Artikulasi Hati dan Otak

sepenggal kisah dari teman seperjalanan

kepulangan ke bandung dari tengerang ini menjadi begitu istimewa bagi saya. betapa tidak, di perjalanan saya bertemu dengan seseorang yang memberikan banyak pengetahuan tentang bagaimana ganasnya kehidupan di tengah keprihatinan bangsa indonesia ini.

perbincangan kita berawal dari diskusi ringan tentang identitas masing – masing. saya mahasiswa beliau seorang karyawan sebuah perusahaan penyedia jasa seluler. beliau pun bercerita perihal pekerjaannya. sebagai seorang karyawan, beliau bertugas dalam masalah birokrasi khususnya apda pemerintah daerah setempatnya. mendengar beliau bercerita, sakit hati ini mendengar realitas yang dipaparkannya.

betapa tidak, di suatu daerah di Indonesai tepatnya di jawa timur, untuk bertemu dengan kepala daerah tingkat 2 nya saja harus menyetor uang 5 juta rupiah. hasilnya? cuma dapet salaman saja, sedangkan proyeknya dilimpahkan ke timnya. masalahpun berlanjut dengan tim nya itu, mulai dari konsumsi hingga pembiayaan – pembiayaan tetek bengek yang tidak menyentuh hal esensial.

bahkan di daerah lain, ada birokrat yang meminta supaya urusannya diselesaikan ‘di luar kantor’. apa maksudnya ? ternyata maksud di luar kantor itu adalah di tempat karaoke plus segala fasilitasnya termasuk wanita penghibur. dan semuanya dibiayai oleh si pengaju proyek tersebut.

di Papua pun terjadi hal yang tak kalah membuat mirisnya. hukum negara Indonesia dikalahkan oleh hukum adat. misalnya dalam maslah pemilikan tanah. kepemilikan tanah diakui sebagai milik adat, atau suku. dan pada akhirnya pembicaraannya pun berbelit – belit. akhirnya kepala sukulah yang harus dilobi. dan apa yang biasa di minta ? minum – minum dengan minuman ‘Cap Tikus’ ..(tikus kok minum tikus…)

bahkan di suatu daerah, kepentingan pribadi pun dipolitisir. dalam pembangunan tower BTS, ada provokator yang menghasut warga supaya phobia terhadap tower. entah itu membeberkan bahaya radiasi lah atau dengan alasan  – alasan yang tidak masuk akal. tapi, pada akhirnya si penghasut malah mendekati pelobinya dan berkata ‘kok ga di tanah saya saja ?’

betapapun pahitnya, mirisnya, ini adalah realitas. inilah gambaran birokrasi dan kehidupan bangsa. bukan untuk membuat pesimis, namun menjadi pelecut bahwa perjuangan mewujudkan kemerdekaan belum berakhir. kemerdekaan dari kesewenang – wenangan dan ketidakadilan. Selamat berjuang!!

 

Agustus 17, 2007 - Posted by | kontemplasi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: