Artikulasi Hati dan Otak

Jika Anjing Kesayangan Menjadi Anjing Penjaga

Di daerah kebon bibit, bandung, ada satu perumahan yang cukup elit yang apabila berjalan disana jarang nampak ada kehidupan, kecuali kehidupan anjing. anjing anjing disana cukup galak, ada orang lewar saja -tak peduli apakah ia bermaksud baik atau jahat, mencurigakan atau tidak, pasti akan digonggongin. yang namanya orang lewat kan jadi takut, walaupun dia tahu gonggongan itu seperti gertak sambal karena si anjing dirantai oleh majikannya.

Namun, bila kepada majikannya, anjing itu menjadi begitu penurutnya. seberapa brengseknya si majikan, sang anjing tidak peduli karena satu alasan sederhana, majikannyalah yang memberinya makan.

mungkin kita melihat hal diatas adalah sesuatu yang common, terlampau biasa. sebuah kelumrahan karena menghadapi objek yang bernama anjing.

Namun bagaimana bila yang melakukan itu adalah manusia atau lebih tepatnya lagi sekelompok manusia?

saya merasa hal yang sama pun terjadi pada media pers dalam negeri kita.media, memanfaatkan kebebasannya, menghantam berbagai sisi kehidupan mulai dari politik, ekonomi, hingga kriminalitas. hampir semuanya mendapat sorotan media. pemerintah pun menjadi sasaran empuk blow up pemberitaan apalagi bila ada kebijakan yang tidak populis atau ada elemen pemerintah yang melakukan tindak pidana misalnya korupsi.

hal itu memang sesuatu yang baik, peran yang cukup baik sebagai penyeimbang trias politica yang berkuasa. namun, agaknya media kita tidak terlampau tertarik untuk mengadakan riset jurnalisme tentang perilaku asing yang dengan seenaknya mengobrak abrik bangsa melalui perampokan SDA, kontrak kontrak kerjasama yang merugikan, hingga kejahatan lingkungan yang mereka lakukan.

media seakan lebih fokus memberitakan konflik konflik anak anak bangsa mulai dari yang ecek ecek seperti kriminalitas jalanan hingga konflik kepentingan dan pemikiran yang melibatkan elit dalam negeri. sedangkan konflik horizontal (tepatnya diagonal, karena asing hampir setara pemerintah namun tidak langsung berada diatas rakyat) antara pribumi dan asing terkesan diberitakan sambil lalu dan alakadarnya. bayangkan jika tindak kriminal saja ada penelusuran dan laporan khususnya seperti acara jejak kasus, delik dan lainnya, dan bahkan infotainment pun melakukan laporan khusus bila ada gosip yang heboh, bagaimana mungkin kejahatan kemanusiaan dan lingkungan yang dilakukan asing dalam mengeruk kekayaan bumi indonesia hanya diberitakan sambil lalu dan alakadarnya saja?

media seakan menjadi alat adu domba bangsa yang memantik rasa curiga dan permusuhan satu anak bangsa ke anak bangsa yang lainnya melalui isu isu terorisme, sengketa pilkada, hingga penggusura pemukiman, sedangkan raksasa raksasa destroyer dibiarkan memiliki citra yang baik hingga anak anak bangsa memandang mereka seperti malaikat penyedia lapangan kerja dan sumber investasi. karena itulah, anak anak bangsa tidak ragu untuk “bekerja” pada raksasa raksasa itu.

media kini seperti menjadi anjing kesayangan para maijakn majikanna dan berlagak seperti anjing penjaga yang galak, yang akan menggonggongi siapapun yang lewat dan tertangkap matanya.

pada akhirnya, sudah selayaknya media mengambil peran penting sebagai alat perjuangan kepentingan rakyat banyak, bukan sekedar alat filtering informasi bagi bangsa kambing congek.

Juli 16, 2008 Posted by | ironi, kebangsaan | Tinggalkan komentar

Meratapi Sejarah

Tinta yang tertulis di lembar sejarah

hampir selalu menggunakan warna peperangan dan pertumpahan darah

dituliskan oleh otot otot pongah manusia

yang merasa berbuat kebajikan ditengah kesesatannya

prasasti yang terpancang pada tanah sejarah

hampir selalu dipahat dengan kekerasan dan kesewenangan

oleh otot otot kekuasaan dan tiran manusia

yang membungkus kepentingan dengan kata kata manis kemanusiaan

pada akhirnya,

sejarah menjadi sebuah repetisi

penderitaan manusia dibawah kesenangan yang lainnya

Juli 16, 2008 Posted by | kebangsaan, kontemplasi, Poem | 1 Komentar

Biarkan Aku Tidak Berkata Cinta

Biarkan aku tidak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti busana

yang kelak mendapat potongan harga

biarkan aku tidak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti hutang berbunga tak hingga

yang selalu dituntut untuk dilunasi dan takkan pernah akan lunas

biarkan aku tak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti bunga

yang semerbak lalu layu dan gugur berganti

Biarkan aku tidak berkata cinta

karena kuingin kau menangkapnya tanpa kata

dan tidak usah berkata kata

Juli 16, 2008 Posted by | Poem | 2 Komentar

Lelaki dan Hujan

Hujan masih begitu dinanti sang lelaki

Ia hanya ingin berdiri di tengah guyurannya

menghayati setiap tetes tetes air

merasakan lembutnya air yang mengalir di permukaan kulitnya

Ia begitu menyukai berdiri di tengah hujan

karena hujan mampu menutupi derai airmatanya

membiaskannya bersama aliran air langit

dan menutupi duka dan lemahnya dari pandangan kasihan manusia

Juli 16, 2008 Posted by | Poem | 3 Komentar