Artikulasi Hati dan Otak

Menghargai Pahlawan

(dilatarbelakangi atas peristiwa peresmian patungsoekarno hatta di dekat bandara)

Abu Ubaid* begitu bangga akan kemenangan demi kemenangan yang ia dapatkan dalam perang melawan Persia untuk pembebasan Irak. Kini, pasukannya kembali berhadapan dengan pasukan Persia yang dipimpin oleh Bahman Jadhuweh. Hanya sungai yang memisahkan pasukan muslimin dan pasukan Persia.
Utusan Persia pun datang memberikan tawaran
„Pasukan kalian yang myeberang sungai, atau pasukan kami ? „
Dengan yakin Abu Ubaid memutuskan bahwa pasukan muslimin lah yang akan menyeberang sungai yang lebar itu.
„jangan biarkan orang – orang Persia itu lebih berani mati daripada kita“
Abu Ubaid telah lupa akan nasihat Amirul Mukminin Umar, agar mendengarkan pendapat para veteran perang badar. Pahlawan badar yang turut berjuang di sisi Abu Ubaid. Salit bin Qais adalah salah satunya. Salit sendiri berpendapat bahwa amat riskan dan berbahaya bagi pasukan muslimin untuk menyeberang sebab pasukan persia lebih mengerti kondisi geografis daerah tersebut.

Akan tetapi, Abu Ubaid tetap pada keputusannya semula. Ia yakin kemenangannya akan berlanjut. Ia sendiri tidak menginginkan orang – orang Persia terlihat lebih berani mati daripada pasukan muslimin. Ia telah melupakan nasihat umar. Nasihat yang bermakna hargailah para pahlawan yang ada di sampingmu. Akhirnya pasukan muslimin pun mengalami kekalahan menyakitkan dalam perang yang dikenal dengan perang jembatan itu. Salit dan Abu Ubaid pun akhirnya syahid dalam perang tersebut.

Umar telah memberikan nasihat yang berharga bagi seorang anak muda yang hendak meretas jalan kepahlawanannya. Nasihat yang menunjukkan cara menghargai para pahlawan dengan menempatkannya sebagai seorang guru dan penasihat bagi pemimpin muda yang penuh semangat.

Pahlawan itu dilihat dari kebijaksanaan mereka yang menyemai karena pengalaman sejarahnya walaupun karakter lahir mereka sendiri bukan tergolong orang yang bijaksana.

Seperti Salit,ia adalah tipikal orang yang tergopih – gopoh dalam perang. Maka, ia tidak dijadikan pemimpin pasukan dalam perang. Ia memilih Abu Ubaid sebagai pemimpin perang yang memang membutuhkan seseorang yang lebih tenang, sabar, dan tabah dalam menjalani ganasnya peperangan.

Tapi Umar menempatkan Salit sesuai kapasitasnya sebagai seorang pahlawan. Sebagai guru. Sebagai penasihat. Sebagai pemberi masukan bagi pemimpin. Semua itu karena ia memiliki kebijaksanaan yang didapat dari tempaan pengalaman sejarahnya.

Kebijaksanaan karena tempaan pengalaman sejarah inilah yang merupakan harta karun terbesar dari seorang pahlawan. Bukan cerita heroic dan patriotiknya. Bukan pula banyaknya bintang jasa atau harta rampasan perang yang didapatnya. Dan harta karun terbesar ini bukanlah harta statis, namun mampu menular dan menginspirasi banyak orang.

Maka dari itu, menghargai seorang pahlawan bukan dengan jalan membangun patung – patung replica dirinya. Penghargaan semacam ini akan menimbulkan salah kaprah dan pengerdilan makna kepahlawanan itu sendiri. Salah kaprah sebab orang akan melihat bahwa penghargaan atas jasa pahlawan itu dalam segi kebendaan. Lantas apakah bedanya dengan berhala ? hal ini jelas mengerdilkan makna kepahlawanan. Sebab orang akan mengenang kepahlawanan hanya dari apa yang pernah ia lakukan, pada akhirnya semuanya hanyalah kisah sejarah yang menjadi sebatas pengetahuan semata. Makna itu terlalu kecil untuk orang sekaliber pahlawan.

Pahlawan sejatinya adalah orang yang mampu menginspirasi bagi banyak orang sehingga orang orang tersebut meneruskan kerja – kerja sejarahnya atau memulai kerja – kerja besar kepahlawanan di aspek lain. Sehingga, penghargaan terhadap para pahlawan adalah meneruskan kerja – kerja besar kepahlawanan itu atau memulai kerja besar di bidang lain. Maka jasa besar seorang pahlawan adalah inspirasinya yang diberikan ke generasi selanjutnya dengan kebijaksanaan akibat tempaan pengalaman sejarahnya. Sedangkan bagi generasi selanjutnya, menghargai para pahlawan adalah mengkonversi inspirasi itu menjadi ledakan energi kerja dan karya untuk memulai atau melanjutkan estafet kepahlawanan itu sendiri.

Maka lihatlah sejarah Islam yang memesona sebagai untaian zamrud kerja besar instrument – instrument nya. Dimulai dari seorang Rasulullah hingga ditaklukkannya rumawi dan Persia dibawah bendera Tauhid. Apa yang bisa kita lihat ? hasil kerja mereka secara kolektif, bukan kerja secara individu bahkan siapa yang mengerjakannya. Musanna bin Haritsah, Qa’Qa’ bin Amr, Khalid bin Walid, Tulaihah bin Khuwailid adalah orang – orang besar yang turut menjadi arsitek sekaligus kuli dari bangunan sejarah tersebut. Tetapi saya yakin orang lebih mengenal untaian hasil kerja mereka berupa penaklukan rumawi dan persia dibandingkan kisah mereka secara individu seperti penggalan kisah kemenangan Musanna dalam perang Buwaib yang menjadi salah satu mata rantai penaklukan persia. Semua ini karena kepahlawanan sendiri yang bukan merupakan kerja individu tetapi estafet kerja kolektif dari pahlawan – pahlawannya.

Hal diatas tentunya berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Kepahlawanan dipandang sebagai potongan – potongan tak beraturan dari kerja – kerja individu yang amat susah disatukan. Seperti soekarno dengan PNI nya, Tan Malaka, Semaun dengan PKI –nya, dan lain sebagainya. Pada akhirnya bangsa ini melihat kepahlawanan dalam perspektif jasa yang diberikan individu bukan kerja kolektif.

Akibat yang kongkrit terjadi pun bukan main – main. Pembangunan bangsa dan karakternya mandheg. Ini PR besar persepsi kepahlawanan kita. Pada akhirnya bangsa ini kehilangan harta karun terbesar kebijaksanaan pahlawan karena tempaan pengalaman sejarah yang seharunya telah melahirkan instrumen – instrumen pahlawan baru yang meneruskan atau memulai estafet kerja kolektif kepahlawanan. Maka wajarah jika banyak generasi muda yang mengklaim sebagai generasi pengganti bukan generasi penerus sebab mereka tidak melihat ada yang harus diteruskan dalam rangkaian kerja besar sejarah.

Marilah kita berhenti sejenak dan melihat ke segala arah kehidupan kita. Lihatlah ke belakang. Adakah sisa – sisa tanda telah ditinggalkannya kerja besar yang belum selesai dan menunggu untuk dilanjutkan. Lihatlah ke depan, disanalah mimpi semua manusia Indonesia terpancang. Mimpi yang mungkin ada banyak orang yang takut memandangnya dan kemudian memilih duduk – duduk di sekitar anda berdiri. Lihatlah kanan dan kiri kita. Adakah orang lain yang tengah memandang anda dan memulai kerja mereka walau dengan langkah – langkah kecil ? jika ya..maka ikutlah melangkah atau mulailah langkah kecil kerja anda. Jika tidak, teruslah melangkah ke depan dengan kerja kerja kecil anda. Semakin anda dekat ke arah mimpi itu, maka kita akan melihat semakin banyak pula orang yang menuju ke arahnya sembari memintal karya dengan benang kerja. Anda akan semakin jarang melihat orang yang duduk – duduk karena orang yang duduk – duduk itu telah tertinggal jauh disana. Yakinlah, dalam melangkah ke arah sana tidak ada kerja yang bernilai kecil, sebab sekecil apapun benang yang anda pintal dalam menuju ke sana adalah tetap bagian dari busana sejarah yang kelak terbentuk. Semoga kita bukanlah orang yang duduk – duduk itu sehingga cepat atau lambat kita akan bertemu………

*bukan Abu Ubaidah bin Al Jarrah

Agustus 29, 2007 - Posted by | kebangsaan, kontemplasi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: