Artikulasi Hati dan Otak

maya

Ada dunia
yang tak tersentuh indera
hanya rasa yang mampu membaca dunia
dikala ironi berpadu dengan kewajaran
tampak biasa
tampak awam
tampak hambar
tampak abu – abu
tak terasakah tawa lepas seorang balita
yang menjadi begitu menyesakkan dada ?
atau lelapnya tidur seorang anak kecil
yang menjadi begitu teramat menyayat hati ?
inilah realitas dunia
sakit memang
apa daya
daya apa ?
kita terlampau banyak berwacana
hingga wacana kita menjadi melangit
tak lagi berpijak di bumi realitas
sekali lagi aku bertanya
daya apa ?
sakit oleh pemahaman
kenapa tidak besikap cuek ?
sebentar saja..
aku tak bisa..
aku tak tahan melihat wajah itu
pipi tirus dengan sorot mata lelah
di tengah temaram lampu jalanan malam hari
aku rindu Umar…

Iklan

Mei 27, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem | Tinggalkan komentar

ORANG _ ORANG ROMANTIS Sungguh, seorang Romeo tak…

ORANG _ ORANG ROMANTIS

Sungguh, seorang Romeo tak perlu mati untuk Juliet.Dan Qais tak perlu menjadi gila karena Laila. Romeo masih bisa meneruskan hidupnya tanpa Juliet. Dan Qaispun bisa tetap waras dan hidup tanpa Laila.
Tetapi itulah masalahnya. Mereka tidak sanggup, mereka berhenti di satu titik, dan menyerah. Hidup Romeo tak berarti tanpa Juliet, dan Qais memilih mati daripada kehilangan Laila. Qais memang tidak bunuh diri, tetapi ia membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, larut dalam keterpurukan. Ia lepaskan dirinya tenggalam dalam duka sampai nafas terakhir.
Mereka adalah orang-orang romantis. Dan orang–orang romantis seringkali menjadi rapuh. Mereka punya jiwa yang lembut dan halus. Tetapi kehalusan itu terbiaskan dengan kelemahan. Qais dan Romeo mewakili tipikal laki-laki yang berperasaan halus, tetapi sangat lemah.
Sungguh, kata Anis Matta itu bukan kombinasi yangbagus. Sebab, bagaimana mungkin seorang laki-laki yang lemah bisa berdiri kokoh dalam barisan kaum muslimin untuk menegakkan kejayaan Islam. Bagaimana mungkin ia bisa ‘memanggul senjata’, menebas keburukan dan kebathilan, apalagi kedzaliman, sedangkan ia sendiri tak sanggup menghadapi badai kehidupan, yang muaranya hanya satu: hubbuddunya (cinta dunia). Cinta pada keluarga (anak dan istri/suami) , cinta pada harta, dan cinta pada kehormatan diri.
Pun sebaliknya dengan wanita. Bagaimana mungkin para lelakinya bisa tenang dalam ‘peperangan’ jika para wanitanya senantiasa merengek, menuntut, dan merajuk agar setiap saat selalu ditemani.
Dalam dada orang-orang yang romantis, perpisahan adalah saat-saat paling melankolik, saat-saat paling ditakuti. Sebab dunia menjadi sempit *gimana ga sempit, wong dunia segitu lebarnya serasa cuma buat berdua :-P*. yang diinginkan orang-orang yang romantis adalah ketenangan, kedamaian, bersama para kekasihnya.
Tetapi kehidupan tak seperti itu. Kehidupan selalu punya aturan dan kaidah yang seringkali memaksa orang-orang yang romantis itu berlepas diri dari kekasihnya.
Sedihnya, keadaan seperti itulah yang melanda sebagianbesar muslimin di hari-hari sekarang. Memilih bergumul dengan romantismenya yang rapuh. Berlindung di balik kehalusan dan kelembutan jiwa. Tetapi sebenarnya hanya menutupi kelemahan dan kerapuhan dirinya. Hingga panggilan2 Allah untuk mengangkat ‘pedang’ memerangi kebathilan yang buahnya adalah surga dan bidadari yangbermata jeli, tak lagi terdengar indah.
Tengoklah sebuah kisah. Saat kabar syahidnya syekhAbdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, sang istri mujahid itu hanya menjawab enteng,“Alhamdulillah, sekarang mungkin ia sedang bersenanng-senang dengan para bidadari.”
Ungkapan itu bukan karena tak ada romantisme dan kecintaan dalam dadanya. Tetapi karena segala keindahan itu telah menemukan keterarahan dan sumber energi dari Sang Pemilik Hati.

Gampang?? No!
That’s so hard! But not impossible.

Mei 15, 2007 Posted by | kontemplasi, Taushiyah | 3 Komentar

Ironi Demokrasi, Belajar Dari Turki


Boleh saja saat ini kita menganggap demokrasi adalah paham yang ideal diterapkan di dunia. akan tetapi, sudah selayaknya pula kita membuka mata tentang realitas pelaksanaan demokrasi yang jauh dari keindahan konsepnya. Turki telah memberi dunia pelajaran, akan betapa represifnya demokrasi.

Turki, negara sekuler modern yang didirikan oleh Mustafa Kemal Attaturk pada tahun 1923, telah mengalami pasang surut dalam pelaksanaan demokrasinya. Kudeta militer 3 kali terjadi demi mempertahankan nilai – nilai secular Turki. Kudeta terakhir terjadi tahun 1997, saat pemilu Turki dimenangkan Partai Refah yang berafiliasi terhadap Islam. Pada akhirnya, mahkamah konstitusi membubarkan Partai Refah dan melarang aktivitas politik pimpinannya, Necmettin Erbakan.

Kini situasi politik turki kembali memanas. AKP, yang merupakan kelanjutan dari Partai Refah dengan paradigma baru yakni menerima konstitusi modern dan lebih moderat, memenagkan pemilu turki tahun 2002. Titik kulminasi suhu politik itu terjadi saat Turki harus memilih presiden baru tahun 2007 ini. Calon Presiden yang diajukan oleh AKP ditolak oleh kaum sekuler karena afiliasi mereka dengan Islam dikkhawatirkan akan mengubah dasar sekuler negara Turki.

Sebenarnya, bila menilik mekanisme pemilihan presiden Turki, AKP bisa saja memenangkan pemilihan tersebut. Seorang calon presiden akan menjadi presiden bila mengantongi dua pertiga suara di parlemen. Bila itu tidak dicapai, maka diadakan putaran ke dua dimana calon yang mengantongi suara terbanyak maka akan jadi presiden. Sebagai pemenang pemilu, AKP memiliki suara mayoritas di parlemen, dan tentu saja untuk menggolkan calonnya menjadi presiden bukanlah hal yang sulit. Akan tetapi, melihat situasi politik yang semakin memanas, calon presiden dari AKP, Abdullah Gul, menarik diri dari pencalonan.

Memanasnya situasi politik di Turki disebabkan oleh kekhawatiran dari kamun sekular terhadap AKP dan orang – orangnya yang pro islam. AKP dikhawatirkan akan mengubah dasar sekularisme negara Turki dengan konsep Islam. Walaupun AKP telah menyatan loyalitasnya terhadap konsep sekuler Turki dan berkomitmen mendukungnya, tak serta merta menghapus kekhawatiran kaum sekular tersebut. Pada akhirnya, konflik politik pun terjadi.

Sebuah Ironi
Konflik politik di Turki menyisakan ironi tersendiri bagi demokrasi. Dalam realitas politik Turki, demokrasi jelas hanya menjadi milik golongan tertentu saja dalam hal ini adalah golongan sekuler. Adapun golongan lain, dalam hal ini adalah Islam, yang telah menyatakan mendukung sistem sekuler Turki tidak diberi kesempatan yang luas dalam pemerintahan.

Dalam hal ini, kaum sekuler bertindak terlampau emosional dan paranoid dalam menghadapi realitas demokrasi di Turki. Fakta lapangan tak bisa dipungkiri bahwasanya Turki telah berkembang jauh lebih pesat pada saat pemerintahan PM Erdogan yang berasal dari AKP daripada saat pemerintahan sebelumnya yaitu pemerintahan koalisi. Dari sini jelaslah komitmen AKP dalam membangun dan memajukan Turki.

Memang yang jadi permasalahan adalah benturan islamisme dengan sekularisme dalam kultur demokrasi Turki. Benturan ini hampir selalu diakhiri oleh kudeta oleh militer yang memang berperan sebagai penjaga nilai – nilai sekular. Memang dalam demokratsi, kudeta militer adalah langkah yang tidak terpuji, namun dalam perpolitikan Turki, hal ini telah menjadi sesuatu hal yang lumrah.

Secara logika memang Islamisme tidak bisa bersanding dengan sekularisme. Dan kini benturan keduanya benar – benar berlangsung secara terbuka di Turki. Hanya saja yang harusnya dijadikan pertimbangan dari kubu sekuler adalah bagaimana pernyataan mendukung sistem sekuler oleh AKP dan implementasi di lapangannya. Bila melihat sepak terjang PM Erdogan di pemerintahan yang tidak mengikutsertakan istrinya yang berjilbab di acara kenegaraan, begitu pula mentri – mentri AKP yang lainnya, apakah tidak cukup untuk membuktikan AKP mendukung sistem sekuler?

Harusnya, pertentangan semacam ini tidak boleh terjadi di negara demokrasi. Bagaimanapun juga sebuah sistem kenegaraan menghendaki yang terbaik bagi rakyatnya. Maka apabila suatu pemerintahan berhasil mendatangkan pelayanan yang baik bagi rakyat, hendaknya disambut dengan itikad baik dan tangan terbuka. Selama penyelenggara pemerintahan tersebut memiliki komitmen terhadap konstitusi, mengapa tidak memberi kesempatan yang lebih luas pada mereka ?

Yang harus menjadi bahan kontemplasi adalah apakah pemaknaan demokrasi sudah jauh dari kepentingan rakyat ? sehingga yang terjadi adalah pertentangan politisi yang berasal dari dua kubu berbeda yang malah memperburuk keadaan. Pada akhirnya, rakyat kembali menjadi tumbal demokrasi. Maka dari itu, langkah PM Erdogan untuk menggelar pemilu yang dipercepat serta mengajukan amandemen konstitusi berupa pemilihan presiden langsung oleh rakyat, adalah sebuah langkah yang tepat untuk mengembalikan kekuasaan tertinggi kepada rakyat. Sehingga, rakyat bebas menentukan kemana arah masa depan dirinya dan negerinya.

Pembelajaran Bagi Indonesia
Kisruh politik Turki bisa menjadi sebuah pembelajaran demokrasi di Indonesia. Secara konstitusi, Indonesia adalah lahan yang tepat bagi tumbuh suburnya berbagai macam faham kecuali komunisme tentunya. Sehingga, rawan sekali munculnya stigma – stigma tertentu pada suatu kelompok yang pada akhirnya mengerdilkan makna demokrasi itu sendiri.

Selama kelompok yang menganut faham tertentu kecuali komunisme tersebut berkomitmen pada NKRI, maka biarkan mereka membuktikan keloyalannya pada Republik. Dan hal ini ditunjukkan oleh kiprah nyatanya dalam pembangunan, bukan dari stigma – stigma yang beredar di masyarakat.

Pada akhirnya kita dituntut dewasa dalam berdemokrasi. Kedewasaan dalam berdemokrasi ditunjukkan dengan kefahaman kapan harus naik ke pemerintahan, dan kapan harus turun dari pemerintahan. Sebenarnya, ada parameter yang pas untuk menilai kelayakan dalam pemerintahan ini, yaitu prestasi. Apabila track recordnya bagus, maka silakan tetap di pemerintahan, bila tidak sebaiknya keluar.

Kesimpulan
Ironi yang terjadi pada pelaksanaan demokrasi di Turki lebih diakibatkan pada kekhawatiran yang berlebihan. Dimana para pelaku politik lebih melihat latar belakangnya, bukan prestasi politik dan pemerintahannya. Pada akhirnya yang bermain disini adalah isu – isu dan stigma – stigma menjatuhkan yang berakibat konflik politik. Sehingga pada akhirnya demokrasi seakan – akan hanya menjadi milik beberapa kelompok saja. Maka dewasalah dalam berpolitik. Akui keberhasilan, jadikan pemicu untuk berprestasi lebih dalam melayani rakyat.

Mei 11, 2007 Posted by | kebangsaan | Tinggalkan komentar

Mempertanyakan Kepemimpinan dalam Pendidikan


Bila masih hidup, Ki Hajar Dewantara mungkin akan bersedih. Bagaimana tidak, sistem pendidikan Indonesia yang dirintisnya kehilangan jiwa dan semangatnya. Pendidikan yang notabene adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Dimana Pendidikan sendiri meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Kini tak lebih dari sekedar sebuah jenjang untuk meraih keuntungan materialis dimana paradigma yang berlaku adalah semakin tinggi pendidikan, maka akan semaikn mudah mendapatkan pekerjaan bergaji besar. Pendidikan kita mengalami disorientasi.
Masalah krusial sistem pendidikan kita sebenarnya adalah masalah orientasi. Disinilah seharusnya pemerintah sebagai pemimpin bangsa harus memainkan perannya. Belajar dari China, yang membuat kredo pendidikan yang begitu visioner namun tetap membumi.
The tasks for China’s reform, development and stability in 2005 are quite difficult and arduous. We must follow the leadership of the Party Central Committee with Comrade Hu Jintao as General Secretary, hold high the great banners of Deng Xiaoping Theory and the important thought of Three Represents, and comprehensively implement a scientific outlook on development. We must work hard with one heart and one mind in a down-to-earth manner to attain the targets and tasks for national economic and social development in 2005.
Orientasi pada kredo pendidikan China diatas begitu jelas dari penggalan tulisan yang berjudul Principal Tasks and Measures for Economic and Social Development in 2005 ini, mengimplementasikan pendekatan sains dalam pembangunan. Satu aspek psikologis yang juga disertakan adalah semangat kebersamaan dalam satu komando kepemimpinan nasional. Penggalan diatas, selain menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menggarap aspek pendidikan, juga membuktikan adanya kesamaan filosofi kebangsaan di diri setiap pemimpin lintas periode kepemimpinanya.
Bandingkan dengan tujuan perguruan tinggi Indonesia yang tercantum dalam PP no 61 tahun 1999 tentang pendidikan nasional.Tujuan Perguruan Tinggi adalah :a. menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian;b. mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/ atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional;c. mendukung pembangunan masyarakat madani yang demokratis dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri;d. mencapai keunggulan kompetitif melalui penerapan prinsip pengelolaan sumber daya sesuai dengan asas pengelolaan yang profesional.Bagaimanapun juga, kepemimpinan pemerintah dalam aspek pendidikan.adalah sebuah keniscayaan. Sebab pendidikan adalah sebuah tools untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan wahana penyaluran kompetensi keilmuan. Tentu saja seharusnya pendidikan memiliki tujuan yang terarah sesuai dengan tujuan pembangunan yang diusung pemerintah dalam 5 tahun masa kepemimpinannya.

Kita bisa berkata, pemerintah saat ini tidak memiliki tujuan pendidikan yang terarah. Pengimplementasian BHMN dan BHP adalah sebuah fakta nyata kekurangseriusan pemerintah sebagai pemimpin dalam mengelola pendidikan. BHMN dan BHP memang memberikan otonomi luas pada perguruan tinggi, namun bukan berarti perguruan tinggi boleh menentukan sendiri tujuan pendidikannya. Yang terjadi sekarang adalah tidak adanya tujuan spesifik pemerintah perihal sinergisasi pendidikan dengan pembangunan sehingga perguruan tinggi mengarahkan lulusannya sejalan dengan kebutuhan industri. Maka jangan heran bila kasus brain drain menjadi sebuah kelaziman dalam dunia pendidikan kita.

Kepemimpinan pemerintah dalam pendidikan juga semakin dipertanyakan kala untuk merealisasikan angka anggaran pendidikan 20 % saja sulitnya minta ampun. Pada akhirnya semuanya berujung pada sebuah pertanyaan apakah pendidikan yang notabene adalah investasi jangka panjang dikesampingkan pemerintah dalam pembangunan 5 tahunnya ? sebab hasil pendidikan ini mungkin tidak akan muncul dalam 5 tahun masa kepemimpinannya, bisa jadi efeknya baru terasa 10 atau 15 tahun kemudian. Akibatnya, untuk mengejar suara guna memperoleh kekuasaan periode depan, pemerintah lebih memfokuskan pembangunannya pada sektor – sektor yang memberikan efek instant seperti ekonomi sehingga menaikkan popularitasnya, dan melupakan aspek fundamental yaitu pendidikan sendiri. Sangat pragmatis.

Urgensi Kepemimpinan dalam Pendidikan
Kepemimpinan bisa jadi melahirkan pendidikan, pun juga pendidikan mampu melahirkan kepemimpinan. Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin adalah elemen penting dalam usaha untuk membuat sesuatu. Maka dari tesis diatas bisa ditarik hipotesis bahwa kepemimpinanlah yang berperan membuat pendidikan ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.

Maka dari itu, untuk menghasilkan sistem pendidikan yang berkualitas, kepemimpinan yang berkualitas mutlak harus terpenuhi terlebih dahulu. Untuk mengetahui sejauh mana kualitas kepemimpinan, bisa dilihat dari cara pandangnya terhadap sesuatu, seperti pendidikan. Seorang pemimpin,akan lebih memerhatikan aspek manusia daripada sistem. Selama ini pemerintah lebih sibuk mengutak – atik sistem pendidikan namun tidak memiliki pengaruh apa – apa terhadap fakta di lapangan. Kita pernah mengalami sistem CBSA, KBK, entah apa lagi di kemudian hari. Lantas, adakah perubahan yang terjadi selain nama ? adakah peningkatan kualitas pendidikan kita ?

Dari aspek manusialah sebuah kepemimpinan berangkat, pun juga dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia adalah manajemen pendidikan ala amerika. Bila cocok diterapkan di Indonesia, maka tak akan jadi masalah. Yang terjadi, justru ada ketidakcocokan dalam kultur sosial yang fundamental yaitu aspek hubungan antarmanusianya. Manajemen pendidikan yang bertumpu pada individu ala amerika berbenturan dengan keutamaan hubungan interpersonal dalam pola laku kehidupan bangsa Indonesia. Maka dari itu, kefahaman tentang aspek manusia dari suatu bangsa harus dimiliki oleh pemimpin sehingga mempu menghasilkan sistem pendidikan yang sesuai dengan kultur sosial bangsa.

Satu hal lagi yangf harus dimiliki pemimpin adalah kepemilikan ide dan kefahaman teknis implementasinya. Ide seorang pemimpin dalam pendidikan akan menjadi tujuan pendidikan selama masa pemerintahannya, akan menjadi kredo pendidikannya, sedangkan kefahaman teknis akan memberitahunya perihal jalan yang harus ditempuh untuk realisasi idenya. Yang harus dipertanyakan pada pemerintah sekarang ini adalah adakah ide yang mereka miliki tentang pendidikan, dan bagaimana jalan yang harus ditempuhnya ? namun dari jawaban pemerintah dengan BHMN, BHP, dan KBK serta hasil yang diperoleh, nampaknya sudah jelas jawabannya, belum berjalan baik.

Kesimpulan
Pada akhirnya, kepemimpinan memegang peranan penting dalam mengorientasikan pendidikan sebagai sebuah wahana nation building. Tentunya ini membutuhkan pemahaman yang mendalam dari pemimpinnya tentang karakteristik dan kondisi rakyatnya. Mustahil seorang pemimpin memimpin rakyatnya bila tidak mengetahui karakteristiknya, dan mustahil pula rakyat akan terpuaskan dengan pelayanan pemimpinnya bila pemimpin tidak tahu apa yang sesuai dengan rakyatnya.

Pemerintah saat ini haruslah banyak berkaca, apakah kebijakan pendidikannya didasarkan pada kefahamannya pada kondisi rakyat ? ataukah hanya sekedar aksesoris supaya terlihat telah bekerja ? keseriusan pemerintah dalam pendidikan sekali lagi tidak dilihat dari program apa yang diluncurkan, namun mampukah pemerintah menyalurkan visi pendidikannya kepada rakyat. Mengarahkan biduk pendidikannya dengan orientasi pembangunan jangka panjang. Rakyat bagaimanapun masih menunggu kiprah pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, entah samapi kapan….

Mei 10, 2007 Posted by | kebangsaan | 2 Komentar