Artikulasi Hati dan Otak

Sehari di Tangerang, melihat realitas memadukan id…

jumat lalu saya ke tangerang, mengurus penginapan untuk KP nanti..awalnya saya berencana tinggal di tempat Husni…tapi dasar husni, masak ragunan dibilang deket ama bandara soekarno hatta ??? dari hongkong selatan!!pada akhirnya harus nyari deh…dan keputusan itu dibuat ga lebih dari 1 menit..dengan persiapan yang ..yah..beranghkat deh ke tangerang make travelbanyak hal yang bisa diambil hikmah dan menjadi bahan kontemplasi untuk kehidupan pasca kampus nanti. di bandara, harga ojek amat sangat mahal, melangit banget!!yah bisa abis 50 ribu buat ngojek disana. pengalaman yang membuat miris adalah tentang kehidupan di sekitar bandara itu sendiri. dalam benak saya, lingkungan di sekitar bandara pastilah cukup sibuk dan agak metropolis, mengingat jarak yang tidak terlalu jauh dengan pusat lalu lintas baik dalam negeri maupu luar negeri. akan tetapi, kenyataanya tidak seperti itu. masyarakat sekitar pada umumnya berprofesi sebagai tukang ojek atau pedagang. bahkan rumah – rumah di daerah sekitar bandara pun tergolong sederhana, memang ada yang cukup mewah juga namun sedikit.

belum lagi masalah kebersihan dan estetika yang masih perlu ditingkatkan. bagaimana tidak, kambing – kambing dibiarkan berkeliaran di jalan raya. tentunya ada masalah estetika kota dan kebersihan tentunya. apakah nyaman, anda makan didampingi seekor kambing yang berkelairan mencari makan di sisa makanan yang jatuh ?? belum lagi ketika masuk ke perkampungannya. jarak rumahnya sangat berdekatan, yah kurang lebih sama dengan perkampungan di belakang ciwalk itu. realitas ini memang sangat sering dijumpai di kota – kota besar sentra industi. masyarakat yang termarjinalkan dari hingar bingar kehidupan ekonomi kota. saat itu, saya teringat film the new rulers of the world. gambaran masyarakat keci yangl dipebudak oleh korporasi dan tidak memiliki kekuatan apa apa.

kemudian, akses informasi ke wilayah tersebut pun agak kurang.hal ini ditandai dengan besarnya daya listrik yang dimiliki oleh penduduk di sana, yang besarnya hanya setengah dari daya listrik masyarakat cirebon, atau sepertiga daya listrik masyarakat bandung. tentunya media informasi yang bisa masuk hanya televisi, radio, dan koran.

dengan media informasi diatas, tentunya masyarakat akan menerima informasi yang terbatas. belum lagi ekses negatif dari televisi sendiri yang cukup membahayakan. dan hal tersebut telah bisa dirasakan saat itu dari bagaimana gaya berpakaian dari pemudanya. belum lagi ekses negatif yang meracuni paradigma mereka, misalnya tentang produktivitas bekerja. yang terjadi di sana, masih banyak pengangguran yang berusia muda, sekitar 20 – 30 tahun. tentunya bila dipadupadankan dengan pengaruh televisi sendiri bisa jadi ada korelasinya. di kalangan masyarakat kecil tersebut, amat jelas terlihat kekalahan telak institusi pendidikan dibandingkan dengan televisi. nilai – nilai yang diusung institusi pendidikan seperti inovasi, produktivitas, dan kreativitas, dikalahkan oleh konsumerisme yang digawangi oleh ekses negatif televisi ter;ihat begitu mendominasi kehidupan disana.

hal lain yang membuat miris adalah ketika melaksanakan sholat jumat di masjid Al Furqan di bandara. sholat jumatnya ngaret sampai 15 menit. bagaimana masjid bisa dijadikan sentra peradaban dan menjadi media pembentukan karakter bangsa bila nilai – nilai yang diperlihatkan kepada jamaahnya, bukan nilai – nilai yang memicu pembentukan karakter positif misalnya disiplin ? belum lagi, pemberitahuan – pemberitahuan yang diberitakan menjelang sholat jumat, tidak lepas dari yang namanya sumbangan – sumbangan – sumbangan namun aspek pelayanan jamaahnya sedikit. apa jadinya jika umat ini melihat mesjid hanya sebagai media tempat disalurkannya sumbangan saja, tanpa kemandirian secara finansial.

kemudian, setelah selesai sholat jumat, saya kaget melihat orang – orang makan dengan ‘barbar’nya. mengerumuni penjual makanan, kemudian berebut mengambil makanan tersebut, lalu makan di sekitarnya dengan berbagai macam gaya, kebanyakan adalah berdiri. dan harga makanannya mahal banget!!nasi dan ayam bisa sampai 10 ribu rupiah. mel;ihat mereka makan, saya teringat hannibal lechter. belum lagi penjual VCD yang dikerumuni karyawan yang menjual film – film semi XXX yang bahkan sampulnya aja sangat vulgar. justru VCD yang seperti itu yang laku, sedang film kayak last samurai, ga ada yang menyentuhya sama sekali.

melihat semua ini, saya semakin yakin bahwa bangsa ini butuh pahlawan – pahlawannya. realitas ini haruslah semakin membuat idealisme kita erat dan dalam terpancang dan terpatri dalam sanubari – sanubari para pembaharunya. selain itu, disinilah terlihat bagaimana perlunya berada dalam sebuah jamaah dalam memperbaharui kondisi keumatan saat ini. maka dari itu, pasca kampus harus tetap disikapi dengan positif, seberat apapun semenyeramkan apapun, karena dengan sikap positif, kita bisa terbuka dan bersikap inklusif terhadap realitas. selain itu, hal yang paling tepat dalam memulai pembaharuan ini adalah mulai memperbaharui diri, dari hal yang kecil dan dari sekarang.

Juni 23, 2007 Posted by | kontemplasi | 2 Komentar

Lebih Dahsyat Dari Berzina… Pada suatu senja y…

Lebih Dahsyat Dari Berzina…

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat
seorang wanita berjalan
terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba
hitam menandakan bahwa ia berada dalam
duka cita yang mencekam. Kerudungnya
menangkup rapat hampir seluruh wajahnya.
Tanpa rias muka atau perhiasan menempel
di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan
yang ramping dan roman mukanya yang ayu,
tidak dapat menghapus kesan kepedihan
yang tengah meruyak hidupnya. Ia
melangkah terseret-seret mendekati
kediaman rumah Nabi Musa a.s.Diketuknya pintu pelan-pelan sambil
mengucapkan salam. Maka terdengarlah
ucapan dari dalam “Silakan masuk”.
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk
sambil kepalanya terus merunduk. Air
matanya berderai tatkala ia berkata,
“Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya,
Doakan saya agar Tuhan berkenan
mengampuni dosa keji saya.” “Apakah
dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi
Musa as terkejut. “Saya takut
mengatakannya.” jawab wanita cantik.
“Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak
Nabi Musa. Maka perempuan itupun
terpatah bercerita, “Saya ……telah
berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat,
hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari
perzinaan itu saya pun……lantas
hamil. Setelah anak itu lahir, langsung
saya……. cekik lehernya sampai……
tewas”, ucap wanita itu seraya menagis
sejadi-jadinya. Nabi musaberapi-api
matanya. Dengan muka berang ia
menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu
dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh
ke dalam rumahku karena perbuatanmu.
Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil
memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berewajah ayu dengan hati
bagaikan kaca membentur batu, hancur
luluh segera bangkit dan melangkah
surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari
dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya
amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana
lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu
mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya.
Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya,
bagaimana pula manusia lain bakal
menerimanya? Terbayang olehnya betapa
besar dosanya, betapa jahat
perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa
sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun
mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin
Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau
menolak seorang wanita yang hendak
bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau
tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”
Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang
lebih besar dari kekejian wanita pezina
dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan
penuh rasa ingin tahu bertanya kepada
Jibril.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar dari
pada perempuan yang nista itu?” “Ada!”
jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah
itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang
yang meninggalkan sholat dengan sengaja
dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya
lebih besar dari pada seribu kali
berzina”.

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa
kemudian memanggil wanita tadi untuk
menghadap kembali kepadanya. Ia
mengangkat tangan dengan khusuk untuk
memohonkan ampunan kepada Allah untuk
perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang
meninggalkan sembahyang dengan sengaja
dan tanpa penyesalan adalah sama saja
seperti berpendapat bahwa sembahyang itu
tidak wajib dan tidak perlu atas
dirinya. Berarti ia seakan-akan
menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan
seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya
hak untuk mengatur dan memerintah
hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat
dan menyesali dosanya dengan
sungguh-sungguh berarti masih mempunyai
iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu
berada di jalan ketaatan kepada-Nya.
Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima
kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH
> Abdurrahman Arroisy) Dalam hadist Nabi
SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan
sholat lebih besar dosanya dibanding
dengan orang yang membakar 70 buah
Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan
bersetubuh dengan ibunya di dalam
Ka’bah.

wassalam

Juni 20, 2007 Posted by | Taushiyah | Tinggalkan komentar

Taushiyah of the day……. Da’wah itu memang ber…

Taushiyah of the day…….

Da’wah itu memang berat
memang penuh halangan, hambatan, rintang, onak dan duri
karena itu da’wah hanya perlu pengorbanan,
komitmen dan militansi dari pembangunnya…

Pendukung da’wah itu sedikit
karena ia hanya untuk orang – orang terpilih
orang – orang yang dipilih ALLAH mengusung beratnya beban
orang yang berbaris rapih sebagai hizbullah
HIZBULLAH!!!!

Jika kita tidak ingin masuk ke dalam barisan ini
tidak apa – apa….
silahkan keluar, tak ada yang menghalangi
Pilihan ada di tangan kita…

Tapi ingat dan perlu kita tau…
Jika kita keluar, maka akan ada yang menggantikan
Satu orang yang keluar dari barisan dakwah ini
maka akan lahir 1000 orang yang siap menggantikan
Jauh lebih banyak dan lebih baik dari kita!!!
Yang mereka mencintai ALLAH dan ALLAH pun mencintai

Juni 16, 2007 Posted by | Taushiyah | 1 Komentar

Taushiyah of the day

diberikan oleh seorang sahabat yang bahkan kita sendiri belom pernah bertemu…..

Ada dua macam manusia di dunia ini, mereka yang mencari alasan dan mereka mencari keberhasilan. Orang yang mencari alasan selalu mencari alasan mengapa pekerjaannya tidak selesai, dan
orang yang mencari keberhasilan selalu mencari alasan mengapa pekerjannya dapat terselesaikan

Hal terbaik yang bisa anda lakukan untuk orang lain bukanlah membagikan kekayaan anda dalam hal apapun, tetapi membantu ia untuk memiliki
kekayaannya sendiri dalam hal apapun jg.

setiap orang pasti punya masa lalu, bagaimana menyikapinya….(disambung)

satu hal yang sering saya lakukan saat mendengar taushiyah dari orang lain adalah melihat ke dalam diri..hanya saja di taushiyah ini, saya tidak bisa menemukan dalam diri saya hal yang dimaksud..bisa jadi karena kurangnya ilmu….

mohon bantuannya..

Juni 14, 2007 Posted by | Taushiyah | 1 Komentar

Teriakan Jarak Hati


Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?” Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.””Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?” Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan, “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para
muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan, “Ketika sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda.

Juni 12, 2007 Posted by | kontemplasi, Taushiyah | Tinggalkan komentar