Artikulasi Hati dan Otak

I who advocates Oneness

Muwahhidun ana, wa mu’minun billah

Allahu Kholiqii, wa waahibul hayyah
Muwahhidun ana, wa mu’minun billaah

Qolbii bi nurillaah, mudhiiatun khuthooh

Daqootuhu taquul, Allah Allah Allah
Muwahhidun ana, Wa mu’minun billah

Warruuhu fiil isyrooq, wal fikru fii sholaah
Muwahhidun ana, Wa mu’minun billah

Qolbii bidzikrillah, yasydu wa madal hayaah

Muwahhidun ana, wa mu’minun billah

Alkaunu kulluhu, lillaahi saajidu

Wal kullu yunsyidu, Allahu waahidu

dengerin lagu ini sambil baca sirah sungguh luar biasa rasanya…

oiya, mungkin ada yang ngerasa frustrated dengan sejarah Indonesia…mungkin bisa mencoba membaca sirah entah itu nabawi, atau shahabat..InsyaAllah luar biasa, banyak teladannya.

wallahualam

Iklan

Agustus 31, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem | 1 Komentar

mengapa ‘Prasasti Cintaku’ ?

terilhami oleh untaian kalimat :

” 

Betapa inginnya agar bangsa ini mengetahui
Bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
Sebagai penebus kehormatan mereka
Jika memang tebusan itu diperlukan

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan, dan cita-cita mereka
Jika memang itu harga yang harus dibayar

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
Selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami
Menguasai perasaan kami,
Memeras habis air mata kami,
Dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami

Betapa berat rasa di hati kami
Menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini,
Sementara kita hanya menyerah pada kehinaan,
Dan pasrah pada keputusasaan

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui,
Bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci
Bersih dari ambisi pribadi
Bersih dari kepentingan dunia
Dan bersih dari hawa nafsu

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia
Tidak mengharapkan harta benda atau imbalan lainnya
Tidak juga popularitas
Apalagi sekedar ucapan terima kasih

saat ini, tulisan – tulisan ini kudedikasikan dengan segenap perasaan yang mengharu biru hati ini. walau mungkin belum menguras air mata ini, namun hati ini pedih melihat tercabik – cabiknya bangsa ini.

hal ini pula yang mendasari perpindahan blog dari blog yang sarat kelemahan dan kemenkolikan ke dalam blog yang jauh lebih dewasa dan garang…

ini hanya untaian pemikiran dari seorang anak manusia yang baru 21 tahun menghirup udara dunia. belum bayak yang dipelajari, namun cukup untuk menentukan kemana arah hidup ini.

semoga isi blog ini berkah dan memberi hikmah

Agustus 29, 2007 Posted by | Blogroll | Tinggalkan komentar

Menghargai Pahlawan

(dilatarbelakangi atas peristiwa peresmian patungsoekarno hatta di dekat bandara)

Abu Ubaid* begitu bangga akan kemenangan demi kemenangan yang ia dapatkan dalam perang melawan Persia untuk pembebasan Irak. Kini, pasukannya kembali berhadapan dengan pasukan Persia yang dipimpin oleh Bahman Jadhuweh. Hanya sungai yang memisahkan pasukan muslimin dan pasukan Persia.
Utusan Persia pun datang memberikan tawaran
„Pasukan kalian yang myeberang sungai, atau pasukan kami ? „
Dengan yakin Abu Ubaid memutuskan bahwa pasukan muslimin lah yang akan menyeberang sungai yang lebar itu.
„jangan biarkan orang – orang Persia itu lebih berani mati daripada kita“
Abu Ubaid telah lupa akan nasihat Amirul Mukminin Umar, agar mendengarkan pendapat para veteran perang badar. Pahlawan badar yang turut berjuang di sisi Abu Ubaid. Salit bin Qais adalah salah satunya. Salit sendiri berpendapat bahwa amat riskan dan berbahaya bagi pasukan muslimin untuk menyeberang sebab pasukan persia lebih mengerti kondisi geografis daerah tersebut.

Akan tetapi, Abu Ubaid tetap pada keputusannya semula. Ia yakin kemenangannya akan berlanjut. Ia sendiri tidak menginginkan orang – orang Persia terlihat lebih berani mati daripada pasukan muslimin. Ia telah melupakan nasihat umar. Nasihat yang bermakna hargailah para pahlawan yang ada di sampingmu. Akhirnya pasukan muslimin pun mengalami kekalahan menyakitkan dalam perang yang dikenal dengan perang jembatan itu. Salit dan Abu Ubaid pun akhirnya syahid dalam perang tersebut.

Umar telah memberikan nasihat yang berharga bagi seorang anak muda yang hendak meretas jalan kepahlawanannya. Nasihat yang menunjukkan cara menghargai para pahlawan dengan menempatkannya sebagai seorang guru dan penasihat bagi pemimpin muda yang penuh semangat.

Pahlawan itu dilihat dari kebijaksanaan mereka yang menyemai karena pengalaman sejarahnya walaupun karakter lahir mereka sendiri bukan tergolong orang yang bijaksana.

Seperti Salit,ia adalah tipikal orang yang tergopih – gopoh dalam perang. Maka, ia tidak dijadikan pemimpin pasukan dalam perang. Ia memilih Abu Ubaid sebagai pemimpin perang yang memang membutuhkan seseorang yang lebih tenang, sabar, dan tabah dalam menjalani ganasnya peperangan.

Tapi Umar menempatkan Salit sesuai kapasitasnya sebagai seorang pahlawan. Sebagai guru. Sebagai penasihat. Sebagai pemberi masukan bagi pemimpin. Semua itu karena ia memiliki kebijaksanaan yang didapat dari tempaan pengalaman sejarahnya.

Kebijaksanaan karena tempaan pengalaman sejarah inilah yang merupakan harta karun terbesar dari seorang pahlawan. Bukan cerita heroic dan patriotiknya. Bukan pula banyaknya bintang jasa atau harta rampasan perang yang didapatnya. Dan harta karun terbesar ini bukanlah harta statis, namun mampu menular dan menginspirasi banyak orang.

Maka dari itu, menghargai seorang pahlawan bukan dengan jalan membangun patung – patung replica dirinya. Penghargaan semacam ini akan menimbulkan salah kaprah dan pengerdilan makna kepahlawanan itu sendiri. Salah kaprah sebab orang akan melihat bahwa penghargaan atas jasa pahlawan itu dalam segi kebendaan. Lantas apakah bedanya dengan berhala ? hal ini jelas mengerdilkan makna kepahlawanan. Sebab orang akan mengenang kepahlawanan hanya dari apa yang pernah ia lakukan, pada akhirnya semuanya hanyalah kisah sejarah yang menjadi sebatas pengetahuan semata. Makna itu terlalu kecil untuk orang sekaliber pahlawan.

Pahlawan sejatinya adalah orang yang mampu menginspirasi bagi banyak orang sehingga orang orang tersebut meneruskan kerja – kerja sejarahnya atau memulai kerja – kerja besar kepahlawanan di aspek lain. Sehingga, penghargaan terhadap para pahlawan adalah meneruskan kerja – kerja besar kepahlawanan itu atau memulai kerja besar di bidang lain. Maka jasa besar seorang pahlawan adalah inspirasinya yang diberikan ke generasi selanjutnya dengan kebijaksanaan akibat tempaan pengalaman sejarahnya. Sedangkan bagi generasi selanjutnya, menghargai para pahlawan adalah mengkonversi inspirasi itu menjadi ledakan energi kerja dan karya untuk memulai atau melanjutkan estafet kepahlawanan itu sendiri.

Maka lihatlah sejarah Islam yang memesona sebagai untaian zamrud kerja besar instrument – instrument nya. Dimulai dari seorang Rasulullah hingga ditaklukkannya rumawi dan Persia dibawah bendera Tauhid. Apa yang bisa kita lihat ? hasil kerja mereka secara kolektif, bukan kerja secara individu bahkan siapa yang mengerjakannya. Musanna bin Haritsah, Qa’Qa’ bin Amr, Khalid bin Walid, Tulaihah bin Khuwailid adalah orang – orang besar yang turut menjadi arsitek sekaligus kuli dari bangunan sejarah tersebut. Tetapi saya yakin orang lebih mengenal untaian hasil kerja mereka berupa penaklukan rumawi dan persia dibandingkan kisah mereka secara individu seperti penggalan kisah kemenangan Musanna dalam perang Buwaib yang menjadi salah satu mata rantai penaklukan persia. Semua ini karena kepahlawanan sendiri yang bukan merupakan kerja individu tetapi estafet kerja kolektif dari pahlawan – pahlawannya.

Hal diatas tentunya berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Kepahlawanan dipandang sebagai potongan – potongan tak beraturan dari kerja – kerja individu yang amat susah disatukan. Seperti soekarno dengan PNI nya, Tan Malaka, Semaun dengan PKI –nya, dan lain sebagainya. Pada akhirnya bangsa ini melihat kepahlawanan dalam perspektif jasa yang diberikan individu bukan kerja kolektif.

Akibat yang kongkrit terjadi pun bukan main – main. Pembangunan bangsa dan karakternya mandheg. Ini PR besar persepsi kepahlawanan kita. Pada akhirnya bangsa ini kehilangan harta karun terbesar kebijaksanaan pahlawan karena tempaan pengalaman sejarah yang seharunya telah melahirkan instrumen – instrumen pahlawan baru yang meneruskan atau memulai estafet kerja kolektif kepahlawanan. Maka wajarah jika banyak generasi muda yang mengklaim sebagai generasi pengganti bukan generasi penerus sebab mereka tidak melihat ada yang harus diteruskan dalam rangkaian kerja besar sejarah.

Marilah kita berhenti sejenak dan melihat ke segala arah kehidupan kita. Lihatlah ke belakang. Adakah sisa – sisa tanda telah ditinggalkannya kerja besar yang belum selesai dan menunggu untuk dilanjutkan. Lihatlah ke depan, disanalah mimpi semua manusia Indonesia terpancang. Mimpi yang mungkin ada banyak orang yang takut memandangnya dan kemudian memilih duduk – duduk di sekitar anda berdiri. Lihatlah kanan dan kiri kita. Adakah orang lain yang tengah memandang anda dan memulai kerja mereka walau dengan langkah – langkah kecil ? jika ya..maka ikutlah melangkah atau mulailah langkah kecil kerja anda. Jika tidak, teruslah melangkah ke depan dengan kerja kerja kecil anda. Semakin anda dekat ke arah mimpi itu, maka kita akan melihat semakin banyak pula orang yang menuju ke arahnya sembari memintal karya dengan benang kerja. Anda akan semakin jarang melihat orang yang duduk – duduk karena orang yang duduk – duduk itu telah tertinggal jauh disana. Yakinlah, dalam melangkah ke arah sana tidak ada kerja yang bernilai kecil, sebab sekecil apapun benang yang anda pintal dalam menuju ke sana adalah tetap bagian dari busana sejarah yang kelak terbentuk. Semoga kita bukanlah orang yang duduk – duduk itu sehingga cepat atau lambat kita akan bertemu………

*bukan Abu Ubaidah bin Al Jarrah

Agustus 29, 2007 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | Tinggalkan komentar

Memahami Disintegrasi

Kaum mukmin pun berangkat ke Abbisinia. Jazirah Hijjaz tak lagi aman dan merdeka bagi mereka dalam menjalankan agama mereka. Di rombongan itu terdapat Umm Abdullah dan suaminya. Umm Abdullah melihat sesosok lelaki berperawakan tinggi besar dan berkulit coklat kemerahan tengah memperhatikan mereka dengan tatapan penuh kesedihan dan kehilangan.

“Jadi berangkat Umm Abdullah ?”, tanya lelaki itu
“Ya, kami akan pergi. Bumi Allah ini tak lagi aman bagi kami untuk beribadah “,
Jawaban lelaki itu singkat saja,
“Allah menyertaimu”,

Umm Abdullah menyaksikan lelaki itu begitu terharu. Kesedihan yang mendalam tampak sekali di wajah lelaki itu. Lelaki itu adalah Umar bin Khaththab Jahiliyah.

Ia sedih melihat betapa masyarakatnya mengalami perpecahan. Jalan – jalan di Makkah menjadi semakin sepi seiring hari demi hari yang berlalu karena banyak penduduk muslim Makkah yang telah berhijrah menyelamatkan akidah mereka. Ia pun bukannya tidak berbuat apa – apa untuk menjaga persatuan masyarakatnya. Sudah banyak Kaum Sabi’ yang ia siksa. Namun riak – riak perpecahan di masyarakatnya kini menjadi gelombang yang mengganggu tatanan persatuan yang ingin ia jaga. Ia heran melihat militansi kaum Sabi’ ini dalam menghadapi terror, siksaan demi siksaan yang ia lancarkan. Apakah sebenarnya yang dimiliki Muhammad itu sehingga mereka semua seperti ini ?

Realitas disintegrasi yang pernah menjangkiti masyarakat arab saat itu, kini tengah menjangkiti pula bangsa ini. Di Aceh, Papua, Maluku telah berkobar semangat memisahkan diri dari tatanan kehidupan bangsa Indonesia.

Bisa jadi, kita dan pemerintah Indonesia saat ini adalah Umar Jahiliyah pada masa itu. Operasi militer yang digelar di daerah konflik telah menunjukkan bahwa pemerintah telah melakukan hal yang sama yang dilakukan Umar Jahiliyah dalam menjaga tatanan persatuan dan kesatuannya. Kekerasan dan penyiksaan. Inilah realitas itu.

Akan tetapi kesemua tindakan itu tidak juga memadamkan kobaran api semangat disintegrasi itu. Bahkan arang yang timbul akibat kobaran itu menjadi sedemikian panasnya. Arang itu salah satunya adalah Perjanjian Helsinki. Betapa kita sebagai bangsa tak bisa menutupi perasaan malu dan sakit bahwasanya perjanjian itu sama halnya dengan pengakuan pemerintah Bangsa Indonesia secara de jure terhadap eksistensi pemerintahan GAM di Aceh. Sama halnya dengan diakuinya eksistensi muslim sebagai sebuah bangsa melalui perjanjian Hudaibiyah.

Penyulut kobaran itu adalah tokoh – tokoh karismatik semacam Daud Beureuh dan Kahar Muzakkar. Kita pun tidak tahu apa sebenarnya yang mereka bawa atau beri kepada masyarakat sehingga visi mereka terejawantah menjadi sebuah gerakan nyata walaupun kini mereka telah tiada. Inilah alasan mengapa mereka adalah tokoh karismatik. Pastinya tokoh – tokoh semacam ini mampu memahami kondisi daerah dan masyarakatnya melebihi pemahaman yang dimiliki pemerintah. Kefahaman yang menyadarkan mereka bahwa sesuatu yang salah tengah terjadi di daerah dan masyarakatnya. Kemudian kesadaran inilah yang mengkristal menjadi sebuah gerakan.

Akar dari semuanya adalah pemahaman dan keadilan. Pemahaman saya letakkan sebelum keadilan karena inilah yang akan menentukan takaran adil itu sendiri. Kefahaman pemerintah akan kondisi bangsa ini telah membuat keadilan itu tidak terimplementasi dengan baik dalam sebuah wajah pembangunan daerah. Pada realitasnya saat ini, satu daerah Indonesia menjadi sebuah daerah metropolis, di sisi lain ada daerah yang tidak termaksimalkan potensinya sehingga masyarakatnya tetap tinggal dalam keterbelakangan.
Marilah bangsa ini berkontemplasi sejenak dengan alunan kidung sejarah tentang disintegrasi tadi. Kita tengah terjebak dalam nasionalisme primordialis buta. Nasionalisme yang terbungkus kebanggaan akan daerah. nasionalisme yang tercadar oleh kekurangpahaman kita akan suku daerah lain selain suku kita. Pada akhirnya, nasionalisme ini yang menggiring kita menyatakan sepakat bahwa pemberontakan di daerah di nusantara harus dibumihanguskan. Maka sebelum kata maupun tindakan yang menyuarakan kesepakatan itu muncul, cobalah memahami terlebih dahulu alasan mengapa semangat itu berkobar.

Bisa jadi, di mata pengobar disintegrasi itu perlakuan bangsa ini telah jauh dari kebaikan bersama dan kebijakan – kebijakan yang ada banyak menimbulkan kemudharatan bagi mereka.
Papua sebagai contohnya. Disadari atau tidak, pemerintah kita telah menjual Papua pada asing untuk dieksploitasi habis – habisan. Ketika masyarakat Papua merasakan kemudharatan, mereka pun bergerak. Kita sendiri pernah menyaksikan tindakan anarkis yang mereka buat. Tapi apakah kita juga pernah melihat pemerintah sedapat mungkin melindungi hak – hak mereka, mengakomodasi kepentingan mereka ? maka, salahkah apabila mereka bergerak atas nama daerahnya guna melepaskan diri dari pemerintahan bangsa ini ?

Aceh, apa yang bisa kita katakan terhadapanya ? sebuah daerah yang tak pernah sekalipun diduduki pemerintahan belanda. Namun, ia dipaksa bertekuk lutut pada pemerintahan Indonesia. Beruntung, pemerintah menyadari kesalahannya dengan memberikan otonomi khusus bagi aceh guna menyelenggarakan pemerintahan yang mandiri. Namun, itu tidak serta merta menghapus luka yang ditinggalkan akibat penindasan lebih – lebih pada masa Daerah Operasi Militer (DOM).

Maluku, sebuah negeri penghasil rempah – rempah yang dahulu kala diperebutkan oleh bangsa – bangsa colonial. Kini, nasibnya menjadi tak jelas kemana akan diarahkan pembangunan daerah tersebut.

Bisa jadi, daerah – daerah lain pun merasakan hal yang sama. Hanya saja momen pengobaran disintegrasi itu belum tecapai.

Maka dari itu, sebelum hati ini merasakan sakit yang amat sangat akibat tercabik – cabiknya bangsa ini dengan disintegrasi, marilah kita bersama memperbaiki paradigma kita dalam kehidupan berkebangsaan. Pemerintah sebagai pemimpin bangsa harus bisa berpikir dan bertindak secara general, mengarahkan dan mensinergiskan potensi daerah dan menyatukannya dalam satu gerak ritme pembangunan nasional. Sedangkan putera – putera daerah dengan wawasan kewilayahan daerah dan kemasyarakatannya harus mampu menerjemahkan arahan ini menjadi langkah – langkah taktis dan teknis pembangunan daerah.

Peran diatas dirasa belum maksimal digarap oleh pemerintah sebab pembangunan dan jalur investasi masih berkutat di pulau jawa. Sedangkan di daerah lain seperti maluku, papua dan bagian timur Indonesia belum terberdayakan potensinya.

Harapan terbesar yang masih terasa manis dalam hati ini adalah menyaksikan bangsa ini dalam satu derap langkah pembangunan sehingga keadilan pemerataan pembangunan bisa dirasakan segenap manusia Indonesia. Pada akhirnya kesemuanya akan mengantarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera pada momennya.

Agustus 24, 2007 Posted by | kebangsaan, kontemplasi | 2 Komentar

Mengejawantahkan Nation and Character Building Melalui Pendidikan

“Nation and Character Building”, doktrin inilah yang didengung – dengungkan Founding Father kita, Soekarno. Doktrin ini bukan sekedar orasi populis, namun beranjak dari kefahaman mendasar akan problem utama pasca kemerdekaan. Tak bisa dipungkiri, sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental, bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang bangsa dan karakter yang holistic sebagai bangsa. Hal ini amat fundamental sebab menyangkut kesamaan gerak, pandangan, dan pemahaman sebagai sebuah bangsa, bukan cluster – cluster kedaerahan.

Doktrin ini belum terlaksana dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari kencangnya aroma kepentingan pribadi dan golongan diatas kepentingan Negara di setiap aspek kehidupan. Contohnya di Papua, hukum Negara pun kalah oleh hukum adat misalnya dalam aspek kepemilikan tanah. Artinya hukum kita belum legitimate di seantero bangsa ini. Lantas, mau dibawa kemanakah bangsa ini ?. hal ini adalah persoalan yang krusial dan harus segera dicari solusinya sehingga bangsa ini tidak digerogoti penyakit dari dalam dirinya lebih akut lagi.

Selama ini pula pendidikan dipandang sebagai wahana yang tepat dalam pengejawantahan doktrin Nation and Character building. Namun, selama itu pula pendidikan kita berputar – putar tanpa arah yang jelas, gonta – ganti kurikulum dan metode, namun tidak mensolusikan hal yang esensi dan fundamental, Sinergi sebagai sebuah bangsa.

Ada beberapa hal yang ditengarai sebagai masalah yang dihadapi pendidikan kita dalam pelaksanaannya sebagai sebuah wahana nation and character building. Masalah yang paling erat kaitannya dengan pembentukan karakter bangsa adalah adanya antagonism media massa terhadap nilai – nilai pendidikan sendiri. Yang paling terlihat saat ini adalah bagaimana hembusan angin konsumerisme dan gaya hidup hedonis yang ditiupkan media massa seperti televise dan majalah – majalah yang lebih banyak dianut generasi bangsa ini daripada nilai – nilai produktivitas yang digawangi oleh institusi pendidikan. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya kedudukan institusi pendidikan dalam membangun karakter rakyat apalagi bila berbicara dalam tataran kebangsaan.

Selain itu, hilangnya model – model pribadi pendidik di kalangan guru dan pemimpin kita pun turut berkontribusi pula dalam kegagalan pendidikan dalam menjalankan fungsinya sebagai wahana pembangunan karakter. Pada akhirnya rakyat kehilangan role model yang memadukan unsure – unsure kebaikan dalam kehidupan berbangsa. Hal ini menjadikan pendidikan terlokalisir di sekolah dan institusi pendidikan, tidak di seluruh aspek kehidupan, itupun dengan keberjalanan yang sedemikian kakunya.

 

3 aspek ejawantah

Maka dari itu, penting rasanya untuk menggagas kembali pengejawantahan pendidikan kita sebagai wahana nation and character building. Pengejawantahan tersebut haruslah sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia sehingga mampu membenahi karakter yang sudah ada dan memberinya warna baru. Karakter bangsa Indonesia yang paling menonjol adalah hubungan interpersonal yang baik antara sesame warga negaranya. Karakteristik ini kurang terbangun dan terberdayakan di pendidikan kita yang cenderung menggunakan system yang kaku dan rigid. Hal ini tentunya mengakibatkan keberjalanannya pun menjadi hambar. Kekurangan hal ini pulalah yang mengakibatkan sering pula terjadi tawuran antarsekolah, sebab para siswa tidak merasa bahwa sekolah adalah rumah keduanya karena hambarnya hubungan interpersonal antara pendidik dan peserta didiknya.

Kemudian, satu aspek penting dalam revitalisasi ejawantah pendidikan sebagai wahana pembangunan bangsa dan pembentukan karakternya adalah keselarasannya dengan potensi bangsa sendiri. Hal ini adalah hal esensial sebab memuat pengetahuan dasar dalam wawasan kewilayahan bangsa. Ini adalah hal yang mutlak harus terintegrasi sehingga potensi bangsa bisa terberdayakan dan pembangunan bangsa berjalan ke arah takdir bangsa tersebut. Mustahil kita membangun bangsa yang kita sendiri pun tidak tahu potensinya secara geografis. Contohnya, bangsa jepang, secara geografis mereka tidak memiliki kekayaan alam yang melimpah, maka pemerintah mengarahkan pendidikannya kea rah industry dan teknologi rekayasa. Dan takdir jepang pun menemui momennya. Indonesia pun mampu seperti itu, lihatlah kekayaan alam yang melimpah ini membutuhkan otak – otak kreatif untuk mengelola dan mengeksplorasinya. Maka sudah selayaknya pendidikan kita ke arah sana.

Satu aspek terakhir dalam pengejawantahan pendidikan sebagai wahana character and nation building adalah pendidikan yang murah. Hal ini dimaksudkan agar pendidikan dapat dinikmati seluruh elemen bangsa sehingga kader – kader bangsa yang cakap tidak terbunuh. Ketika berbicara tentang pendidikan murah – apalagi gratis – sepintas hanya terasa seperti bermimpi. Namun apabila komitmen pemerintah kuat untuk mewujudkannya, pastinya hal ini bukan mustahil terlaksana.

Adapun tentang system pendidikannya, bisa mengambil contoh dari banyak Negara, misalnya Finlandia. Pendidikan Finlandia adalah yang terbaik di dunia, mampu mencerdaskan peserta didiknya bahkan ke penyandang keterbelakangan mental sekalipun. Dan apabila dicermati, rahasia pendidikan Finlandia adalah perhatian yang lebih kepada aspek personal perserta didik dibandingkan dengan mengutak – atik system pendidikan. Maka, sudah saatnya pendidikan ini diselaraskan dengan kepribadian bangsa Indonesia, sehingga mampu membentuk dan memperbaiki karakter bangsa.

Agustus 17, 2007 Posted by | kebangsaan | 1 Komentar

sepenggal kisah dari teman seperjalanan

kepulangan ke bandung dari tengerang ini menjadi begitu istimewa bagi saya. betapa tidak, di perjalanan saya bertemu dengan seseorang yang memberikan banyak pengetahuan tentang bagaimana ganasnya kehidupan di tengah keprihatinan bangsa indonesia ini.

perbincangan kita berawal dari diskusi ringan tentang identitas masing – masing. saya mahasiswa beliau seorang karyawan sebuah perusahaan penyedia jasa seluler. beliau pun bercerita perihal pekerjaannya. sebagai seorang karyawan, beliau bertugas dalam masalah birokrasi khususnya apda pemerintah daerah setempatnya. mendengar beliau bercerita, sakit hati ini mendengar realitas yang dipaparkannya.

betapa tidak, di suatu daerah di Indonesai tepatnya di jawa timur, untuk bertemu dengan kepala daerah tingkat 2 nya saja harus menyetor uang 5 juta rupiah. hasilnya? cuma dapet salaman saja, sedangkan proyeknya dilimpahkan ke timnya. masalahpun berlanjut dengan tim nya itu, mulai dari konsumsi hingga pembiayaan – pembiayaan tetek bengek yang tidak menyentuh hal esensial.

bahkan di daerah lain, ada birokrat yang meminta supaya urusannya diselesaikan ‘di luar kantor’. apa maksudnya ? ternyata maksud di luar kantor itu adalah di tempat karaoke plus segala fasilitasnya termasuk wanita penghibur. dan semuanya dibiayai oleh si pengaju proyek tersebut.

di Papua pun terjadi hal yang tak kalah membuat mirisnya. hukum negara Indonesia dikalahkan oleh hukum adat. misalnya dalam maslah pemilikan tanah. kepemilikan tanah diakui sebagai milik adat, atau suku. dan pada akhirnya pembicaraannya pun berbelit – belit. akhirnya kepala sukulah yang harus dilobi. dan apa yang biasa di minta ? minum – minum dengan minuman ‘Cap Tikus’ ..(tikus kok minum tikus…)

bahkan di suatu daerah, kepentingan pribadi pun dipolitisir. dalam pembangunan tower BTS, ada provokator yang menghasut warga supaya phobia terhadap tower. entah itu membeberkan bahaya radiasi lah atau dengan alasan  – alasan yang tidak masuk akal. tapi, pada akhirnya si penghasut malah mendekati pelobinya dan berkata ‘kok ga di tanah saya saja ?’

betapapun pahitnya, mirisnya, ini adalah realitas. inilah gambaran birokrasi dan kehidupan bangsa. bukan untuk membuat pesimis, namun menjadi pelecut bahwa perjuangan mewujudkan kemerdekaan belum berakhir. kemerdekaan dari kesewenang – wenangan dan ketidakadilan. Selamat berjuang!!

 

Agustus 17, 2007 Posted by | kontemplasi | Tinggalkan komentar