Artikulasi Hati dan Otak

menyoal peran manusia

tergelitik menulis tema ini setelah berdiskusi dengan sahabat via sms. semuanya diawali oleh perasaanku yang merasa ada yang aneh dengan sms – sms sahabatku itu. saya merasa dia sedang dalam kondisi tertekan atau dalam kondisi kebimbangan. akhirnya saya memberanikan diri meng-sms-nya

inti dari diskusi kita adalah tentang peran manusia. teman saya berpendapat bahwasanya ia merasa takut tidak dapat mencapai hal – hal ideal. orang – orang terlalu berharap dan menuntut banyak dari dirinya. ketika membaca sms-nya, sejujurnya aku pernah mengalami hal yang sama. pada akhirnya saya putuskan ‘mengalah’. memang pertama akan sangat sulit karena ego kita berharap lebih. namun kemudian saya sadar bahwasanya ini memang tanggung jawab saya bukan kehendak mereka.

kemudian, beliau mempertanyakan mengapa saya ‘mengalah’, beliau mempertanyakan mengapa manusia selalu terjebak dalam dualisme peran. di satu sisi dia bebas dan berhak atas dirinya, di sisi lain dia terikat dengan orang lain. bagaimana memadukan keduanya supaya sejalan ? dan ga ada yang harus mengalah.

sejurus saya hampir merasa setuju dengan pendapatnya. kemudian saya mencoba merenungi apa yang telah aku putuskan dengan sikap ‘mengalah’ ku pada beberapa hal. kemudian aku menemukan sesuatu yang berbeda dengan pendapatnya. dimataku manusia tidak terjebak dalam dualisme peran, namun memang manusia memiliki multi-peran. dan mencari jalan yang terbaik dari peran – peran tersebut adalah bukan dengan maksimalisasi salah satu peran namun dengan optimalisasi peran – peran yang kita punya sehingga kita bisa menunaikan kewajiban kita pada orang lain pun juga hak kita sebagai manusia pribadi.

memang, menyoal peran ini adalah tak ada habisnya. semua bergantung dari sudut pandang pribadi masing – masing. namun, pelajaran yang saya ambil dari ramadhan kali ini membuktikan bahwasanya penurutan ego dalam mencari titik temu antar peran yang dimiliku hanya akan membuat jurang antar peran semakin besar. maka dari itu yang terpenting adalah menyadari apa yang menjadi tanggung jawab kita. peran – peran yang kita miliki tidak lantas menjadikan tanggung jawab kita pada pihak yang terkait dengan satu peran kita menjadi terbagi. semuanya membuat satu doa menjadi lebih sering kupanjatkan

“Allahumma Alhimnii Rusydii, wa A’iznii min kulli nafsii..”

Oktober 19, 2007 - Posted by | kontemplasi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: