Artikulasi Hati dan Otak

Menyoal Penggunaan Listrik Selama Ramadhan

Ramadhan selalu menjadi momen dimana jam aktivitas manusia meningkat. Imbasnya, pemakaian listrik sebagai sarana penunjang aktivitas pun meningkat. Hal ini bisa dilihat dari perubahan jam beban puncak yang pada bulan lain berkisar antara jam 17.00 – 22.00, pada bulan Ramadhan ini bertambah dari jam 03.00 – 06.00, saat dimana umat muslim tengah melakukan makan sahur dan ibadah lainnya.  Penambahan jam beban puncak ini menimbulkan masalah bagi daerah – daerah yang memang kekurangan pasokan daya.  Seperti yang terjadi di Bengkulu, gempa yang terjadi mengakibatkan kinerja pembangkit daya terganggu hingga sampai ke Sumbagut. Kondisi jaringan listrik Sumatra ini semakin parah dengan beban berlebih yang dialami provinsi Lampung dimana beban puncaknya mencapai 360 MW padahal kapasitas suplai dayanya sendiri berkisar di angka 298 MW. Di Pulau Jawa, yang relatif tidak memiliki masalah terhadap suplai energy listrik nampaknya tidak bisa memanfaatkan kenikmatan penggunaan energy listrik ini untuk tujuan yang bermanfaat. Hal ini terlihat dari tingginya rating acara Ramadhan di televisi. Jam beban puncak sangat mungkin diakibatkan karena menyalanya televisi di seantero penjuru Indonesia. Jika acara yang ditonton menunjang prduktivitas dan religiusitas tentunya bukan masalah. Namun, berkaca dari tayangan Televisi kita, maka harapan itu terlalu jauh. Hal ini menimbulkan ironi tersendiri bagi kondisi kelistrikan tanah air. Di satu belahan daerah kekurangan pasokan listrik, di sisi lain penggunaan listrik tidak menunjang perlombaan kebaikan selama Ramadhan. Bahkan, hal itu mengesankan kekurangseriusan dalam menjalani Ramadhan dengan tontonan lelucon tanpa makna.  Realitas yang terjadi menggambarkan fakta tentang karakter kita sebagai sebuah bangsa. Memulai hari dengan suguhan lelucon tentunya sama sekali jauh dari makna produktivitas dan keseriusan berkarya. Ditambah lagi kekurangsadaran kita bahwa Negara ini tengah menghadapi krisis energy membuat kita adalah kumpulan orang – orang egosentris yang membentuk sebuah bangsa. Pada akhirnya, kepentingan bangsa sendiri terabaikan karena keinginan pribadi dalam hal yang kecil sekalipun seperti penggunaan fasilitas listrik negara. Pada akhirnya, sense of belonging masyarakat Indonesia terhadap bangsa dan Negara dipertanyakan. Listrik yang notabene hanya dinikmati oleh hanya 57 % masyarakat Indonesia, bahkan telah menikmati paket subsidi pula didalamnya, tidak bisa dimaksimalkan potensinya untuk menunjang produktivitas kerja. Hal ini bisa dilihat dengan tingginya rating televisi pada acara – acara yang kurang memiliki muatan pengetahuan dan lebih besar konten hiburannya. Di sisi lain, Negara terus menerus merugi akibat penggunaan listrik ini. Pada tahun 2006 kemarin, kerugian Negara akibat pelayanan listrik mencapai Rp. 1.08 Trilyun. Lantas, apakah pantas kita memanfaatkan fasilitas listrik Negara yang bahkan Negara pun rugi karenanya hanya untuk hiburan semata ? Memaknai kembali penggunaan listrik di ramadhanRamadhan memberi kesempatan bagi pribadi bahkan komunitas bangsa untuk berkontemplasi dan mengarifi dirinya serta lingkungannya. Paradigma bangsa ini dalam menyikapi fasilitas termasuk listrik harus dibenahi. Fasilitas selalu menjadi sebuah tuntutan yang selalu ingin terpenuhi bagi bangsa ini. Namun kita harus sadar, bahwa pemberian fasilitas tanpa bekal karakter dan sense of awareness hanya membuat fasilitas tersebut sedemikian melenakan dan menjauhkan dari realitas. Realitas bahwa tidak semua orang mendapatkan fasilitas yang sama. Maka, jadikan listrik ini sebagai sebuah fasilitas guna menunjang pelaksanaan ibadah Ramadhan menjadi lebih produktif dan lebih bermakna. Prinsip 3 M yaitu Mulai dari diri sendiri, mulai dari dari hal terkecil, mulai dari sekarang agaknya tepat untuk memulai sebuah revolusi besar karakter bangsa Indonesia salah satunya dalam penggunaan energy listrik ini. Prinsip yang harus dipegang dalam penggunaan energy listrik ini adalah prinsip kemanfaatan dan kolektivitas. Kedua poin diatas tidak seimbang proporsinya di konsumen listrik Indonesia. Proporsi yang paling besar adalah proporsi hiburan dan kenyamanan seperti pada penggunaan televisi dan Air conditioner yang memakan daya banyak. Pada akhirnya, mari jadikan Ramadhan kali ini sebagai sebuah wahana mendidik sense of nation dan sebagai wahana nation and character building Indonesia, dalam hal terkecil seperti penggunaan tenaga listrik sekalipun. Sebab, cara kita menyikapi hal yang kecil, menunjukkan pula cara kita menyikapi sesuatu yang besar.  

September 23, 2007 - Posted by | kebangsaan, Keelektroan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: