Artikulasi Hati dan Otak

Keluh Kesah Layang Layang

Ah..aku benci diam

belaian angin benar benar memabukkanku

lepaskan segera aku dari cengkeramanmu!

biarkan aku menari bersama angin

biarkan hembusannya membelai mesra kulit kertasku..

toh, kamu bisa memegang otot benangku kan?

Ah..mengapa kau masih mencengkeramku ?

biarkan aku pergi dengan angin kencang ini !

kurela cinta ini menerbangkan kemanapun

ah..aku benci semua ini

kemanakah kau kan menculikku dari angin kekasihku ?

betapa malangnya aku

tak kurasakan lagi gelora cinta sang angin padaku..

(diluar, hujan turun dengan lebatnya disertai angin ribut. sang anak bersyukur ia sampai dirumah sebelum hujan turun sehingga layang layangnya tidak basah dan rusak)

Iklan

Juli 17, 2008 Posted by | kontemplasi, Poem, sang pujangga | Tinggalkan komentar

Jika Anjing Kesayangan Menjadi Anjing Penjaga

Di daerah kebon bibit, bandung, ada satu perumahan yang cukup elit yang apabila berjalan disana jarang nampak ada kehidupan, kecuali kehidupan anjing. anjing anjing disana cukup galak, ada orang lewar saja -tak peduli apakah ia bermaksud baik atau jahat, mencurigakan atau tidak, pasti akan digonggongin. yang namanya orang lewat kan jadi takut, walaupun dia tahu gonggongan itu seperti gertak sambal karena si anjing dirantai oleh majikannya.

Namun, bila kepada majikannya, anjing itu menjadi begitu penurutnya. seberapa brengseknya si majikan, sang anjing tidak peduli karena satu alasan sederhana, majikannyalah yang memberinya makan.

mungkin kita melihat hal diatas adalah sesuatu yang common, terlampau biasa. sebuah kelumrahan karena menghadapi objek yang bernama anjing.

Namun bagaimana bila yang melakukan itu adalah manusia atau lebih tepatnya lagi sekelompok manusia?

saya merasa hal yang sama pun terjadi pada media pers dalam negeri kita.media, memanfaatkan kebebasannya, menghantam berbagai sisi kehidupan mulai dari politik, ekonomi, hingga kriminalitas. hampir semuanya mendapat sorotan media. pemerintah pun menjadi sasaran empuk blow up pemberitaan apalagi bila ada kebijakan yang tidak populis atau ada elemen pemerintah yang melakukan tindak pidana misalnya korupsi.

hal itu memang sesuatu yang baik, peran yang cukup baik sebagai penyeimbang trias politica yang berkuasa. namun, agaknya media kita tidak terlampau tertarik untuk mengadakan riset jurnalisme tentang perilaku asing yang dengan seenaknya mengobrak abrik bangsa melalui perampokan SDA, kontrak kontrak kerjasama yang merugikan, hingga kejahatan lingkungan yang mereka lakukan.

media seakan lebih fokus memberitakan konflik konflik anak anak bangsa mulai dari yang ecek ecek seperti kriminalitas jalanan hingga konflik kepentingan dan pemikiran yang melibatkan elit dalam negeri. sedangkan konflik horizontal (tepatnya diagonal, karena asing hampir setara pemerintah namun tidak langsung berada diatas rakyat) antara pribumi dan asing terkesan diberitakan sambil lalu dan alakadarnya. bayangkan jika tindak kriminal saja ada penelusuran dan laporan khususnya seperti acara jejak kasus, delik dan lainnya, dan bahkan infotainment pun melakukan laporan khusus bila ada gosip yang heboh, bagaimana mungkin kejahatan kemanusiaan dan lingkungan yang dilakukan asing dalam mengeruk kekayaan bumi indonesia hanya diberitakan sambil lalu dan alakadarnya saja?

media seakan menjadi alat adu domba bangsa yang memantik rasa curiga dan permusuhan satu anak bangsa ke anak bangsa yang lainnya melalui isu isu terorisme, sengketa pilkada, hingga penggusura pemukiman, sedangkan raksasa raksasa destroyer dibiarkan memiliki citra yang baik hingga anak anak bangsa memandang mereka seperti malaikat penyedia lapangan kerja dan sumber investasi. karena itulah, anak anak bangsa tidak ragu untuk “bekerja” pada raksasa raksasa itu.

media kini seperti menjadi anjing kesayangan para maijakn majikanna dan berlagak seperti anjing penjaga yang galak, yang akan menggonggongi siapapun yang lewat dan tertangkap matanya.

pada akhirnya, sudah selayaknya media mengambil peran penting sebagai alat perjuangan kepentingan rakyat banyak, bukan sekedar alat filtering informasi bagi bangsa kambing congek.

Juli 16, 2008 Posted by | ironi, kebangsaan | Tinggalkan komentar

Meratapi Sejarah

Tinta yang tertulis di lembar sejarah

hampir selalu menggunakan warna peperangan dan pertumpahan darah

dituliskan oleh otot otot pongah manusia

yang merasa berbuat kebajikan ditengah kesesatannya

prasasti yang terpancang pada tanah sejarah

hampir selalu dipahat dengan kekerasan dan kesewenangan

oleh otot otot kekuasaan dan tiran manusia

yang membungkus kepentingan dengan kata kata manis kemanusiaan

pada akhirnya,

sejarah menjadi sebuah repetisi

penderitaan manusia dibawah kesenangan yang lainnya

Juli 16, 2008 Posted by | kebangsaan, kontemplasi, Poem | 1 Komentar

Biarkan Aku Tidak Berkata Cinta

Biarkan aku tidak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti busana

yang kelak mendapat potongan harga

biarkan aku tidak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti hutang berbunga tak hingga

yang selalu dituntut untuk dilunasi dan takkan pernah akan lunas

biarkan aku tak berkata cinta

ku tak ingin cintaku seperti bunga

yang semerbak lalu layu dan gugur berganti

Biarkan aku tidak berkata cinta

karena kuingin kau menangkapnya tanpa kata

dan tidak usah berkata kata

Juli 16, 2008 Posted by | Poem | 2 Komentar

Lelaki dan Hujan

Hujan masih begitu dinanti sang lelaki

Ia hanya ingin berdiri di tengah guyurannya

menghayati setiap tetes tetes air

merasakan lembutnya air yang mengalir di permukaan kulitnya

Ia begitu menyukai berdiri di tengah hujan

karena hujan mampu menutupi derai airmatanya

membiaskannya bersama aliran air langit

dan menutupi duka dan lemahnya dari pandangan kasihan manusia

Juli 16, 2008 Posted by | Poem | 3 Komentar

Pemadaman Listrik…(ngomentarin Hatta Rajasa)

ada pernyataan Pak Hatta di detik.com yang menggelitik saya. berikut pernyataannya :

Listrik byar pet, termasuk di Jakarta. Mensesneg Hatta Rajasa menilai pemberitaan krisis listrik ini terlalu dibesarkan . “Jadi ya kita harus pandai-pandai pula memilah jangan sampai merugikan kita semua. Yang maksudnya krisis listrik itu kalau ada yang dirawat engine-nya maka akan terjadi kekurangan. Saya rasa itu berlebihan, bisa menimbulkan ketakutan pada warga,” kata Hatta.

jika krisis listrik hanya sebatas maintenance engine, saya pikir itu menutupi gambar besar fakta yang sebenernya. pertama, fakta bahwa hanya dengan maintenance engine saja mampu memunculkan pemadaman listrik menunjukkan bahwa daya reserve yang mendukung keandalan sistem begitu kurang. kedua, masalah pemadaman bergilir telah terjadi sejak lama dan menunjukkan bahwa pertumbuhan beban listrik tidak diimbangi oleh pencukupan kapasitas pembangkitan oleh pemerintah.

pak, jangan jadikan kami sebagai nation of sheep, bangsa kambing. jangan jadikan kami seperti kambing congek yang tuli dan pikun pada masalah bangsa. jangan beri kami pemilah milahan informasi yang selektif yang mencegah kami mengetahui kondisi bangsa saat ini. saya merasa bahwa kata “kita semua” yang bapak pergunakan lebih mengacu pada kepentingan pemerintah, bukan rakyat. kami butuh disadarkan tentang kondisi bangsa ini, dan satukanlah kekuatan kesadaran rakyat ini menjadi kekuatan masif perubahan.

Juli 15, 2008 Posted by | Blogroll | 1 Komentar

Galau

galau, barangkali itu perasaan yang berkecamuk dalam hati saya. hal ini terkait tugas akhir saya yang memaksa saya mengetahui sedikit tentang konsep ekonomi liberalis-kapitalis.

ya, tugas akhir saya tentang bisnis ketenagalistrikan yang sempat membuat saya terkesima dengan konsep ekonomi yang ditawarkan adam smith. konsep yang mendorong saya berkeyakinan bahwa deregulasi akan membuat iklim bisnis lebih kompetitif adapun ekses negatifnya bisa diselesaikan dengan aturan main yang disepakati bersama. teori teori tentang efisiensi yang dihasilkan dari iklim yang kompetitif yang membuat tidak ada pihak yang dirugikan, konsumen mendapatkan surplus dan produsen memperoleh maksimalisasi profit. konsep konsep keseimbangan pasar yang menggairahkan investasi dalam negeri.

berjalan jalan ke gramedia dan terantuk pada buku pa amien rais membuat saya berpikir ulang tentang keyakinan saya. hal ini terjadi saat saya membaca bab tentang otokritik oleh joseph stiglitz yang dipaparkan dalam buku itu mengenai konsep ekonomi barat. bahwasanya tidak ada invisible hand seperti kata adam smith, namun pihak yang menguasai informasilah yang akan menang.

hal itu membuat saya berpikir bahwa kekuatan pasar yang selama ini menjadi perhatian saya dalam merancang sistem bisnis ini akan selalu ada meskipun kecil dan saat menemukan momennya-saya khawatirkan- akan chaos.

namun, saya juga berpikir, apa yang saya lakukan dan pelajari adalah bentuk manajemen pengelolaan industri ketenagalistrikan yang saya coba cari di ketentuan syar’i tidak pernah di singgung. dan hanya berkaca pada baratlah saya bisa mempelajari pengelolaan industri ketenagalistrikan tersebut. saya tahu sebuah resiko besar yang mungkin terjadi, bila suatu saat sistem saya diimplementasikan di indonesia dan saya membuat kesalahan dengan gagal mengantisipasi ekses buruk, maka bisa jadi kelompok  sejenis mafia berkeley akan kembali muncul.

namun saya juga tahu bila diimplementasikan dan berhasil, maka pahala Allah akan mengalir karena memberi kemanfaatan bagi banyak orang.

tapi, kalaupun tidak diimplementasikan, sekali lagi tidak ada yang kebetulan. berarti Allah berbaik hati pada saya bahwa eksesnya akan buruk.

Juli 11, 2008 Posted by | Keelektroan, my stuff and I | Tinggalkan komentar

CINTA LELAKI BIASA by ASMA NADIA

cerpen yang bikin saya speechless

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

Juli 10, 2008 Posted by | resensi | 1 Komentar

Itachi..

ga tau nih..semua yang gw alamin akhir akhir ni bikin gw pengen nulis tentang uchiha itachi, salah satu tokoh di film naruto. ada kata kata yang dia ucapin di manga naruto yang gw ngerasa kok cocok ama apa yang gw alamin.

kata kata dia yang bener bener ngena di gw tu kayak gini

people live their lives bound by what they accept as correct and true. that’s how they define “reality”.  but what does it mean to be  “correct” and “true” ? merely vague concept..their “reality” may be a mirage. can we consider them to simply by living in their own world shaped by their beliefs ?

seringkali kita dihadapkan pada fakta tentang apa yang menimpa pada hidup kita. dan seringkali pula saat kejadian itu menimpa kita, kita dituntut mengambil tindakan apa yang menurut kita tepat dan -mungkin dimata orang lain-benar. kemudian, pada akhirnya kebenaran dan ketepatan itu kembali berpulang pada diri pribadi masing masing, pada belief yang dimiliki sang diri. apa jadinya bila kemudian terjadi benturan pada konsep tru dan correct, benar dan tepat, dalam mengambil tindakan tersebut ?

pun juga itachi.

benturan true dan correct saat ini menggelayuti benak saya terkait dengan keputusan keputusan yang saya ambil. seringkali saya merasa bahwa saya mengambil keputusan -yang saya pikir- tepat, namun di mata orang lain tidak benar. walaupun saya tau bahwa keputusan ini tidak benar, namun menilik kondisi yang saya alami, saya merasa keputusan saya ini tepat.

saya merasa bahwa tepat itu berdasarkan pertimbangan diri sedangkan benar berdasarkan pandangan luar terhadap hal yang kita putuskan. pada akhirnya, setiap orang memang berkeinginan bahwa keduanya tidak berbenturan. bila memang keduanya berbenturan, belief orang itulah yang akan menentukan.

Juli 9, 2008 Posted by | Blogroll | 2 Komentar

Halal Fair Yang Aneh….

jumat 4 Juli 2008..huff somehow gw pengen banget makan pempek. berhubung hajat ini sudah tidak tertahankan lagi, ya udah deh nekat walaupun puanas bangget cuaca bandung saat itu. setibanya di tempat jualan pempek di daerah dipati ukur gitu, langsung dah mesen 5 buah pempek dan dilahap sampe abis bis bis plus minum 2 botol teh botol (gentong juga perut gw..)

nah ceritanye pas abis makan pempek tuh, keingetan kalo di braga lagi ada pameran pernikahan tradisional gitu deeh. berhubung perut udah kenyang dan pengen ngeliat tu pameran, ya sudah memutuskan untuk meluncur menuju braga. akan tetapi, alangkah pelupanya diriku, mau ke arah braga kok make angkot Riung – Dago. akhirnya gw larut dalam kelupaan di dalam angkot Riung Dago.

nah pas tu angkot ngelewatin lapangan gasibu, olala ternyata ada pameran. dari jauh udah mentereng, pameran tu judulnya HALAL FAIR. perlahan tapi pasti, angkot pun mendekat menuju tepi lapangan gasibu dan ketika melintas di sisi lapangan diperempatan gedung TELKOM alangkah terkejutnya gw bahwa diantara umbul umbul sponsor acara ternyata salah satunya adalah produk ROKOK.

weleh weleh, suableng iki pameran, judule HALAL FAIR, lha sponsore ROKOK ? priben jeh!!

secara tidak langsung hal ini tentu saja akan menggiring paradigma masyarakat bahwa rokok tuh halal. wuaduh muakin runyam masalah. padahal berdasarkan fatwa MUI juga yang bisa diliat di sini atau kalo di situs eramuslim bisa diliat di sono pan udah jelas kalo misalnya ROKOK itu haram.

gampangnya sih, merokok kan lebih besar mudharatnya daripada ga merokok, ngapain masih ngerokok ? jangan bilang buat nambah devisa negara deh, dalihnya rokok itu lapangan kerja padat karya yang selain ngurangi pengangguran bisa nambah devisa negara dari cukainya juga. alasan itu BASI. kalo ngomong tentang padat karya, lha pelacuran juga padat karya judi juga padat karya. keduanya bisa nambah devisa lagi. so, maribung rebut kembali eh setop merokok. untuk kesehatan diri yang lebih baik…

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGUGAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Juli 4, 2008 Posted by | Blogroll | 4 Komentar