Artikulasi Hati dan Otak

Man In The Year..menyoal sepak terjang selebritis dalam politik

sebenernya sudah lama saya nonton film ini, tapi baru keingetan lagi pas ada reviewnya di detik.com

film ini bercerita tentang seorang pelawak yang kerap menggunakan even politik dalam guyonan guyonannya. kemudian, sang pelawak pun memutuskan untuk mencalonkan diri jadi presiden. kemudian, secara mengejutkan, ia terpilih manjadi presiden. tetapi fakta terkuak, ada kesalahan dalam proses pemilu dan ternyata ia kalah. akan tetapi, ia tidak merasa bersedih, justru hal ini menyadarkannya. terpilih menjadi presiden untuk sejenak waktu menyadarkan ia bahwa gedung putih bukan tempat yang cocok baginya. tempatnya adalah di studio televisi dan mengeluarkan candaan candaan cerdas yang justru disukai oleh masyarakatnya.

fenomena tom dobbs (pelawak di film itu) menjadi realitas bagi kondisi politik tanah air.  ada satu kesamaan yang bisa diambil dari hal tersebut, kadangkala popularitas mampu membuat kita berpikir kita bisa menjadi apa saja dan bisa melakukan apa saja terlepas dari kapasitas keilmuan yang kita miliki. saya tidak menggugat kemampuan selebriti dalam menjaring massa, namun apakah dengan kemampuannya itu, ia bisa mengupayakan perbaikan hidup masyarakat dan menyelesaikan persoalan persoalan kehidupan ? kalaupun tidak terbukti secara akademis, maka bukti track record pun tak masalah saat ini.

politik kita telah terjebak dalam sebuah kue popularitas yang memanfaatkan loyang kekurangtahuan masyarakat atas komponen kemenokohan sang tokoh yang salah satunya adalah kompetensi yang dimiliki sang tokoh dan kiprahnya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa saat ini. kita terjebak dalam pilihan pilihan yang membosankan yang disodorkan partai dengan mengusung orang yang populer dalam wajah kata kata bukan dalam wajah karya nyata. pada akhirnya kita pun lelah. kelelahan inilah yang dimanfaatkan parpol untuk menarik animo dari rasa lelah kita. animo yang timbul dari oase fatamorgana utopis janji janji sang calon pemimpin pada masyarakat lelah di padang gersang.

pada akhirnya, kontemplasi seperti tom dobbs harus dipikir lebih lebih dalam oleh -bukan hanya selebritis- namun juga calon pemimpin populis untuk mengetahui dimana ia seharusnya berada. karena, berkontribusi bagi masyarakat bukan hanya menjadi orang yang duduk di gedung sate, istana merdeka, atau gedung putih. namun, berpikirlah dalam perspektif keahlian kita, dan disanalah tempat kita berada. seperti tom dobbs yang akhirnya menemukan bahwa di studiolah tempatnya berada, melontarkan guyonan cerdas yang mencerdaskan masyarakatnya,..

April 7, 2008 - Posted by | kebangsaan

3 Komentar »

  1. Eh btw ada hubungannya sama kemenangan dede yusuf di pilgub ga?
    mau dong filmnya
    pinjemin ya

    Komentar oleh Uchan | April 19, 2008 | Balas

  2. ga ada..cuma iseng aja habis nonton filmnya

    Komentar oleh mrfajarsyah | April 19, 2008 | Balas

  3. hahaha… masalahnya masyarakat kita mau cerdas ga????
    masih bnyak yang mau makan geratis duank dalam hidupnya …😦

    Komentar oleh GlitterPury | Mei 7, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: