Artikulasi Hati dan Otak

Cinta di atas Cinta

hari ini teringat “masa lalu”, masa yang telah lama ingin kubenamkan memorinya.namun, hari ini entah kenapa rasa ini mengemuka kembali..maka kubuka lembaran demi lembaran buku “mencari pahlawan Indonesia” dan membaca artikel ini..berikut ringkasannya.

perempuan oh perempuan!Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit daripada yang kita bayangkan. apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan?keagungan!

itulah pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. namun, ia dibesarkan di lingkungan istana bani umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulaman. ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. shalat jamaah kadang tertunda gara – gara ia masih sedang menyisir rambutnya.

namun justru saat menjadi khalifah, kesadaran spiritualnya tumbuh mendadak pada detik kemunculannya. ia pun bertaubat. “Aku takut pada neraka” katanya menjelaskan rahasia perubahannya pada seorang ulama terbesar zamannya, Al Zuhri.

ia pun memulai perubahan besar yang melingkupi anak, istri, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyat. kerja kerasnya membuahkan hasil, walau hanya memerintah 2 tahun 5 bulan ia berhasil memakmurkan dan memberi keadilan dan kejayaan bagi rakyat dan negerinya.

akan tetapi semua ada harganya. fisiknya anjlok. saat itulah sang istri datang membawa kejutan besar, menghadiahkan seorang gadis pada suaminya untuk dinikahinya (lagi). ironisnya, hal ini karena Umar telah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebalikny. Namun, istrinya Fatimah tiada pernah mengizinkan atas nama cinta dan cemburu. sekarang, justru istrinyalah yang membawanya sebagai hadia, sebagai bentuk dukungan moril baginya.

itulah saat terindah dan mengharu biru dalam diri umar. kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali dan menyalakan api cinta yang telah membakar segenap jiwanya. namun, cinta ini hadir kembali di jalan pertaubatannya, ketika cita – cita perubahan belum selesai. Cinta dan CIta bertarung disana, dihati Umar.

apa yang salah jika Umar menikahi gadis itu?Tidak ada!!!tapi apa jawabannya ? “Tidak, Ini tidak boleh terjadi.Saya benar – benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia semacam ini” kata Umar. Cinta yang terbelah diantaa kesadaran psiko-spiritual berujung pada keagungan. Imar mmenangkn cinta yang lain, cinta di atas cinta!akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.

TIDAK ADA CINTA YANG MATI DISINI. karena sebelum meninggalkan rumah umar, gadis itu bertanya dengan sendu, “Umar, dulu kau pernah sangat mencintaiku.tapi kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, namun kemudian menjawab, ” CINTA ITU MASIH TETAP ADA, BAHKAN KINI RASANYA JAUH LEBIH DALAM”

SELESAI

membaca fragmen kisah ini, selalu menimbulkan kesan yang sama bagi saya. inilah jalan saya, jalan perubahan. memang pernah ada seseorang (cuma 1) yang menjadi tempat hati ini bertaut di masa lalu, dan saya memutuskan untuk berubah selepas membaca buku NPSP…memang apa yang dikatakan buku itu benar, cobaan paling besar adalah setelah keputusan itu diambil. ingatan dan memori masa lalu sering kali hadir, dan saat jiwa lemah menjadi begitu rupa rupa rasanya…

namun, hikmah yang bisa saya ambil dari sana adalah bahwa ketika saya memutuskan untuk mencinta, maka konsekuensinya saya akan berjuang demi cinta itu dan sekiranya saya tidak bisa mendapatkan cinta itu maka terimalah dengan lapang dada dan jiwa besar. karena sekali lagi, tidak ada cinta yang mati disana namun saat kita menerima takdir Allah sebagai yang terbaik bagi manusia, maka kita akan menemukan bahwa disanalah letak keagungan cinta yang terbingkai dalam rasa yang meneguhkan saya untuk tetap setia pada jalan pertubatan dan juga rasa tenang bahwasanya sang tercinta hidup disana dengan yang terbaik dan tentu saja semua rasa ini adalah lebih dalam daripada cinta yang sebelumnya…

untuk kau yang disana, smoga keberkahan, rahmat, hidayah dan kebahagiaan senantiasa tercurah padamu…

Desember 15, 2007 - Posted by | kontemplasi, my stuff and I

2 Komentar »

  1. tuh kaaan, bukunya bagus banget kaaan… ^.^
    (lah, kok aku bangga banget yah, padahal yang nulis pak salim, bukan aku.., hehe..)

    Komentar oleh precious-soul | Desember 26, 2007 | Balas

  2. yup sheila, andai membaca buku ni sebelum mengambil keputusan itu…

    Komentar oleh mrfajarsyah | Desember 26, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: