Artikulasi Hati dan Otak

Demokrasi Indonesia dan Parliamentary Threshold

barusan baca berita di detik tentang rencana demo partai gurem ke KPU buat nolak adanya parliamentary threshold. dalih yang dipake siih, karena parliamentary threshold mengabaikan demokrasi.

sebagai orang yang ga punya latar belakang ilmu politik, cuman mau komentar aja. mungkin salah, sebab ini hanya pemikiran subjektif.

selayaknya kehidupan, demokrasi pun tumbuh berkembang kemudian mapan, lalu mengalami suatu fase perubahan, tumbuh lagi berkembang lagi, begitulah seterusnya. hal ini pun dialami indonesia. namun saya tidak akan bicara sejarah, saya akan melihat masa kini saja.

dalam perspektif saya, demokrasi indonesia tengah berkembang menuju mapan setelah melalui fase perubahan dari kemapanan sebelumnya. hal ini ditandai dengan kemunculan banyak partai pada pemilu tahun 1999.euforia politik ini merupakan fenomena wajar dimana perubahan iklim politik  mendinamisasi pelaku di dalamnya dan memunculkan pelaku pelaku baru.

kemudian, saya yakin demokrasi indonesia berjalan ke arah yang tepat saat pada pemilu tahun 2004 jumlah parpol menurun. saya merasa, dengan penurunan partai ini, tokoh2 politik mulai tercluster membentuk suatu gerakan masif yang lebih besar daripada terpecah menjadi partai2 yang lebih banyak lagi. hal ini ditunjang pula dengan kebijakan parliamentary threshold yang memaksa parpol harus jeli dalam merancang strategi pemenangan pemilu. tentu koalisi antara beberapa partai kecil ‘harusnya’ mampu menggalang dukungan yang lebih besar lagi.

namun alangkah terkejutnya saya ketika di pemilu 2009 jumlah partai melonjak lagi. bahkan ada beberapa partai yang gagal memenuhi parliamentary threshold bereinkarnasi menjadi partai baru namun tanpa perubahan berarti. celakanya, partai2 ini lantas menganggap parliamentary threshold yang menjegal mereka di pemilu sebelumnya sebagai hal yang harus dilenyapkan karena mengabaikan demokrasi.

ada alur politik yang terpotong disini. visi jangka pendek berbalut kepentingan saya tengarai sebagai akar masalah. petinggi partai gurem menganggap kelangsungan umur mereka di kancah politik nasional dapat dihabisi oleh PT. akibatnya, kepentingan untuk tetap survive mengalahkan kebaikan bagi demokrasi sendiri.

saya berpendapat bahwa PT sangat baik dalam menggiring demokrasi ke arah yang benar. sebab dengan adanya PT, gerakan2 politik di tanah air akan jauh lebih masif sehingga mempercepat kemapanan demokrasi itu sendiri. dengan adanya gerakan yang masif, maka pemerintahan akan semakin kuat karena didukung oleh mesin politik tangguh dan diimbangi oleh oposisi yang kritis dan kuat.

maka dari itu, saya sangat berharap pada calon pemimpin bangsa ini supaya mengedepankan kebaikan bagi bangsa bukan sekedar melanggengkan umur dalam kancah politik. marilah jadi negarawan, bukan sekedar politikus.

Maret 4, 2009 - Posted by | Blogroll

1 Komentar »

  1. hai, salam kenal buat kamu. Kebetulan aku sedang ngajuin proposal tesis tentang parliamentary threshold. Aku juga sependapat dengan kamu bahwa PT adalah sebuah keharusan, karena hakikat PT adalah penyederhanaan sistem multu partai, kamu bisa nilai ndiri kan gimana situasi politik kita sekarang, dan untuk kita analisa juga nih bahwa dampak dari sistem multi partai adalah konfigurasi politik yang ada di DPR semakin beraneka warna, merah kuning hijau dilangit yang biru.

    Komentar oleh grees selly | April 28, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: