Artikulasi Hati dan Otak

Memandang Brain Drain Dari Perspektif Kebutuhan dan Nasionalisme

Fenomena brain drain menjadi sebuah fakta miris yang harus dihadapi Negara – Negara dunia terutama Negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Fenomena ini ditandai dengan beremigrasinya individu – individu bertalenta, berpendidikan, dan terlatih ke Negara lain. Beberapa sebab ditengarai sebagai pemicu fenomena ini, sebut saja masalah penghasilan dan kesempatan kerja sampai kebebasan dalam menentukan pilihan – pilihan hidup. Bila dikaitkan dengan perspektif nasionalisme, apakah individu – individu ini kurang memiliki rasa nasionalisme atau malah pemerintah sendiri kurang memberi kesempatan pada warga negaranya untuk tumbuh berkembang mengaktualisasikan dirinya ?

Bila menganalisis motif terjadinya brain drain sekaligus memadukannya dengan hierarki maslow, ada beberapa alasan yang patut diberi perhatian penuh yaitu, kebutuhan materi dan kebutuhan aktualisasi diri. Kedua kebutuhan ini menempati posisi berkebalikan dari hierarki maslow, kebutuhan materi menempati posisi paling dasar sedangkan kebutuhan aktualisasi diri menempati posisi paling atas. Bila menilik penelitian di Amerika, fenomena brain drain ini terjadi pada usia 24 – 35 tahun yang merupakan masa pasca kampus dimana manusia masih belum mapan secara finansial. Dari fakta ini, bisa ditarik kesimpulan bahwasanya kebutuhan materi menjadi alasan utama bagi pelaku brain drain.

Fenomena brain drain demi alasan materi yang menimpa generasi muda, bukan Cuma di Negara kita namun juga di berbagai belahan dunia seakan menegaskan bahwa semangat kebangsaan mulai luntur seiring derasnya arus globalisasi. Peran Negara – Negara dunia menjadi semacam capital collector dengan human capital sebagai objeknya. Maka Negara dengan daya tarik paling besar akan menang.

Melihat fenomena ini, peran nasionalisme bangsa menjadi sempit sekali sebab sebatas kecintaan pada tempat lahir, sedangkan partisipasi peran dalam pembangunan bangsa menjadi kecil. Maka, scenario global state memang masuk akal dengan didukung fakta ini.  Hal inilah yang harus segera disadari seluruh elemen bangsa agar tidak terjebak dalam scenario global ini.

Bila melihat kondisi demikian, peran lebih pemimpin sebagai penggerak semangat nasionalisme menjadi sebuah keniscayaan. Tidak sebatas pemimpin dalam tataran pemerintahan, namun yang lebih penting lagi adalah pemimpin – pemimpin komunitas yang lebih dekat dengan masyarakatnya. Pemimpin – pemimpin inilah yang seharusnya menjadi penyala obor nasionalisme yang mulai luntur terutama di kalangan generasi mudanya sehingga mampu menghindari fenomena brain drain.

Nasionalisme inilah yang mulai meluntur di kalangan generasi muda sehingga fenomena brain drain terjadi. Hal ini bisa dipahami mengingat bila kita coba memadukan nasionalisme dalam kerangka hierarki maslow sendiri, nasionalisme hanya akan muncul pada orang – orang yang telah sampai di kebutuhan puncak yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Maka dari itu, perlu langkah – langkah strategis dalam menumbuhkan nasionalisme dengan mencukupi kebutuhan individu – individunya. Dalam hal ini, kita harus belajar banyak dari Taiwan.

Taiwan menjadi contoh istimewa dari parahnya mereka mengalami brain drain, sekaligus betapa suksesnya mereka menggaet para braindrainernya untuk kembali atau berkontribusi positif terhadapnegaranya. Tahun 1970-an, posisi Taiwan adalah layaknya Indonesia saat ini. Saat itu, Taiwan adalah tipikal negara berkembang yang hanya bisa menyuplai banyak tenaga kerja murah bagi negara maju. Hubungan dengan negara-negara maju dalam ekonomi maupun Iptek selayaknya Indonesia sekarang. Bukan berdiri sama tinggi ataupun duduk sama rendah.

 

Sementara itu, banyak dari kalangan cerdas atau intelektual Taiwan bersekolah lalu bekerja di Negara maju, seperti Amerika Serikat.Tahun 1980-an, Pemerintah Taiwan mengubah arah kebijakan yang membuat iklim ekonomi dan pengembangan Iptek Taiwan lebih kondusif. Mulailah Pemerintah Taiwan mendekati para brain drainer yang berdiam di LN dan sudah banyak mempunyai modal. Mereka di harapkan dapat berkontribusi modal untuk pembangunan negaranya.

 

Pendekatan simpatik dari pemerintah bersambut. Para warga negara Taiwan yang tingal di LN berbondong berbalik ke Taiwan dan menjadi reversed brain drain. Para SDM unggul ini, tidak hanya menyumbangkan modalnya, bahkan pikiran dan karyanya pada negaranya.Contohnya, Miin Wu, “braindrainer” yang lulus PhD dari Stanford tahun1976. Lalu dia bekerja sebagai profesional di Silicon Valley dan kembali ke Taiwan 1989. Setelah kembali ke Taiwan, Wu mendirikan perusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi salah satu perusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan dengan omset $ 300juta/tahun dan menyerap 2 800 tenaga kerja. Dengan iklim yang sehat dan kondusif ini, sekarang Taiwan tidaklah menjadi negara yang takut kehilangan orang-orang pintarnya.Sebagaimana dilaporkan dalam Financial Development tahun 1999, hanyakurang dari 10% warga negara Taiwan yang lulus PhD di tahun 1990 yangtetap tinggal di US sampai tahun 1996. Atau, hampir sebagian besar mereka kembali ke negaranya. Sejak tahun 1990 ini, Taiwan diakui sebagai negara yang leading dalam bidang ekonomi dan teknologi informasinya. Semua berkat reversed brain drain!

 

Langkah diatas adalah langkah awal yang tepat sebelum menanamkan pola pikir nasionalisme untuk mencegah brain drain sebab jauh lebih mudah menggugah intelektual yang notabene membutuhkan aktualisasi dirinya daripada menggugah masyarakat luas yang kebutuhannya masih berkisar di kbutuhan dasar. Bila langkah ini telah terlaksana, barulah kita bicara tentang pola pikir nasionalis pada masyarakat luas.

 

 

Desember 25, 2007 - Posted by | kebangsaan

3 Komentar »

  1. Orang cerdas, seharusnya cukup cerdas utk tidak mau ke-cerdas-an nya dihargai seperti orang tdk cerdas
    😀 semoga tdk bingung

    -salam kenal-

    Komentar oleh rezco | Desember 26, 2007 | Balas

  2. yup, paham kok
    -salam kenal juga-

    Komentar oleh mrfajarsyah | Desember 26, 2007 | Balas

  3. Assalamu’alaykum….

    minta izin ambil brain drain buat tugas kuliah dan tambahan tesis.

    Komentar oleh purna | Juni 24, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: