Artikulasi Hati dan Otak

serakan hikmah di jalan

siang itu, 27 juli 2008 saya hendak berangkat ke depok guna merancang masa depan. saya kesana menggunakan kereta api, turun di gambir kemudian naik KRL ke depok. sedangkan menuju ke stasiun bandung, saya menggunakan angkutan umum jurusan Sadang Serang – Caringin.

di dalam angkot itu, saya mengambil tempat duduk di depan, di samping pa supir yang tengah bekerja. khilafnya, saya lupa nama bapak supir tadi. sepanjang perjalanan, kami berbincang bincang tentang realitas hidup yang bisa jadi menggambarkan keadaan yang menimpa banyak pihak di bangsa ini.

perbincangan dimulai saat angkot melewati sebuah gereja, bapak itu berkomentar mengapa kok orang orang nonmuslim itu kaya kaya sedangkan umat muslim sendiri banyak yang miskin.

saya mencoba menebak ke arah mana pembicaraan ini, saya berkomentar bahwa memang inilah kondisi yang menimpa umat islam saat ini. sebenarnya banyak umat muslim yang kaya, namun kurangnya rasa peduli pada sesama muslim apalagi yang kurang mampu itulah yang menyebabkan ada kesenjangan ekonomi bahkan diantara umat muslim sendiri.banyak umat muslim yang murtad akibat kendala ekonomi dan pada akhirnya ukhuwah islamiyah menjadi hanya semacam pemanis bibir dan simbol belaka.

penjelasan ini membuat bapak tersebut bercerita tentang tetangganya. ia memiliki tetangga yang tadinya tidak memiliki apa apa. saat tetangganya itu memutuskan keluar dari islam alias murtad, hampir tak beberapa lama kemudia rumahnya yang tadinya terbuat dari bahan bambu direnovasi dan menggunakan batu bata dan keramik, ia sendiri diberi modal usaha berdagang.

ia sendiri menyesalkan mengapa orang orang kaya di bangsa tidak berbagi, malahan ia merasa prihatin dengan elit bangsa ini apalagi yang muslim yang melakukan korupsi bahkan dengan embel embel nama pribadi muslim seperti Al Amin.

saya berpendapat bahwa memang benar adanya bahwa memilih pemimpin harus didasarkan pada pemahaman terhadap agama dari pribadi calon pemimpin tersebut. karena memilih pemimpin yang takut tuhan jauh lebih baik daripada memilih pemimpin yang takut dengan hukum undang undang. sebab, realitasnya hukum bisa diperjualbelikan seperti kasus suap di kejaksaan agung. dan tidak lupa saya mengingatkan bapak supir untuk mempergunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin yang religius, sebab insyaallah dengan pemimpin yang dekat dengan tuhan, akan mampu tercapai kesejahteraan.

saya pun menanyakan tentang anak2 bapak itu, berapa jumlahnya dan apakah telah sekolah. tak disangka, pertanyaan ini membuat bapak supir itu bercerita panjang lebar tentang keluarganya.

ia memiliki seorang anak, masih sekolah dasar. ia bersyukur bahwa walaupun ia tidak bersekolah, ia masih bisa menyekolahkan anaknya. ia pun bersyukur memiliki istri yang telah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMK, sehingga istrinyalah yang mengajari anaknya tentang mata pelajaran di sekolah. tidak seperti adiknya yang menikah dengan wanita buta huruf pula sehingga anaknya berkali kali tidak naik kelas.

ia lantas bercerita bahwa ia adalah anak pertama dari 10 bersaudara. namun hanya tinggal 4 orang. 6 orang lainnya meninggal, baik akibat sakit maupun kelaparan. rasa lapar dan sakit telah menjadi teman masa kecilnya. ia menyambung hidup dari belas kasihan tetangganya yang memberinya makan, walaupun hanya nasi dan kuah sayur, namun itu terasa mewah buat dirinya. begitulah ia bertahan hidup hingga besar.

satu kejadian yang paling membuat ia sedih adalah saat ia kehilangan adik bungsunya beberapa bulan lalu. adik bungsunya kelaparan. akhirnya, karena lapar ia meminum air bekas pakan ayam yang ada jentik jentik nyamuknya di dalamnya. selang beberapa saat, adiknya langsung jatuh sakit, badannya panas dan mulutnya sering mengeluarkan darah. muntah darah. dan pada tengah malamnya, adiknya wafat. ia benar benar bersedih sekali.

ia pun kembali bercerita tentang istrinya. bahwa ia merasa bersyukur pula diberi istri yang setia dan mau menerima keadaanya yang hanya supir angkot. ia pernah menyarankan istrinya untuk bercerai dan kawin lagi dengan orang lain jika ia merasa keberatan hhidup bersamanya yang serba kekurangan ini. namun istrinya menolak, ia memilih melanjutkan hidupnya dengan suaminya itu.

“padahal mah dik, kalau beneran dia nikah lagi ama orang laen, bapak mah pasti tetep nangis nangis”

kata si bapak sambil tersenyum lebar sembari menerima ongkos dariku.

——————————————————————————–

sepanjang perjalanan ini, membuat saya yakin bahwa bangsa ini memang membutuhkan pahlawan pahlawan..

mampukah diri ini menjadi orang orang yang bapak supir itu butuhkan

yang bangsa ini butuhkan ?

pertanyaan ini hampir selalu terlintas saat mata ini hendak terpejam…

Agustus 3, 2008 - Posted by | kebangsaan, my stuff and I

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: