Artikulasi Hati dan Otak

Memahami Disintegrasi

Kaum mukmin pun berangkat ke Abbisinia. Jazirah Hijjaz tak lagi aman dan merdeka bagi mereka dalam menjalankan agama mereka. Di rombongan itu terdapat Umm Abdullah dan suaminya. Umm Abdullah melihat sesosok lelaki berperawakan tinggi besar dan berkulit coklat kemerahan tengah memperhatikan mereka dengan tatapan penuh kesedihan dan kehilangan.

“Jadi berangkat Umm Abdullah ?”, tanya lelaki itu
“Ya, kami akan pergi. Bumi Allah ini tak lagi aman bagi kami untuk beribadah “,
Jawaban lelaki itu singkat saja,
“Allah menyertaimu”,

Umm Abdullah menyaksikan lelaki itu begitu terharu. Kesedihan yang mendalam tampak sekali di wajah lelaki itu. Lelaki itu adalah Umar bin Khaththab Jahiliyah.

Ia sedih melihat betapa masyarakatnya mengalami perpecahan. Jalan – jalan di Makkah menjadi semakin sepi seiring hari demi hari yang berlalu karena banyak penduduk muslim Makkah yang telah berhijrah menyelamatkan akidah mereka. Ia pun bukannya tidak berbuat apa – apa untuk menjaga persatuan masyarakatnya. Sudah banyak Kaum Sabi’ yang ia siksa. Namun riak – riak perpecahan di masyarakatnya kini menjadi gelombang yang mengganggu tatanan persatuan yang ingin ia jaga. Ia heran melihat militansi kaum Sabi’ ini dalam menghadapi terror, siksaan demi siksaan yang ia lancarkan. Apakah sebenarnya yang dimiliki Muhammad itu sehingga mereka semua seperti ini ?

Realitas disintegrasi yang pernah menjangkiti masyarakat arab saat itu, kini tengah menjangkiti pula bangsa ini. Di Aceh, Papua, Maluku telah berkobar semangat memisahkan diri dari tatanan kehidupan bangsa Indonesia.

Bisa jadi, kita dan pemerintah Indonesia saat ini adalah Umar Jahiliyah pada masa itu. Operasi militer yang digelar di daerah konflik telah menunjukkan bahwa pemerintah telah melakukan hal yang sama yang dilakukan Umar Jahiliyah dalam menjaga tatanan persatuan dan kesatuannya. Kekerasan dan penyiksaan. Inilah realitas itu.

Akan tetapi kesemua tindakan itu tidak juga memadamkan kobaran api semangat disintegrasi itu. Bahkan arang yang timbul akibat kobaran itu menjadi sedemikian panasnya. Arang itu salah satunya adalah Perjanjian Helsinki. Betapa kita sebagai bangsa tak bisa menutupi perasaan malu dan sakit bahwasanya perjanjian itu sama halnya dengan pengakuan pemerintah Bangsa Indonesia secara de jure terhadap eksistensi pemerintahan GAM di Aceh. Sama halnya dengan diakuinya eksistensi muslim sebagai sebuah bangsa melalui perjanjian Hudaibiyah.

Penyulut kobaran itu adalah tokoh – tokoh karismatik semacam Daud Beureuh dan Kahar Muzakkar. Kita pun tidak tahu apa sebenarnya yang mereka bawa atau beri kepada masyarakat sehingga visi mereka terejawantah menjadi sebuah gerakan nyata walaupun kini mereka telah tiada. Inilah alasan mengapa mereka adalah tokoh karismatik. Pastinya tokoh – tokoh semacam ini mampu memahami kondisi daerah dan masyarakatnya melebihi pemahaman yang dimiliki pemerintah. Kefahaman yang menyadarkan mereka bahwa sesuatu yang salah tengah terjadi di daerah dan masyarakatnya. Kemudian kesadaran inilah yang mengkristal menjadi sebuah gerakan.

Akar dari semuanya adalah pemahaman dan keadilan. Pemahaman saya letakkan sebelum keadilan karena inilah yang akan menentukan takaran adil itu sendiri. Kefahaman pemerintah akan kondisi bangsa ini telah membuat keadilan itu tidak terimplementasi dengan baik dalam sebuah wajah pembangunan daerah. Pada realitasnya saat ini, satu daerah Indonesia menjadi sebuah daerah metropolis, di sisi lain ada daerah yang tidak termaksimalkan potensinya sehingga masyarakatnya tetap tinggal dalam keterbelakangan.
Marilah bangsa ini berkontemplasi sejenak dengan alunan kidung sejarah tentang disintegrasi tadi. Kita tengah terjebak dalam nasionalisme primordialis buta. Nasionalisme yang terbungkus kebanggaan akan daerah. nasionalisme yang tercadar oleh kekurangpahaman kita akan suku daerah lain selain suku kita. Pada akhirnya, nasionalisme ini yang menggiring kita menyatakan sepakat bahwa pemberontakan di daerah di nusantara harus dibumihanguskan. Maka sebelum kata maupun tindakan yang menyuarakan kesepakatan itu muncul, cobalah memahami terlebih dahulu alasan mengapa semangat itu berkobar.

Bisa jadi, di mata pengobar disintegrasi itu perlakuan bangsa ini telah jauh dari kebaikan bersama dan kebijakan – kebijakan yang ada banyak menimbulkan kemudharatan bagi mereka.
Papua sebagai contohnya. Disadari atau tidak, pemerintah kita telah menjual Papua pada asing untuk dieksploitasi habis – habisan. Ketika masyarakat Papua merasakan kemudharatan, mereka pun bergerak. Kita sendiri pernah menyaksikan tindakan anarkis yang mereka buat. Tapi apakah kita juga pernah melihat pemerintah sedapat mungkin melindungi hak – hak mereka, mengakomodasi kepentingan mereka ? maka, salahkah apabila mereka bergerak atas nama daerahnya guna melepaskan diri dari pemerintahan bangsa ini ?

Aceh, apa yang bisa kita katakan terhadapanya ? sebuah daerah yang tak pernah sekalipun diduduki pemerintahan belanda. Namun, ia dipaksa bertekuk lutut pada pemerintahan Indonesia. Beruntung, pemerintah menyadari kesalahannya dengan memberikan otonomi khusus bagi aceh guna menyelenggarakan pemerintahan yang mandiri. Namun, itu tidak serta merta menghapus luka yang ditinggalkan akibat penindasan lebih – lebih pada masa Daerah Operasi Militer (DOM).

Maluku, sebuah negeri penghasil rempah – rempah yang dahulu kala diperebutkan oleh bangsa – bangsa colonial. Kini, nasibnya menjadi tak jelas kemana akan diarahkan pembangunan daerah tersebut.

Bisa jadi, daerah – daerah lain pun merasakan hal yang sama. Hanya saja momen pengobaran disintegrasi itu belum tecapai.

Maka dari itu, sebelum hati ini merasakan sakit yang amat sangat akibat tercabik – cabiknya bangsa ini dengan disintegrasi, marilah kita bersama memperbaiki paradigma kita dalam kehidupan berkebangsaan. Pemerintah sebagai pemimpin bangsa harus bisa berpikir dan bertindak secara general, mengarahkan dan mensinergiskan potensi daerah dan menyatukannya dalam satu gerak ritme pembangunan nasional. Sedangkan putera – putera daerah dengan wawasan kewilayahan daerah dan kemasyarakatannya harus mampu menerjemahkan arahan ini menjadi langkah – langkah taktis dan teknis pembangunan daerah.

Peran diatas dirasa belum maksimal digarap oleh pemerintah sebab pembangunan dan jalur investasi masih berkutat di pulau jawa. Sedangkan di daerah lain seperti maluku, papua dan bagian timur Indonesia belum terberdayakan potensinya.

Harapan terbesar yang masih terasa manis dalam hati ini adalah menyaksikan bangsa ini dalam satu derap langkah pembangunan sehingga keadilan pemerataan pembangunan bisa dirasakan segenap manusia Indonesia. Pada akhirnya kesemuanya akan mengantarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera pada momennya.

Agustus 24, 2007 - Posted by | kebangsaan, kontemplasi

2 Komentar »

  1. Kira-kira Presiden dr Aceh, Papua, atau Maluku yang kita pilih ya? Keliatanya mereka jauh lebih paham akan ketidak adilan ini. Atau Ibu kota kita dipindah sja ya?!

    Komentar oleh Mr.Muzak | Maret 17, 2008 | Balas

  2. menurut saya kejadian itu tidak sesuai dengan peri kemanusia jadi itu harus ditindak lajuti

    Komentar oleh abdurrahman | November 9, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: