Artikulasi Hati dan Otak

Menyoal Perbedaan Penetapan 1 Syawal

Momen 1 syawal setiap tahunnya hampir selalu dihiasi dengan perbedaan penetapan tanggalnya. Perbedaan ini disebabkan oleh berbedanya penggunaan metode dalam menentukan akhir Ramadhan yaitu hisab dan rukyat. Bagi sebagian masyarakat, perbedaan ini menjadi sumber masalah penyebab terjadinya friksi dan riak – riak perpecahan dan permusuhan di kalangan masyarakat akar rumput. Bagi sebagian lain, perbedaan ini menimbulkan kebingungan sebab tidfak adanya ketegasan dari pemimpin masyarakat maupun pemerintah dalam mengupayakan titik temu sebagai fasilitator persatuan umat.

Hal ini menyisakan elegy tersendiri bagi kehidupan masyarakat Islam khususnya di Indonesia. Perbedaan akibat hal yang kecil menjadi sedemikian besarnya, hingga mampu menimbulkan perpecahan atau setidaknya hilangnya persatuan dan kesatuan umat.  Pada akhirnya, apakah mungkin umat ini akan mampu melihat dan menyikapi persoalan yang jauh lebih besar seperti kasus palestina, apabila dalam mensolusikan hal sepele semacam ini saja tidak mampu ? pertanyaan ini menjadi PR besar bagi upaya mencari momen kebangkitan umat Islam, bukan hanya di Indonesia, namun di seluruh dunia sekalipun.

Sudah sepantasnya umat islam meninggalkan kata – kata “Perbedaan adalah rahmat” yang selalu mengemuka tatkala muncul perbedaan termasuk perbedaan penetapan tanggal ini. Karena aksioma perbedaan adalah rahmat bila dinegasikan akan menimbulkan munculnya aksioma persamaan adalah laknat. Selain itu, bukti empirik menunjukkan bahwasanya perbedaan itu selalu menimbulkan perpecahan. Apabila perbedaan adalah rahmat, maka mengapa Rasulullah menunjukkan mekanisme musyawarah sebagai ajang mencari titik temu ?

Menyikapi hisab dan rukyat

Tak bisa dipungkiri bahwa ulama penganut metode hisab atau rukyat pasti memiliki dalil – dalil baik itu hadits maupun ayat Al Quran dalam melakukannya. Tentunya tulisan ini tak hendak memperbandingkan dalil – dalil yang dimiliki oleh para ulama penganut metode hisab atau rukyat tersebut sebab apabila dalilnya sama – sama kuat maka tidak aka nada titik temu. Maka dari itu, perlu ada paradigma lain dalam mencari titik temu yang diharapkan mampu menjadi jalan bagi persatuan umat.

Hal yang jauh lebih penting dari metode adalah tujuan. Karena tujuan itu bersifat tetap sedangkan metode bisa fleksibel. Maka dari itu, penggunaan metode hisab atau rukyat diserahkan pada pemimpin masyarakatnya selama tujuannya tercapai yaitu menetapkan masuknya awal bulan.

Akan tetapi, kasus yang terjadi di Indonesia berbeda. Sering kali perbedaan metodologi ini tidak diupayakan titik temunya oleh para pemimpin masyarakat maupuan pemerintah sehingga walaupun tujuannya tercapai namun aspek yang lebih penting dari semuanya menjadi terabaikan. Aspek yang terpenting tersebut adalah ukhuwah islamiyah. Aspek ukhuwah islamiyah ini harus diletakkan diatas persoalan penetapan tanggal ini. Karena kekeliruan penetapan tanggal ini adalah hal yang diampuni. Sebab, seandainya ada orang yang mengaku telah melihat hilal Ramadhan atau syawal sehingga menyebabkan orang berpuasa sehari di bulan Sya’ban atau berbuka sehari di bulan Ramadhan, maka Allah sangat mungkin mengampuni kesalahannya. Allah telah mengajari manusia untuk berkata :

“Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau keliru (Al Baqrah 286)1

Maka dari itu, suatu perkara yang diampuni sudah selayaknya dinomorduakan dalam segi prioritas daripada suatu hal yang lebih penting yaitu persatuan umat Islam atau Ukhuwah Islamiyah. Paradigma ini diharapkan mampu menyelamatkan umat dari perselisihan yang sengit akibat perbedaan penetapan masuknya bulan baik itu Ramadhan maupun Syawal. Hal ini merupakan sebuah langkah awal dalam mewujudkan persatuan umat yang didambakan terutama dalam melakukan syiar – syiar keagamaan dalam kehidupan.

Peran Pemerintah

Usaha mewujudkan persatuan umat sudah menjadi tanggung jawab bagi para pemimpinnya. Ada sebuah itikad baik saat perwakilan dua ormas besar Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah duduk bersama dalam membahas masalah ni. Namun harapan untuk menemukan titik temu itu sirna tatkala hasil dari pertemuan itu hanya untuk mengumumkan bahwa mereka berbeda dalam penetapan tanggalnya. Pada akhirnya, lagi – lagi umatlah yang dibingungkan akibat perbedaan pendapat pemimpinnya itu.

Paradigma bahwasanya setiap hal yang berpotensi menimbulkan perselisihan atau perpecahan di kalangan umat harus dihilangkan harus menjadi bagian yang integral bagi pemimpin umat. Bahkan apabila ada suatu lembaga elemen pemerintah yang ditugasi menetapkan hilal dalam suatu Negara yang berpenduduk muslim dalam perspektif Indonesia adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), maka seluruh kaum muslimin termasuk di dalamnya ormas – ormas islam, harus taat. Hal ini disebabkan ketaatan padanya merupakan hal yang ma’ruf meskipun mungkin keputusan tersebut berbeda dengan keputusan di Negara lain karena setiap Negara memiliki ru’yah yang berbeda – beda.

Pada akhirnya, peran aktif pemerintah dalam usaha mewujudkan persatuan dan kesatuan umat merupakan hal yang selalu dituntut. Jangan sampai suatu hal sekecil apapun yang menimbulkan perbedaan dan menyebabkan perselisihan dan perpecahan dibiarkan bahkan diabaikan. Hal ini berpotensi pada ketidakmampuan umat ini untuk bangkit dari keterpurukan.

Bagi pemerintah Indonesia, mewujudkan persatuan kaum muslimin harus diupayakan semaksimal mungkin. Karena tak bisa dipungkiri bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim, dan kebangkitan muslimin bisa berkorelasi dengan kebangkitan bangsa ini. Selain itu, diharapkan ada kedewasaan bersikap dalam menyikapi perbedaan dan sikap mengupayakan persatuan dari para pemimpin ormas – ormas islam sehingga kebingungan dan perselisihan umat akibat perbedaan yang timbul bisa dihindari.

Oktober 7, 2007 - Posted by | kebangsaan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: