Artikulasi Hati dan Otak

Kepahlawanan Kolektif, Introspeksi dan Visi

“ Manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan mampu menjadi superman, namun dengan kelebihannya mampu menjadi superteam “

 

Layakkah bangsa ini terpuruk? Bangsa ini memiliki banyak kelebihan dalam segi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia. Namun, potensi sumber daya manusia yang sedemikian besarnya belum mampu mengeksplorasi sumber daya alam yang ada sehingga mampu mendatangkan kemakmuran bagi bangsa ini.

 

Manusia bangsa ini bukan manusia – manusia bodoh. Anak – anak bangsa kita mampu meraih prestasi terhormat dalam pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia sekalipun, melalui olimpiade. Putra – putra bangsa ini juga yang mampu berbicara di pentas internasional melalui karya monumentalnya seperti Pak Habibie. Berapa banyak elemen bangsa ini yang bergelar Doktor bahkan Profesor, namun kedaan bangsa ini masih saja carut marut.

 

Kita memang memiliki kecerdasan yang mampu bersaing dalam tataran internasional dalam ruang lingkup individu, namun ketika berbicara dalam tataran kolektif, masih ada yang harus dikompromikan antar individunya. Ketika kita masih berada dalam kondisi menyamakan kepentingan antar individu artinya kita belum memiliki satu visi kebangsaan yang sama. Ambil contoh dalam aspek teknologi. Teknologi saat ini masih terparsialkan dalam penentuan kebijakan politik kita yang masih sebatas suara dan lobi, belum menyentuh konten. Harus ada mainstream politik baru yang mengintegrasikan semua aspek sehingga politik kita berhasil menyentuh aspek konten politiknya tidak sebatas suara dan lobi semata.

 

Kita pernah melewati sebuah masa yang singkat dimana aspek – aspek kehidupan dari sosial, politik, ekonomi, teknologi berjuang bersama dalam mengangkat kondisi bangsa. Hanya saja aspek budaya dan pertahanan keamanan masih menjadi kendala utama yang merusak harmonisanya selain politik yang memang bermata dua. Masa itu adalah masa Habibie menjabat sebagai presiden. Konsep Habibienomics yang mengedepankan produksi demi mengangkat perekonomian mampu menaikkan kondisi perekonomian kita yang masih terpuruk menjadi lebih baik, walaupun belum baik benar. Sekilas konsep ini menyerupai konsep reformasi ekonomi Park Chung Hee saat mejabat sebagai presiden republik korea. Konsep Industrialisasi berbasis ekspor ternyata berimbas besar pada kehidupan perekonomiannya jauh setelah ia tidak berkuasa lagi. Ketahanan ekonomi mikro yang terbentuk dari mapannya industri rumah tangga mampu membuat Korea menjadi negara pertama yang lepas dari jeratan krisis ekonomi yang melanda
Asia tahun 1998. Kemapanan bangsa ini turut dubangun oleh kebijakan ekonomi, pemanfaatan   teknologi, kebijakan politik, sosial kemasyarakatan, dan budaya bangsa, semuanya terintegrasi.

 

Ketika berbicara tentang integrasi semua aspek kehidupan, kita butuh figur – figur yang memiliki spesialisasi dalam keilmuan dan wawasan global dalam tingkat pemikiran sehingga mainstream ini mampu menjadi masif dan memfasilitasi transformasi kehidupan bangsa ini. Kita sudah tidak akan membicarakan lagi figur – figur ratu adil yang dikultuskan, tapi sebuah sistem besar transformasi dengan figur – figur itu sebagai instrumen utama penggeraknya. Kekolektivitasan menjadi sebuah energi dalam menggerakkan sistem besar ini, sinergi menjadi senjata utama sistem ini.

 

Justru disinilah letak problematikan krusial bangsa ini. Untuk menjamin harmonisasi kekolektivitasan, kesediaan figur – figur untuk ’hanya’ menjadi instrumen sistem amat dibutuhkan, loyalitas inilah yang memang kurang dipunya oleh bangsa ini. Kepentingan dan ambisi pribadi masih menjadi hal yang begitu menggoda bagi figur untuk ’berjuang’ sedangkan urusan kompetensi dan spesialisasi entah ditempatkan di nomor berapa. Padahal, kepahlawanan kolektif ini bergantung pada spesialisasi dan kompetensi instrumen – instrumennya.

 

Pada akhirnya, sebuah mainstream pergerakan yang mengkombinasikan serta memaksimalkan potensi dan kapabilitas instrumennya akan mampu mewujudkan cita – cita besar bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang gemah ripah loh jinawi, baldah thoyyibah wa rabbun ghafur. Bahkan, untuk mewujudkan cita – cita itu, seorang superman pun tak akan mampu, tapi sebuah superteam punya kans besar mewujudkannya, tinggal bagaimana memfokuskan kerja instrumen – instrumennya dan merangkai kerja dan karyanya menjadi tinta emas yang menghiasi sejarah bangsa ini.

November 26, 2007 - Posted by | kebangsaan, kontemplasi

3 Komentar »

  1. Betul akhi. Lahan riyadhah (Latihan) ada di dekat kita.
    Asrama PPSDMS ini dengan berbagai macam potensi manusia di dalamnya selayaknya mampu mengangkat martabat minimal orang di sekitar kita. Pencerdasan terhadap mereka agar mampu hidup dengan lebih cerdas, lebih mulia seharusnya bisa kita lakukan dengan optimal.

    Perubahan positif di masing-masing organisasi tempat kita berada juga seharusnya dapat kita lakukan bersama. Kita disini adalah orang-orang terpilih diantara orang terpilih, maukah kita mensia-siakannya.

    Pertanyaan singkat yang ternyata akh fikri pun belum bisa menjawabnya:
    Apabila antum dipercaya memimpin 29 orang yang ada di PPSDMS ini, kira-kira apa kontribusi yang bisa antum berikan kepada umat?

    nb: Bib, Ketika Cinta Bertasbih 2 sudah keluar, mau beli?🙂

    Komentar oleh Tri Aji Nugroho | November 28, 2007 | Balas

  2. setiap orang memiliki tingkatan (marhalah..halah) yang berbeda – beda. kalo make tingkatannya abraham maslow, yang paling tinggi itu adalah self actualization sebelum transcendental relationship. nah tinggal gimana mengakselerasi sampe tingkat sana.
    bicara tentang ‘mensia – siakan’ , jadi inget ‘penemuan’ku atas realitas asrama tadi siang..tapi ya sudahlah. let me keep that secret. if I am right about this, I will know “him” as most hypocrite person I’ve ever met.but if I’m wrong, hopefully I am.

    nb reply: pengen beli sih, tapi ngitung – ngitung budget. tapi kayaknya budget lumayan surplus..ada tambahan penghasilan sih..apalagi kalo gaji proyek udah keluar..pengen beli laptop biar PC nya bisaditaro di rumah buat adikku.

    Komentar oleh mrfajarsyah | November 28, 2007 | Balas

  3. Bib, soal yang ‘itu’ baiknya segera ente tabayunin langsung ke orangnya. Mungkin dia sebenarnya memang tidak ingin melakukan hal tersebut, tetapi apa daya kalau terjebak dan tidak ada yang mengingatkannya.

    Coba ambil tindakan. Karena obat itu pahit, tetapi menyehatkan.

    Komentar oleh Tri Aji Nugroho | Desember 11, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: