Artikulasi Hati dan Otak

serakan hikmah di jalan–2

sabtu, 2 agustus 2008 saya masih ada di cirebon. seperti biasa pukul setengah 6 sore saya menjemput adik di jalan raya. sambil menunggu, biasalah…sambil nongkrong pinggir jalan ditemani tukang beca yang ngobrol ngalor ngidul sambil becanda. kami pun ngobrol ngalor ngidul, mereka biasanya nanya saya kapan lulus ? nanya siapa yang dateng kemaren ? anak mana ? dan saya pun menjawab dengan apa adanya.

tak beberapa lama, ada dermawan yang bershodaqoh pada mereka dengan membagi bagikan amplop. bukan main girangnya mereka dan mereka pun berebut jatahnya masing masing. ternyata isinya uang sepuluh ribu. dalam benak saya, saya berpikir kok cuma 10 ribu ? tapi melihat raut muka tukang becak disana, saya bisa merasakan kegembiraan yang memancar dari muka mereka. saya benar benar merasa bersalah dengan pikiran saya, cuma…kenapa ada kata cuma ?apakah karena uang 10 ribu bagiku hanya cukup untuk pulang pergi naik angkot atau membeli satu buah es duren saja ?saya benar benar merasa dicambuk hatinya.

kami pun larut dalam obrolan kembali. kemudian seorang tukang becak bercerita padaku tentang pendapatnya tentang kejadian terbakarnya pasar plumbon. beliau bercerita bahwa sumber kebakaran tersebut berasal dari sebuah kios yang pemiliknya pernah menyakiti hati beliau dan temannya sesama tukang becak. ceritanya, suatu hari ia pernah diminta untuk memuat barang belanjaan seorang pembeli di kios tersebut. lama sudah ia menunggu sang pembeli membeli barang2 di kios, hingga ada orang yang mau menggunakan jasanya pun ia tolak karena telah ada yang meminta jasa dirinya terlebih dahulu. namun, alangkah kecewanya saat ia mendengar pemilik kios tersebut berkata pada pembelinya

“sudah, ga usah make beca lagi. nanti dianter ama mobil saya ke rumah”, sembari menawarkan mobil bak terbukanya. akhirnya, sang pembeli pun urung menggunakan jasa tukang becak tersebut.

tukang becak itu pun kecewa dan merasa sakit hati. ia merasa bahwa pemilik kios itu tidak peduli dengan dirinya yang mencari penghidupan dengan menarik becak. ia tidak ingin menjadi wong briman (peminta minta dalam bahasa cirebon). ia masih punya harga diri.

dan saat kios tersebut terbakar, bukan rasa peduli yang timbul melainkan ungkapan kualat…

——————————————————————————-

hikmah yang bisa diambil, bahwa kita harus mampu mengerti keadaan orang lain apalagi yang jauh lebih tidak beruntung dari kita.

perbedaan memandang uang 10 ribu harus menjadi pelajaran bahwa bisa jadi kita merasa apa yang kita perbuat adalah kecil, namun bagi orang lain hal itu begitu berarti

jangan sampai kita gagal memahami orang lain yang akibatnya memantik rasa sakit hati pada diri orang tersebut, apalagi orang tersebut adalah fakir miskin yang sejatinya harus kita bantu..

Agustus 3, 2008 - Posted by | kontemplasi, my stuff and I

1 Komentar »

  1. Trimakasih telah membuka pikiranku…..
    Semoga akupun termasuk menjadi orang2 yg suka berbagi…..

    Komentar oleh mey | April 23, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: