mumpuni. Sinyalemen ini jelas terlihat dengan makin bertaburnya bintang bintang layar kaca yang berada di pentas politik, dan mayoritas sebagai badut penarik suara saja. Tentu saja hal ini bukan karena kebetulan calonnya artis, tapi lebih pada ke-paranoid-an parpol akan penurunan jumlah pemilih. Bahkan, mantan-mantan presiden Indonesia yang jelas gagal dalam masa kepemimpinannya menyatakan siap bertarung kembali dalam pemilihan presiden karena dukungan masyarakat Indonesia yang mengkultuskannya.

faktor inhibitor diatas jelas menjegal langkah pemimpin alternatif di ranah politik. Sehingga, kemunculan pemimpin alternatif di ranah politik akan sia sia. Maka dari itu, pemimpin – pemimpin alternatif perlu memikirkan kembali kemunculannya di ranah politik, atau lebih tepatnya memikirkan kembali medan perjuangan non-politiknya.

Lahan – lahan hijau yang masih bisa digarap oleh pemimpin alternatif adalah bidang ekonomi & bisnis, serta sosial-kemasyarakatan khususnya pencerdasan masyarakat. Kedua ranah tersebut merupakan ranah potensial yang bila digarap optimal akan mampu memfasilitasi jalan datangnya pemimpin alternatif di ranah politik. Letak potensi ranah ekonomi & bisnis, serta sosial kemasyarakatan ada pada potensi pemenuhan kebutuhan dasar manusia berupa sandang, pangan, rumah, dan pendidikan.

Bukan tidak mungkin masa depan kepemimpinan bangsa terletak pada figur figur pemimpin di ranah ekonomi&bisnis, serta sosial-kemasyarakatan. Dalam bidang ekonomi&bisnis, china telah membuktikan bahwa dengan semangat entrepreneurship, taraf hidup masyarakat China perlahan tapi pasti membaik hingga tahun 2005, PDB China 2,2638 Triliun US$ menjadikannya negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia, menggeser Inggris. Maka tidak heran China telah menjadi raksasa ekonomi dunia saat ini. Hal ini diimbangi pula perbaikan dalam sektor sosial-kemasyarakatan khususnya pencerdasan masyarakat China. Sebab, tanpa sumber daya manusia yang mumpuni, negara sekaya apapun cuma menjadi lahan yang diperebutkan pemilik modal dan penduduknya dijadikan kuli murahan.

Maka dari itu, jelas yang harus disadari oleh segenap pemimpin bangsa ini, baik yang alternatif maupun bukan, bahwa perjuangan pembangunan Indonesia tidak sebatas agenda lima tahunan semata. Perjuangan pembangunan Indonesia merupakan jalan hidup sang pemimpin atau lebih tepatnya generasi pemimpin, sebab wahananya bukan hanya kepemimpinan politik semata, namun juga kepemimpinan di semua lini strategis bangsa, sehingga diperlukan kerja sama kepemimpinan dalam merealisasikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Toh, bagi pemimpin sejati, tidaklah penting ia seorang presiden atau bukan, yang lebih penting adalah bagaimana hidupnya bisa mendatangkan kemanfaatan secara optimal bagi sebanyak – banyak manusia.

November 20, 2008 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | Tinggalkan komentar

serakan hikmah di jalan

siang itu, 27 juli 2008 saya hendak berangkat ke depok guna merancang masa depan. saya kesana menggunakan kereta api, turun di gambir kemudian naik KRL ke depok. sedangkan menuju ke stasiun bandung, saya menggunakan angkutan umum jurusan Sadang Serang – Caringin.

di dalam angkot itu, saya mengambil tempat duduk di depan, di samping pa supir yang tengah bekerja. khilafnya, saya lupa nama bapak supir tadi. sepanjang perjalanan, kami berbincang bincang tentang realitas hidup yang bisa jadi menggambarkan keadaan yang menimpa banyak pihak di bangsa ini.

perbincangan dimulai saat angkot melewati sebuah gereja, bapak itu berkomentar mengapa kok orang orang nonmuslim itu kaya kaya sedangkan umat muslim sendiri banyak yang miskin.

saya mencoba menebak ke arah mana pembicaraan ini, saya berkomentar bahwa memang inilah kondisi yang menimpa umat islam saat ini. sebenarnya banyak umat muslim yang kaya, namun kurangnya rasa peduli pada sesama muslim apalagi yang kurang mampu itulah yang menyebabkan ada kesenjangan ekonomi bahkan diantara umat muslim sendiri.banyak umat muslim yang murtad akibat kendala ekonomi dan pada akhirnya ukhuwah islamiyah menjadi hanya semacam pemanis bibir dan simbol belaka.

penjelasan ini membuat bapak tersebut bercerita tentang tetangganya. ia memiliki tetangga yang tadinya tidak memiliki apa apa. saat tetangganya itu memutuskan keluar dari islam alias murtad, hampir tak beberapa lama kemudia rumahnya yang tadinya terbuat dari bahan bambu direnovasi dan menggunakan batu bata dan keramik, ia sendiri diberi modal usaha berdagang.

ia sendiri menyesalkan mengapa orang orang kaya di bangsa tidak berbagi, malahan ia merasa prihatin dengan elit bangsa ini apalagi yang muslim yang melakukan korupsi bahkan dengan embel embel nama pribadi muslim seperti Al Amin.

saya berpendapat bahwa memang benar adanya bahwa memilih pemimpin harus didasarkan pada pemahaman terhadap agama dari pribadi calon pemimpin tersebut. karena memilih pemimpin yang takut tuhan jauh lebih baik daripada memilih pemimpin yang takut dengan hukum undang undang. sebab, realitasnya hukum bisa diperjualbelikan seperti kasus suap di kejaksaan agung. dan tidak lupa saya mengingatkan bapak supir untuk mempergunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin yang religius, sebab insyaallah dengan pemimpin yang dekat dengan tuhan, akan mampu tercapai kesejahteraan.

saya pun menanyakan tentang anak2 bapak itu, berapa jumlahnya dan apakah telah sekolah. tak disangka, pertanyaan ini membuat bapak supir itu bercerita panjang lebar tentang keluarganya.

ia memiliki seorang anak, masih sekolah dasar. ia bersyukur bahwa walaupun ia tidak bersekolah, ia masih bisa menyekolahkan anaknya. ia pun bersyukur memiliki istri yang telah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMK, sehingga istrinyalah yang mengajari anaknya tentang mata pelajaran di sekolah. tidak seperti adiknya yang menikah dengan wanita buta huruf pula sehingga anaknya berkali kali tidak naik kelas.

ia lantas bercerita bahwa ia adalah anak pertama dari 10 bersaudara. namun hanya tinggal 4 orang. 6 orang lainnya meninggal, baik akibat sakit maupun kelaparan. rasa lapar dan sakit telah menjadi teman masa kecilnya. ia menyambung hidup dari belas kasihan tetangganya yang memberinya makan, walaupun hanya nasi dan kuah sayur, namun itu terasa mewah buat dirinya. begitulah ia bertahan hidup hingga besar.

satu kejadian yang paling membuat ia sedih adalah saat ia kehilangan adik bungsunya beberapa bulan lalu. adik bungsunya kelaparan. akhirnya, karena lapar ia meminum air bekas pakan ayam yang ada jentik jentik nyamuknya di dalamnya. selang beberapa saat, adiknya langsung jatuh sakit, badannya panas dan mulutnya sering mengeluarkan darah. muntah darah. dan pada tengah malamnya, adiknya wafat. ia benar benar bersedih sekali.

ia pun kembali bercerita tentang istrinya. bahwa ia merasa bersyukur pula diberi istri yang setia dan mau menerima keadaanya yang hanya supir angkot. ia pernah menyarankan istrinya untuk bercerai dan kawin lagi dengan orang lain jika ia merasa keberatan hhidup bersamanya yang serba kekurangan ini. namun istrinya menolak, ia memilih melanjutkan hidupnya dengan suaminya itu.

“padahal mah dik, kalau beneran dia nikah lagi ama orang laen, bapak mah pasti tetep nangis nangis”

kata si bapak sambil tersenyum lebar sembari menerima ongkos dariku.

——————————————————————————–

sepanjang perjalanan ini, membuat saya yakin bahwa bangsa ini memang membutuhkan pahlawan pahlawan..

mampukah diri ini menjadi orang orang yang bapak supir itu butuhkan

yang bangsa ini butuhkan ?

pertanyaan ini hampir selalu terlintas saat mata ini hendak terpejam…

Agustus 3, 2008 Posted by | kebangsaan, my stuff and I | Tinggalkan komentar

keluarga berencana

pagi tadi iseng nonton tv, eh ada dialog di metro tv yang pembicaranya elman hutabarat. ada beberapa pernyataan beliau yang nyeleneh menurut saya terkait dengan keluarga berencana. beliau berpendapat bahwa keluarga berencana adalah jalan yang harus ditempuh guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. pendapatnya yang paling parah adalah bahwasanya bila ada keluarga yang memiliki anak lebih dari 2 maka harus dicemooh, ditertawakan, dan pada intinya dipandang hina.

pendapat ini bagi saya agak aneh, pertama tampaknya pendapat bapak elman ini lebih didasarkan pada kondisi makro yang menyatakan salah satu tolok ukur kesejahteraan rakyat adalah pendapatan perkapita. pendapat ini tidak sepenuhnya salah, namun tidak mutlak benar juga. pertama, bisa jadi pendapatan perkapita besar namun penduduk miskin banyak. hal ini terjadi bila mayoritas uang berputar di tangan orang orang kaya. kedua, indonesia memiliki wilayah yang luas sehingga justru dengan penduduk yang banyak maka eksplorasi tempat/daerah yang belum terjamah menjadi optimal.

alangkah jauh lebih penting untuk lebih memfokuskan diri dengan bagaimana memeratakan pembangunan sehingga pemberdayaan rakyat lebih merata dan peningkatan kualitas hidup dan pendidikan sehingga banyaknya jumlah penduduk menjadi sebuah kekuatan, bukan dipandang sebagai sebuah kendala.

by the way, insya allah keluarga saya di masa depan pun akan mengikuti keluarga berencana..berencana punya anak tujuh..

Agustus 3, 2008 Posted by | komentar, my stuff and I | Tinggalkan komentar

Jika Anjing Kesayangan Menjadi Anjing Penjaga

Di daerah kebon bibit, bandung, ada satu perumahan yang cukup elit yang apabila berjalan disana jarang nampak ada kehidupan, kecuali kehidupan anjing. anjing anjing disana cukup galak, ada orang lewar saja -tak peduli apakah ia bermaksud baik atau jahat, mencurigakan atau tidak, pasti akan digonggongin. yang namanya orang lewat kan jadi takut, walaupun dia tahu gonggongan itu seperti gertak sambal karena si anjing dirantai oleh majikannya.

Namun, bila kepada majikannya, anjing itu menjadi begitu penurutnya. seberapa brengseknya si majikan, sang anjing tidak peduli karena satu alasan sederhana, majikannyalah yang memberinya makan.

mungkin kita melihat hal diatas adalah sesuatu yang common, terlampau biasa. sebuah kelumrahan karena menghadapi objek yang bernama anjing.

Namun bagaimana bila yang melakukan itu adalah manusia atau lebih tepatnya lagi sekelompok manusia?

saya merasa hal yang sama pun terjadi pada media pers dalam negeri kita.media, memanfaatkan kebebasannya, menghantam berbagai sisi kehidupan mulai dari politik, ekonomi, hingga kriminalitas. hampir semuanya mendapat sorotan media. pemerintah pun menjadi sasaran empuk blow up pemberitaan apalagi bila ada kebijakan yang tidak populis atau ada elemen pemerintah yang melakukan tindak pidana misalnya korupsi.

hal itu memang sesuatu yang baik, peran yang cukup baik sebagai penyeimbang trias politica yang berkuasa. namun, agaknya media kita tidak terlampau tertarik untuk mengadakan riset jurnalisme tentang perilaku asing yang dengan seenaknya mengobrak abrik bangsa melalui perampokan SDA, kontrak kontrak kerjasama yang merugikan, hingga kejahatan lingkungan yang mereka lakukan.

media seakan lebih fokus memberitakan konflik konflik anak anak bangsa mulai dari yang ecek ecek seperti kriminalitas jalanan hingga konflik kepentingan dan pemikiran yang melibatkan elit dalam negeri. sedangkan konflik horizontal (tepatnya diagonal, karena asing hampir setara pemerintah namun tidak langsung berada diatas rakyat) antara pribumi dan asing terkesan diberitakan sambil lalu dan alakadarnya. bayangkan jika tindak kriminal saja ada penelusuran dan laporan khususnya seperti acara jejak kasus, delik dan lainnya, dan bahkan infotainment pun melakukan laporan khusus bila ada gosip yang heboh, bagaimana mungkin kejahatan kemanusiaan dan lingkungan yang dilakukan asing dalam mengeruk kekayaan bumi indonesia hanya diberitakan sambil lalu dan alakadarnya saja?

media seakan menjadi alat adu domba bangsa yang memantik rasa curiga dan permusuhan satu anak bangsa ke anak bangsa yang lainnya melalui isu isu terorisme, sengketa pilkada, hingga penggusura pemukiman, sedangkan raksasa raksasa destroyer dibiarkan memiliki citra yang baik hingga anak anak bangsa memandang mereka seperti malaikat penyedia lapangan kerja dan sumber investasi. karena itulah, anak anak bangsa tidak ragu untuk “bekerja” pada raksasa raksasa itu.

media kini seperti menjadi anjing kesayangan para maijakn majikanna dan berlagak seperti anjing penjaga yang galak, yang akan menggonggongi siapapun yang lewat dan tertangkap matanya.

pada akhirnya, sudah selayaknya media mengambil peran penting sebagai alat perjuangan kepentingan rakyat banyak, bukan sekedar alat filtering informasi bagi bangsa kambing congek.

Juli 16, 2008 Posted by | ironi, kebangsaan | Tinggalkan komentar

Meratapi Sejarah

Tinta yang tertulis di lembar sejarah

hampir selalu menggunakan warna peperangan dan pertumpahan darah

dituliskan oleh otot otot pongah manusia

yang merasa berbuat kebajikan ditengah kesesatannya

prasasti yang terpancang pada tanah sejarah

hampir selalu dipahat dengan kekerasan dan kesewenangan

oleh otot otot kekuasaan dan tiran manusia

yang membungkus kepentingan dengan kata kata manis kemanusiaan

pada akhirnya,

sejarah menjadi sebuah repetisi

penderitaan manusia dibawah kesenangan yang lainnya

Juli 16, 2008 Posted by | kebangsaan, kontemplasi, Poem | 1 Komentar

Balada BLT di Kampung (based on true story)

alkisah, sampailah kabar data orang orang yang menerima BLT di kampung BlangBentong. alangkah terkejutnya mpok Ijah melihat namanya ga masuk sedangkan kenalannya Mpok Karni dapet. sebenernya, mpok Ijah awalnya rela rela aja dia ga dapet BLT, tapi setelah Mpok Karni dapet, dia jadi senewen.

“mosok, mpok Karni yang lagi bangun rumah aja dapet, lha saya enggak “, grundelnya di lubuk hati mpok Ijah yang paling dalem.

akhirnya, berita tentang Mpok Karni yang dapet BLT ditambah bumbu bumbu pemanis omongannya Mpok Ijah sontak bikin orang sekampung mulai cas cis cus. Keadaan ni dimanfaatkan Mpok Ijah buat menggalang massa. Mpok Ijah pun mulai melakukan komunikasi politik dengan ibu ibu sampe remaja putri tetangganya. walhasil dalam 3 hari dia udah berhasil menggalang dukungan. Parmi, Painem, Sutini, Mpok Leha, Marni, Mpok Nani adalah barisan pendukung loyalnya yang siap memperjuangkan aspirasi mereka ke kepala kampung.

“pokoknya hari jumat kita mesti nyelenggarain demo ke kantor kelurahan! kalo perlu kita datengin rumah lurahnya sekalian !! setuju ga mpok mpok ?”,

“lha Mpok Ijah, kalo cuma segini doang orangnya kurang banyak”, kata Parmi sambil ngacungin tujuh jarinya

“Itu sih gampang, kita ajakin aja mpok mpok yang laen!”. Koar Mpok Ijah bak komandan pasukan spartan

“Lha kalo mereka ga mau mpok?”, Painem nimpalin

“Bilang aja, kalo ga mau ikut, ntar di eng sama mpok mpoksekampung”, kata Mpok Ijah enteng..

di eng itu dalam bahasa jawa artinya dimusuhin.

akhirnya, hari H pun tiba. Mpok Ijah udah rapi jali make kebaya ijo dengan balutan kain sebagai bawahan busananya.

“Nem, udah berapa yang kumpul ?klo udah mapuluh orang, berangkat aja. sekalian ngajakin yang masih di rumah”, kata Mpok Ijah

“mapuluh sih udah Mpok”, kata painem

“Mpok Mpok sekalian, hari ini kita akan menuntut keadilan. kita akan memperjuangkan supaya kita semua kebagian BLT!!kalo dapet kan lumayan! bisa dapet sekitar 700 rebu ampe satu setengah juta loh !!kan lumayan!!!” itulah sepenggal orasi Mpok Ijah

“wah lumayan tuh buat beli baju”,

“iya, buat beli Hape juga bisa”,

“asik, bisa buat beli lemari ma TV baru nih”.

akhirnya serombongan mpok mpok dari kampung BlangBentong pun bergerak. kalo ngeliat ada ibu ibu laen, “diajaklah” ibu ibu itu. walo ibu itu sebenernya ga mau, tapi gara gara takut dimusuhin akhirnya ngikut juga dah

“ya daripada di eng mas, mending ngikut ajalah. itung itung jalan jalan muterin kampung”, kata seorang ibu saat ditanyain suaminya pas ketemu di jalan saat suaminya lagi jualan bakmi.

“Mpok..Mpok Ijah, Mpok Tini katanya ga bisa tuh, dia lagi ngliwet!!”, teriak Parni dari depan.

ngliwet tuh masak dalam bahasa jawa.

“Mpok Mpok, nanti berhenti dulu di rumahnya Mpok Tini yah!!kita tungguin dia dulu”,

akhirnya rombongan ibu ibu itu berhenti dulu di rumah Mpok Tini

“wealah ono opo tho, pada rame rame ngumpul disini?”, tanya Mpok Tini

“Mpok, kita mau demo supaya dapet BLT nih! pokoke mesti ngikut, kalo ga, kita eng!!”, kata Mpok Leha

“Lah Pok, saya lagi ngliwet, masa ditinggal. kasian si untung sama Bapaknya dong ?tar mereka makan apa?”, Mpok Tini coba ngeles

“pokoknya kita bakalan nungguin mpok selese ngliwet!!”; tegas Mpok Leha

setengah jam kemudian Mpok Tini udah keluar sambil nggrundel..

“Yo Wis, ayo berangkat!!”,

akhirnya mereka pun kembali melanjutkan long marchnya menuju kantor kelurahan. satu jam kemudian mereka nyampe di kantor kelurahan..

“Wah Wah, ono opo ? kok pada ngumpul di kantor”, Pak Mandor heran melihat kedatangan puluhan ibu ibu

“Pak Mandor, Pak kadus ato PakLurah ada enggak ?!!”, tanya mpok Ijah

“Ga ada, lagi pada rapat, mau apa sih?” kata pak mandor. padahal keduanya lagi ada di rumahnya masing masing. ogah ke kantor soalnya ngedenger kalo ibu ibu mau pada demo

“mau ngambil duit pak!!”, kata ibu ibu di belakang

“lha kok ngambil duit di kelurahan? emangnya ibu ibu nabung di kelurahan?” Pak Mandor heran

akhirnya setelah Mpok Ijah ngejelasin, pahamlah Pak Mandor akan duduk masalahnya. tapi ia berputus asa untuk menerangkan bahwa yang berwenang menentukan siapa yang mendapat BLT itu adalah orang dari provinsi bukan desa. ia putus asa karena saat ia menerangkan ke beberapa ibu ibu, ibu ibu yang laennya ikut ngomong. jadi cape sendiri si Pak MAndor. cape deehh…

“Mpok Mpok, ayo kita ke rumah pak lurah aja! kita tungguin ampe nongol!!” komando Mpok Ijah

akhirnya massa pun bergerak meninggalkan Pak Mandor yang lagi geleng geleng kepala

“Sialan tuh ibu ibu, udah ngambil air minum seenaknya, eh ga ada yang diminum..ck..ck..ck..lha kamu ngapain disitu Met, sambil ngopi lagi!!”, tegur pak mandor ngeliat pak mamet yang lagi asik ngopi di ruang pertemuan staf keluarahan

pak mamet pun ngeloyor pergi diiringi grundelan pak mandor

“dasar, cari kesempatan dalam kesempitan!!”,

rupanya saat ada demo tadi pak mamet menyelinap ke ruang pertemuan dan minum kopi yang diperuntukkan pamong kelurahan.

rombongan ibu ibu pun akhirnya tiba di rumah pak Lurah. mau tak mau pak lurah pun akhirnya keluar rumah karena anaknya udah ga tahan diomelin ibu ibu sekampung.

“bilang ke mereka, tunggu sebentar, bapak mandi dulu”, kata pak lurah ke anaknya yang udah nggrundel mulu akibat diomelin ibu ibu

akhirnya ibu ibu pun menunggu pak lurah, disela sela menunggu, rupanya ibu ibu pada duduk karena cape dari tadi jalan mulu. cape deeh. melihat banyak ibu ibu yang lagi duduk, Mpok Ijah kesel

“Eh Mpok Mpok, kok pada duduk sih ? yang namanya demo tuh kalo ngeliat di Tipi Tipi ya berdiri!!”, cerocos Mpok Ijah

Ibu ibu yang lain pun manut

“eh mangga pak lurah udah gede gede tuh, minta yuk”, cetus si Nani saat melihat pohon mangga di halaman rumah Pak Lurah

“wah iya, Mpok Karti, pinjem pisau ke Bu Lurah dong, ibu kan deket ama dia”, cetus Mpok Ida

akhirnya, asiklah ibu ibu itu ngerujak di sela sela demonya. tak berapa lama pun pak lurah nongol

“lha kok malah ngerujak..”, ceplos pak lurah

ceplosan ini pun disambut oleh cerocos Mpok ijah dan ibu ibu laen yang menuntut supaya BLT diabgi adil ke semua orang kampung.

“ya gitu pak Lurah, mending duit BLT tuh dibagiin aja ke semua orang, biar adil. kan enak, ga ada yang sirik, ga ada yang demo. sama sama seneng kan ?” argumen Mpok Ijah.

“Eh Mpok, yang nentuin sapa yang dapet BLT tuh orang dari provinsi bukan orang kelurahan. ya kita ga bisa.udah ada standarnya sendiri. coba kalo semuanya dapet, nanti malah buat beli Hape, beli lemari, bukan buat beli beras”, kata pak lurah

“saya sih kalo dapet buat beli baju”, ceplos Mpok Atun

“tuh Atun malah buat beli baju”, tukas pak lurah sembari tersenyum penuh kemenangan

“enggak pak lurah enggak, duitnya ntar atun beliin beras deh, atun janji!!”, kata atun buru, sambil digaplokin ibu ibu yang laen.

“eh pak lurah, ternyata pak lurah ganteng juga ya kalo abis mandi. klimis. pantes bisa dapet perawan lagi”, kata Rodiah yang denger kabar kalo pak lurah punya istri muda lagi.

pak lurah pun gelagapan. “mau kaos pak dodon enggak nih”, tawar pak lurah

pak dodon adalah calon bupati yang didukung pak lurah. sebenernya “terpaksa” didukung karena pak dodon itu calon incumbent, jadi pak lurah ngerasa ga enak kalo ga ngedukung..secara ada “instruksi” gitu loh.

“mau pak, mau” tukas ibu ibu serempak

akhirnya ibu ibu yang demo pun dibagi kaos calon bupati yang didukung pak lurah.

“pak, sayanya minta 2 lagi dong bajunya”, kata Mpok Rini

“lha bu, satuan aja. nanti ibu ibu yang laennya pada minta lagi”, kata pak lurah

“pak lurah ini gimana, masih untung saya cuma minta 2. buat anak anak saya aja pak. biarin lah suami saya ga kebagian”, tukas Mpok Rini

“abis mpok!!” kata pak lurah, biar cepet selese.

pak lurah mikir dengan ngasih kaos kali aja ibu ibu ini mau pulang.

eh..ternyata enggak. Mpok Ijah pun kembali nyerocos, akhirnya pak lurah pun cape. cape deeh

“ya udah, kalo gitu saya minta 6 perwakilan dari ibu ibu buat ikut saya ke kecamatan”,

akhirnya Mpok ijah, Mpok Leha, Painem, Parti, Mpok Rini, dan Mpok Tini ikut pak lurah. melihat vacum of power di tubuh demonstran, Mpok Nani langsung berinisiatif memimpin

“mpok mpok, daripada kita diem nih, mending kita berangkat aja ke kecamatan yuk.. nyusul mpok mpok yang berangkat ama pak lurah”

“ayo ayo, daripada ga ada kerjaan”,

“iya, sekalian ngedukung temen kita”,

“ayo, pokoknya yang ga ikut di eng“,

“jangan lupa make bajunya pak dodon yah!!”

akhirnya, dengan berseragam kaos bergambar pak dodon, mereka pun berangkat ke kecamatan.

……………………………………….

setibanya di kecamatan, mereka pun ngaso di pendopo kecamatan. pak lurah dan pak camat pun menghadapi mereka. saat akan berbicara ke massa, pak camat berbisik ke pak lurah

“pak lurah, kok dibawa kesini sih ?”,

“hehehe, biar saya ga sendirian pak, cape ngadepinnya”, pak lurah cengengesan

akhirnya, pak lurah dan pak camat berdiri di tengah tengah massa. saat pak camat memberikan pengarahan dan keterangan pada massa, si Atun berbisik pada pak lurah

“pak lurah, itu sapa sih pak yang baru lewat”,

“yang mana tun?”,

“itu tuh pak, yang tinggi, putih, badannya besar, pake kacamata, dan cukurannya belah tengah itu. ganteng banget” si Atun centil

“itu sekretarisnya pak camat tun”, kata pak lurah sambil geleng geleng kepala

atun pun kembali diam. tapi tak beberapa lama, dia berbisik lagi

“pak lurah, kata Mpok Tini yang gembrot itu katanya istrinya pak camat ya pak?”

“iya tin, emang napa?”,

“gapapa pak, ih gembrot banget!kayak kuda nil, mending pa camat ama atun deh. masih singset!!”,

huff, cape deeh batin pak lurah.

sebenarnya apa yang dikatakan pak camat tidak jauh berbeda dari perkataan pak lurah, namun karena hari sudah sore, mereka pun kecapean dan bubar. selesai.

begitulah potret kehidupan masyrakat desa dalam menyikapi BLT. ini adalah salah satu cermin betapa tidak solutifnya BLT dalam mengatasi permasalahan masyarakat dan malah menimbulkan masalah baru. oiya, lupa. saya mau nambahin epilog.

epilog:

dan BLT yang ditunggu tunggu pun tidak cair cair sebab ditahan karena dikhawatirkan akan timbul aksi yang lebih besar lagi..

cape deeh

Juni 24, 2008 Posted by | ironi, kebangsaan | 3 Komentar

Man In The Year..menyoal sepak terjang selebritis dalam politik

sebenernya sudah lama saya nonton film ini, tapi baru keingetan lagi pas ada reviewnya di detik.com

film ini bercerita tentang seorang pelawak yang kerap menggunakan even politik dalam guyonan guyonannya. kemudian, sang pelawak pun memutuskan untuk mencalonkan diri jadi presiden. kemudian, secara mengejutkan, ia terpilih manjadi presiden. tetapi fakta terkuak, ada kesalahan dalam proses pemilu dan ternyata ia kalah. akan tetapi, ia tidak merasa bersedih, justru hal ini menyadarkannya. terpilih menjadi presiden untuk sejenak waktu menyadarkan ia bahwa gedung putih bukan tempat yang cocok baginya. tempatnya adalah di studio televisi dan mengeluarkan candaan candaan cerdas yang justru disukai oleh masyarakatnya.

fenomena tom dobbs (pelawak di film itu) menjadi realitas bagi kondisi politik tanah air.  ada satu kesamaan yang bisa diambil dari hal tersebut, kadangkala popularitas mampu membuat kita berpikir kita bisa menjadi apa saja dan bisa melakukan apa saja terlepas dari kapasitas keilmuan yang kita miliki. saya tidak menggugat kemampuan selebriti dalam menjaring massa, namun apakah dengan kemampuannya itu, ia bisa mengupayakan perbaikan hidup masyarakat dan menyelesaikan persoalan persoalan kehidupan ? kalaupun tidak terbukti secara akademis, maka bukti track record pun tak masalah saat ini.

politik kita telah terjebak dalam sebuah kue popularitas yang memanfaatkan loyang kekurangtahuan masyarakat atas komponen kemenokohan sang tokoh yang salah satunya adalah kompetensi yang dimiliki sang tokoh dan kiprahnya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa saat ini. kita terjebak dalam pilihan pilihan yang membosankan yang disodorkan partai dengan mengusung orang yang populer dalam wajah kata kata bukan dalam wajah karya nyata. pada akhirnya kita pun lelah. kelelahan inilah yang dimanfaatkan parpol untuk menarik animo dari rasa lelah kita. animo yang timbul dari oase fatamorgana utopis janji janji sang calon pemimpin pada masyarakat lelah di padang gersang.

pada akhirnya, kontemplasi seperti tom dobbs harus dipikir lebih lebih dalam oleh -bukan hanya selebritis- namun juga calon pemimpin populis untuk mengetahui dimana ia seharusnya berada. karena, berkontribusi bagi masyarakat bukan hanya menjadi orang yang duduk di gedung sate, istana merdeka, atau gedung putih. namun, berpikirlah dalam perspektif keahlian kita, dan disanalah tempat kita berada. seperti tom dobbs yang akhirnya menemukan bahwa di studiolah tempatnya berada, melontarkan guyonan cerdas yang mencerdaskan masyarakatnya,..

April 7, 2008 Posted by | kebangsaan | 3 Komentar

Memandang Brain Drain Dari Perspektif Kebutuhan dan Nasionalisme

Fenomena brain drain menjadi sebuah fakta miris yang harus dihadapi Negara – Negara dunia terutama Negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Fenomena ini ditandai dengan beremigrasinya individu – individu bertalenta, berpendidikan, dan terlatih ke Negara lain. Beberapa sebab ditengarai sebagai pemicu fenomena ini, sebut saja masalah penghasilan dan kesempatan kerja sampai kebebasan dalam menentukan pilihan – pilihan hidup. Bila dikaitkan dengan perspektif nasionalisme, apakah individu – individu ini kurang memiliki rasa nasionalisme atau malah pemerintah sendiri kurang memberi kesempatan pada warga negaranya untuk tumbuh berkembang mengaktualisasikan dirinya ?

Bila menganalisis motif terjadinya brain drain sekaligus memadukannya dengan hierarki maslow, ada beberapa alasan yang patut diberi perhatian penuh yaitu, kebutuhan materi dan kebutuhan aktualisasi diri. Kedua kebutuhan ini menempati posisi berkebalikan dari hierarki maslow, kebutuhan materi menempati posisi paling dasar sedangkan kebutuhan aktualisasi diri menempati posisi paling atas. Bila menilik penelitian di Amerika, fenomena brain drain ini terjadi pada usia 24 – 35 tahun yang merupakan masa pasca kampus dimana manusia masih belum mapan secara finansial. Dari fakta ini, bisa ditarik kesimpulan bahwasanya kebutuhan materi menjadi alasan utama bagi pelaku brain drain.

Fenomena brain drain demi alasan materi yang menimpa generasi muda, bukan Cuma di Negara kita namun juga di berbagai belahan dunia seakan menegaskan bahwa semangat kebangsaan mulai luntur seiring derasnya arus globalisasi. Peran Negara – Negara dunia menjadi semacam capital collector dengan human capital sebagai objeknya. Maka Negara dengan daya tarik paling besar akan menang.

Melihat fenomena ini, peran nasionalisme bangsa menjadi sempit sekali sebab sebatas kecintaan pada tempat lahir, sedangkan partisipasi peran dalam pembangunan bangsa menjadi kecil. Maka, scenario global state memang masuk akal dengan didukung fakta ini.  Hal inilah yang harus segera disadari seluruh elemen bangsa agar tidak terjebak dalam scenario global ini.

Bila melihat kondisi demikian, peran lebih pemimpin sebagai penggerak semangat nasionalisme menjadi sebuah keniscayaan. Tidak sebatas pemimpin dalam tataran pemerintahan, namun yang lebih penting lagi adalah pemimpin – pemimpin komunitas yang lebih dekat dengan masyarakatnya. Pemimpin – pemimpin inilah yang seharusnya menjadi penyala obor nasionalisme yang mulai luntur terutama di kalangan generasi mudanya sehingga mampu menghindari fenomena brain drain.

Nasionalisme inilah yang mulai meluntur di kalangan generasi muda sehingga fenomena brain drain terjadi. Hal ini bisa dipahami mengingat bila kita coba memadukan nasionalisme dalam kerangka hierarki maslow sendiri, nasionalisme hanya akan muncul pada orang – orang yang telah sampai di kebutuhan puncak yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Maka dari itu, perlu langkah – langkah strategis dalam menumbuhkan nasionalisme dengan mencukupi kebutuhan individu – individunya. Dalam hal ini, kita harus belajar banyak dari Taiwan.

Taiwan menjadi contoh istimewa dari parahnya mereka mengalami brain drain, sekaligus betapa suksesnya mereka menggaet para braindrainernya untuk kembali atau berkontribusi positif terhadapnegaranya. Tahun 1970-an, posisi Taiwan adalah layaknya Indonesia saat ini. Saat itu, Taiwan adalah tipikal negara berkembang yang hanya bisa menyuplai banyak tenaga kerja murah bagi negara maju. Hubungan dengan negara-negara maju dalam ekonomi maupun Iptek selayaknya Indonesia sekarang. Bukan berdiri sama tinggi ataupun duduk sama rendah.

 

Sementara itu, banyak dari kalangan cerdas atau intelektual Taiwan bersekolah lalu bekerja di Negara maju, seperti Amerika Serikat.Tahun 1980-an, Pemerintah Taiwan mengubah arah kebijakan yang membuat iklim ekonomi dan pengembangan Iptek Taiwan lebih kondusif. Mulailah Pemerintah Taiwan mendekati para brain drainer yang berdiam di LN dan sudah banyak mempunyai modal. Mereka di harapkan dapat berkontribusi modal untuk pembangunan negaranya.

 

Pendekatan simpatik dari pemerintah bersambut. Para warga negara Taiwan yang tingal di LN berbondong berbalik ke Taiwan dan menjadi reversed brain drain. Para SDM unggul ini, tidak hanya menyumbangkan modalnya, bahkan pikiran dan karyanya pada negaranya.Contohnya, Miin Wu, “braindrainer” yang lulus PhD dari Stanford tahun1976. Lalu dia bekerja sebagai profesional di Silicon Valley dan kembali ke Taiwan 1989. Setelah kembali ke Taiwan, Wu mendirikan perusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi salah satu perusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan dengan omset $ 300juta/tahun dan menyerap 2 800 tenaga kerja. Dengan iklim yang sehat dan kondusif ini, sekarang Taiwan tidaklah menjadi negara yang takut kehilangan orang-orang pintarnya.Sebagaimana dilaporkan dalam Financial Development tahun 1999, hanyakurang dari 10% warga negara Taiwan yang lulus PhD di tahun 1990 yangtetap tinggal di US sampai tahun 1996. Atau, hampir sebagian besar mereka kembali ke negaranya. Sejak tahun 1990 ini, Taiwan diakui sebagai negara yang leading dalam bidang ekonomi dan teknologi informasinya. Semua berkat reversed brain drain!

 

Langkah diatas adalah langkah awal yang tepat sebelum menanamkan pola pikir nasionalisme untuk mencegah brain drain sebab jauh lebih mudah menggugah intelektual yang notabene membutuhkan aktualisasi dirinya daripada menggugah masyarakat luas yang kebutuhannya masih berkisar di kbutuhan dasar. Bila langkah ini telah terlaksana, barulah kita bicara tentang pola pikir nasionalis pada masyarakat luas.

 

 

Desember 25, 2007 Posted by | kebangsaan | 3 Komentar

Kepahlawanan Kolektif, Introspeksi dan Visi

“ Manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan mampu menjadi superman, namun dengan kelebihannya mampu menjadi superteam “

 

Layakkah bangsa ini terpuruk? Bangsa ini memiliki banyak kelebihan dalam segi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia. Namun, potensi sumber daya manusia yang sedemikian besarnya belum mampu mengeksplorasi sumber daya alam yang ada sehingga mampu mendatangkan kemakmuran bagi bangsa ini.

 

Manusia bangsa ini bukan manusia – manusia bodoh. Anak – anak bangsa kita mampu meraih prestasi terhormat dalam pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia sekalipun, melalui olimpiade. Putra – putra bangsa ini juga yang mampu berbicara di pentas internasional melalui karya monumentalnya seperti Pak Habibie. Berapa banyak elemen bangsa ini yang bergelar Doktor bahkan Profesor, namun kedaan bangsa ini masih saja carut marut.

 

Kita memang memiliki kecerdasan yang mampu bersaing dalam tataran internasional dalam ruang lingkup individu, namun ketika berbicara dalam tataran kolektif, masih ada yang harus dikompromikan antar individunya. Ketika kita masih berada dalam kondisi menyamakan kepentingan antar individu artinya kita belum memiliki satu visi kebangsaan yang sama. Ambil contoh dalam aspek teknologi. Teknologi saat ini masih terparsialkan dalam penentuan kebijakan politik kita yang masih sebatas suara dan lobi, belum menyentuh konten. Harus ada mainstream politik baru yang mengintegrasikan semua aspek sehingga politik kita berhasil menyentuh aspek konten politiknya tidak sebatas suara dan lobi semata.

 

Kita pernah melewati sebuah masa yang singkat dimana aspek – aspek kehidupan dari sosial, politik, ekonomi, teknologi berjuang bersama dalam mengangkat kondisi bangsa. Hanya saja aspek budaya dan pertahanan keamanan masih menjadi kendala utama yang merusak harmonisanya selain politik yang memang bermata dua. Masa itu adalah masa Habibie menjabat sebagai presiden. Konsep Habibienomics yang mengedepankan produksi demi mengangkat perekonomian mampu menaikkan kondisi perekonomian kita yang masih terpuruk menjadi lebih baik, walaupun belum baik benar. Sekilas konsep ini menyerupai konsep reformasi ekonomi Park Chung Hee saat mejabat sebagai presiden republik korea. Konsep Industrialisasi berbasis ekspor ternyata berimbas besar pada kehidupan perekonomiannya jauh setelah ia tidak berkuasa lagi. Ketahanan ekonomi mikro yang terbentuk dari mapannya industri rumah tangga mampu membuat Korea menjadi negara pertama yang lepas dari jeratan krisis ekonomi yang melanda
Asia tahun 1998. Kemapanan bangsa ini turut dubangun oleh kebijakan ekonomi, pemanfaatan   teknologi, kebijakan politik, sosial kemasyarakatan, dan budaya bangsa, semuanya terintegrasi.

 

Ketika berbicara tentang integrasi semua aspek kehidupan, kita butuh figur – figur yang memiliki spesialisasi dalam keilmuan dan wawasan global dalam tingkat pemikiran sehingga mainstream ini mampu menjadi masif dan memfasilitasi transformasi kehidupan bangsa ini. Kita sudah tidak akan membicarakan lagi figur – figur ratu adil yang dikultuskan, tapi sebuah sistem besar transformasi dengan figur – figur itu sebagai instrumen utama penggeraknya. Kekolektivitasan menjadi sebuah energi dalam menggerakkan sistem besar ini, sinergi menjadi senjata utama sistem ini.

 

Justru disinilah letak problematikan krusial bangsa ini. Untuk menjamin harmonisasi kekolektivitasan, kesediaan figur – figur untuk ’hanya’ menjadi instrumen sistem amat dibutuhkan, loyalitas inilah yang memang kurang dipunya oleh bangsa ini. Kepentingan dan ambisi pribadi masih menjadi hal yang begitu menggoda bagi figur untuk ’berjuang’ sedangkan urusan kompetensi dan spesialisasi entah ditempatkan di nomor berapa. Padahal, kepahlawanan kolektif ini bergantung pada spesialisasi dan kompetensi instrumen – instrumennya.

 

Pada akhirnya, sebuah mainstream pergerakan yang mengkombinasikan serta memaksimalkan potensi dan kapabilitas instrumennya akan mampu mewujudkan cita – cita besar bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang gemah ripah loh jinawi, baldah thoyyibah wa rabbun ghafur. Bahkan, untuk mewujudkan cita – cita itu, seorang superman pun tak akan mampu, tapi sebuah superteam punya kans besar mewujudkannya, tinggal bagaimana memfokuskan kerja instrumen – instrumennya dan merangkai kerja dan karyanya menjadi tinta emas yang menghiasi sejarah bangsa ini.

November 26, 2007 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | 3 Komentar

Hapus Kekhawatiran Tentang PLTN

Meskipun belum dibangun secara fisik, pembangunan PLTN di Muria telah memicu kekhawatiran banyak pihak akan keamanannya. Tak bisa dipungkiri, tragedy Chernobyl yang terjadi tanggal 26 April 1986 telah menyisakan efek traumatis bagi dunia tak terkecuali bangsa Indonesia. Trauma ini menjadi simalakama bagi Indonesia tatkala bangsa ini dihadapkan pada krisis energi yang ditandai dengan semakin meroketnya harga bahan bakar fosil dunia.

Sebenarnya wacana pembangunan PLTN di Muria sendiri telah beredar pada dekade 70an. Rencana pembangunannya sendiri dimulai tahun 1988. Akan tetapi, hantaman ekonomi yang melanda Indonesia telah membuat pembangunan PLTN ini batal.

Kemudian, krisis energi yang melanda dunia memaksa wacana ini muncul kembali ke permukaan. Pembangunan PLTN pun kembali direncanakan di Semenanjung Muria, jawa tengah. Pembangunan fisiknya sendiri akan dimulai tahun 2010 dengan perkiraan biaya sektar 35 trilyun rupiah. PLTN ini diharapkan akan mensolusikan krisis listrik Jawa Bali dengan memasok sekitar 7000 MW.

Rencana ini pun memicu demonstrasi besar – besaran di Kota Kudus. Bahkan, Bupati kudus sendiri mendukung aksi tersebut. Ketidakkompakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah kudus ini pun semakin membuat masyarakat semakin larut dalam nuclearphobia.

Nuklir sebagai sumber energi masa depan

Sebagai pembangkit daya, nuklir memiliki keunggulan dibanding pembangkit daya lainnya. Keuntungan yang sangat signifikan yaitu memiliki ketersediaan bahan bakar yang melimpah dan biaya bahan bakarnya rendah. Selain itu, dalam pengoperasiannya secara normal sebagai pembangkit daya, nuklir tidak menghasilkan gas rumah kaca dan tidak mencemari udara.

Hal ini tentu saja jauh lebih unggul daripada PLTU batubara yang dalam pengoperasiannya menghasilkan gas – gas SOx, NOx, COx, dan logam – logam berat seperti Pb, Hg, Ar, Ni, Se yang jauh melebihi kadar normal di sekitar PLTU. Gas SOx sendiri menjadi pemicu gangguan paru – paru dan penyakit pernafasan. Sedangkan gas NOx menjadi penyebab hujan asam apabila bereaksi dengan gas SOx yang berakibat bburuk bagi peternakan dan pertanian. Gas COx sendiri akan menyebbkan efek rumah kaca yang berperan dalam pemanasan global bumi.

Dalam segi pembangunan pembangkit dayanya pun PLTN lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan pembangkit lain yang menggunakan bahan bakar fosil. PLTN digolongkan sebagai investasi dengan modal tinggi namun memiliki biaya rutin rendah. Sedangkan pembangkit berbahan bakar fosil digolongkan sebagai investasi dengan modal rendah, namun memiliki biaya rutin tinggi. Tentunya dari segi anggaran, akan sangat menguntungkan bila memanfaatkan nuklir sebagai pembangkit daya.

Sumber ketakutan masyarakat

Ketakutan utama masyarakat terhadap nuklir adalah dalam hal operasional, kemanan, keselamatan, dan limbah nuklir. Masyarakat masih larut dalam trauma chernobyl yang membuat mereka kurang open mind dalam menyikapi masalah ini. Bila menilik kasus Chernobyl sendiri, kecelakaan tersebut memang diakibatkan oleh human error saat akan dilaksanakan maintenance di reaktor 4. reaktor 4 sendiri adalah reaktor tempat terjadinya kecelakaan tersebut. Kecelakaan tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pengalaman training dari operator. Sehingga ada beberapa prosedur yang tidak biasa yang dilakukan. Salah satunya adalah dimatikannya beberapa sistem keamanan dan keselamatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan berdasarkan petunjuk teknis pengoperasiannya.

Hal lain yang turut berkontribusi bagi ketakutan masyarakat adalah polusi PLTN sendiri yang berupa radiasi radioaktif. Kekhawatrian akan hal ini sangatlah berlebihan, sebab telah terbukti bahwa secara rata-rata untuk seorang yang tinggal sampai 1 km dari sebuah reaktor nuklir, dosis radiasi yang diterimanya dari bahan-bahan yang dipakai di reaktor tersebut adalah kurang dari 10% dari dosis radiasi alam (dari batuan radioaktif alami, sinar kosmis, sinar-sinar radioaktif untuk maksud-maksud medis) . maka, sebenarnya kekhawatiran akan polusi radiasi ini tidak perlu ada.

Yang cukup menjadi perhatian saat ini adalah penanganan limbah nuklir. Sebab, limbah PLTN ini memiliki konsentrasi radiasi yang cukup tinggi, sehingga membutuhkan penanganan khusus. Selama ini, penanganan sisa bahan bakar dengan radiasi tinggi dilakukan dengan cara disimpan sementara di kolam-kolam penampungan sehingga efek radiasi yang ditimbulkannya dapat diabaikan.

Kewaspadaan bukan ketakutan

Dari berbagai macam respon yang ditunjukkan masyarakat, bisa ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan masyarakat memandang realitas sosial ini dengan orientasi nilai negatif yang pada akhirnya memunculkan ketakutan terhadap ilmu pengetahuan, yang dalam hal ini adalah nuklir. Maka dari itu, perlu dilakukan pendekatan struktural dan yang lebih utama adalah kultural.

Disinilah peran strategis manusia dalam pengembangan teknologi. Sebab, bagaimanapun juga, pembangunan teknologi nuklir ini adalah untuk manusia juga pada akhirnya, sehingga hal yang harus dipersiapkan dengan baik adalah manusianya pula.

Pemahaman tentang teknologi nuklir harus dilakukan pemerintah, sehingga persepsi nilai yang berkembang di masyarakat bukan ketakutan, namun kewaspadaan. Persepsi ini penting untuk membuat masyarakat kita lebih open mind terhadap teknologi terutama nuklir. Selain itu, persepsi nilai kewaspadaan akan mampu meminimalisir kemungkinan terjadinya human error dalam pengoperasian PLTN kelak.

Pemahaman tentang nuklir ini bisa dilakukan lewat dua jalan, yaitu top down dan bottom up. Pada pemberian pemahaman dengan jalan top down, pemerintah harus mampu menjadi supervisor yang mengawasi secara ketat pembangunan, dan pengoperasian PLTN sesuai standar yang diberikan IAEA. Di sini pemerintah harus memainkan perannya dalam tataran struktural. Sedangkan pemahaman dengan jalan bottom up, pemerintah harus mampu menjadi motor pembongkaran paradigma dalam perencanaan pembangunan nuklir terutama dalam tataran sosial budaya. Hal ini didasarkan pada pemahaman yang berkembang saat ini di masyarakat yang banyak dilatarbelakangi tingkat pengetahuan, harapan, bahkan ketakutan dan kekhawatiran masyarakat. Maka dari itu, pendekatan ini haruslah bersifat kultural sehingga mudah diterima masyarakat.

Dalam menyikapi masalah inipun, masyarakat harus tetap open mind. jangan mudah terjebak oleh stigmatisasi nuklir yang digiring ke persepsi negatif. Masyarakat harus membuka mata bahwasanya kebutuhan akan energi yang terbarukan dalam jumlah besar sangat diperlukan, dan nuklir mampu menyediakannya. Sehingga, persepsi yang terbentuk bukan ketakutan, namun kewaspadaan dalam pengelolaan nuklir untuk tujuan damai. Sehingga masyarakat, khususnya lembaga lingkungan hidup, dapat menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah supaya tetap menjamin keselamatan dan keamanan lingkungan.

Maka dari itu, yang harus diutamakan adalah dibukanya dialog dari hati ke hati antara pemerintah dan masyarakat dalam permasalahan PLTN ini. Masing – masing pihak harus saling memahami kondisi riil yang terjadi baik itu mengenai krisis energi maupun kekhawatiran dari masyarakat sendiri. Selain itu, dialog ini diharapkan akan membuka kesempatan bagi pembagian peran antara pemerintah dan masyarakat yang termasuk di dalamnya lembaga lingkungan hidup, sehingga mampu menciptakan mekanisme pelaksanaan dan pengawasan terhadap operasional PLTN.

Simpulan

Nuklir telah menjadi sebuah solusi tersendiri dalam menghadapi krisis energi yang melanda Indonesia. Kelebihan nuklir sebagai pembangkit daya pun telah terbukti baik dari segi daya yang dihasilkan maupun terhadap lingkungan apabila dijalankan sesuai prosedur yang menjamin keamanan dan keselamatan sesuai dengan regulasi IAEA. Maka dari itu, perlu ada dialog dari hati ke hati antara pemerintah dan masyarakat termasuk lembaga lingkungan hidup sehingga ada kerjasama yang konstruktif dalam pengelolaan dan pengawasan operasional PLTN ini.

November 26, 2007 Posted by | kebangsaan, Keelektroan | 3 Komentar