Artikulasi Hati dan Otak

aku berdiri


aku berdiri di sini
di tanah ibu pertiwi
dan kusadari betapa elok disekitarku
keelokan ini terasa begitu mengiris hatikubetapa tidak
lihat orang – orang yang menggadaikan tanah ibu
untuk dieksploitasi dan diambil manfaatnya
bukan untuk anak – anak ibu bumi
tapi untuk sangkuni – sangkuni pertiwi
yang menggerogoti satu – persatu sendi kehidupan hingga nyaris mati

aku tidak rela
bila ibu semakin sakit oleh mereka
dan sekali – kali aku tak akan pernah rela
bila mereka terus menari – nari diatas bumi ini
ibu……..
aku ingin membuatmu tersenyum
melihat hidupku

Allah ilahku
izinkan dalam waktu singkat hidupku
aku ingin menghadiahkan karya untuk ibu
walaupun hanya sebuah
semoga ini memberi arti bagi ribuan nyawa yang tidur di haribaan pertiwi
dan izinkan pula aku tidur bersama mereka
dalam kebahagian hakiki
karena Engkau telah membenarkan tindakanku..

April 16, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem | Tinggalkan komentar

Sajak oleh Asy Syahid Sayyid Qutb Sebelum Syahi

Sajak oleh
Asy Syahid Sayyid Qutb
Sebelum Syahid di tali gantung

———————————————————————-

Sahabat,
Andainya kematian kau tangisi
Pusara kau siram dengan air matamu
Maka di atas tulang belulangku yang sudah luluh
Nyalakanlah obor untuk umat ini
Dan …
Lanjutkanlah gerak merebut kemenangan

Sahabat,
Kematianku hanyalah suatu perjalanan
Memenuhi panggilan kekasih yang merindu
Taman-taman indah di syurga Allah
Terhampar menanti
Burung burungnya berpesta menyambutku
Dan berbahagilah hidupku disana

Sahabat,
Puaka kegelapan pasti kan lebur
Fajar kan menyingsing
Dan alam ini kan disinari cahaya lagi
Relakanlah rohku terbang menjelang rindunya
Jangan gentar berkelana ke alam abadi
Disana … cahaya fajar memancar

Al-Maghfurulahy Al-‘Arif Billah
Asy-Syahid Sayyaid Ibnu Qutb Ibrahim
Isnin 13 Jumadil Awal 1386

April 13, 2007 Posted by | kontemplasi, Poem, Taushiyah | Tinggalkan komentar

Membangun Integritas dan Kemandirian sebagai Kunci…

Membangun Integritas dan Kemandirian sebagai Kunci Kekuatan Diplomasi Luar Negeri Indonesia

Politik luar negeri kian memanas setelah PBB memutuskan mengeluarkan resolusi no 1747 kepada Iran terkait program nuklirnya. Resolusi tersebut berisi larangan atas negara atau lembaga keuangan internasional untuk memberikan bantuannya kepada negara Iran. Indonesia, sebagai anggota tidak tetap DK PBB, turut memberikan suara persetujuannya terhadap resolusi yang dijatuhkan kepada Iran tersebut. Tentu saja keputusan tidak populer ini menjadikan pemerintah kembali menjadi sasaran kritik akibat kebijakannya yang terkesan mengekor pada kemauan Amerika Serikat selaku penggagas resolusi tersebut.

Keputusan untuk setuju terhadap resolusi DK PBB tersebut menyisakan keprihatinan terhadap kebijakan politik luar negeri Indonesia yang dependent dan tidak memiliki integritas. Ketergatungan Indonesia terhadap Amerika Serikat tak bisa ditutup – tutupi lagi. Bahkan efeknya sedemikian kuat, hingga saat Pemerintah menyatakan dukungannya terhadap program nuklir Iran saat kedatangan Mahmoud Ahmadinejad ke Indonesia ditanggapi dingin oleh Amerika. Amerika terkesan monggo-monggo saja dengan kebijakan tersebut, namun pada akhirnya Indonesia sendiri malah menjilat ludah sendiri dengan mendukung resolusi yang diajukan Amerika tersebut. Tentunya selain menunjukkan dependensi terhadap amerika, juga menampilkan sikap inkonsistensi Indonesia dalam diplomasi luar negeri.

Tentunya sikap tersebut malah akan mengecilkan peran strategis Indonesia dalam percaturan politik global. Sebagai negara muslim terbesar, Indonesia harusnya memiliki bargaining position dalam memainkan pengaruh dalam diplomasi luar negeri. Pun juga sebagai negara demokratis yang telah mampu melakukan transisi demokrasinya secara sukses. Belum lagi keanggotaannya dalam Gerakan Non Blok yang diharapkan mampu menaikkan kekuatan diplomasi Indonesia.

Peran lebih karena merupakan negara muslim terbesar harus diperhatikan secara serius, karena disinilah letak strategisnya kekuatan diplomasi Indonesia. Indonesia harus mampu bermain cantik dalam percaturan politik global dengan memaksimalkan predikat negara muslim terbesar ini Jangan sampai Indonesia membuat blunder dengan bersikap ekstrem terhadap salah satu pihak yang berujung pada permusuhan dengan pihak lainnya. Perlu agenda diplomasi global yang bernafaskan semangat egaliter, penuh perdamaian, dan berasaskan keadilan. Agenda ini bukan berpihak pada kepentingan negara Barat maupun timur, tapi memihak pada kepentingan keadilan. Karena agenda ini akan menjadikan Indonesia mampu diterima oleh semua pihak yang pada akhirnya bisa menunjukkan cahaya islam yang rahmatan lil alamin. Namun, semuanya belum akan berjalan secara maksimal akibat kurangnya integritas Indonesia dalam bersikap yang dilatarbelakangi oleh belum mandirinya kita sebagai sebuah bangsa.

Membangun kemandirian

Tidak bisa dipungkiri, kemandirian menjadi salah satu kunci tumbuh besarnya sebuah bangsa menjadi bangsa yang disegani. Garis politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif secara tidak langsung menuntut kemandirian bangsa. Bagaimana mungkin garis politik tersebut bisa terimplementasi bila pengaruh asing masih berhembus kuat disetiap kebijakan luar negeri bangsa ini ?

Perlu disadari pula oleh bangsa ini bahwasanya membangun kemandirian bangsa bukan berarti mengusahakannya sendiri. Karena setiap bangsa, seperti halnya manusia, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Hanya karena ada sinergi dengan bangsa lain, maka suatu bangsa jadi sempurna.

Yang perlu bangsa ini lakukan adalah membangun sinergi dengan negara – negara yang memiliki persamaan baik dalam segi nasib, religi, maupun kepentingan. Amat musykil menjalin hubungan dengan negara maju yang hanya menginginkan keuntungan sesaat dalam kerja sama luar negeri. Maka dari itu, Indonesia harus memfokuskan kerjasama luar negerinya dengan negara berkembang lainnya. Diharapkan poros kerjasama Indonesia ini selain menunjang pembangunan dalam negeri juga akan menaikkan bobot diplomasi Indonesia seperti halnya yang terjadi saat Indonesia memprakarsai konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok.

Kemandirian yang harus dibangun adalah dalam aspek ekonomi dan teknologi. Kedua aspek ini adalah bagian fundamental yang menjadi faktor determinan besar kecilnya pengaruh asing terhadap kebijakan negara baik dalam maupun luar negeri. Sehingga negara yang berpotensi menunjang hal ini adalah Cina, dan India. Kedua negara ini telah mampu menunjukkan perubahan yang signifikan dalam membangun bangsanya menjadi bangsa besar yang disegani. Apalagi Cina yang tengah membangun hegemoni di kawasan Asia Tenggara. Hal ini harus dimanfaatkan dengan baik sebagai sebuah peluang transfer teknologi ke dalam negeri.

Membangun Integritas

Integritas inilah yang tengah hilang dari karakter bangsa ini. Bagaimana mungkin keputusan mendukung program nuklir Iran dalam rangka tujuan damai berubah menjadi kebijakan mendukung resolusi PBB yang notabene rancangan Amerika? Hal ini tentu saja memunculkan keprihatinan tersendiri terhadap mentalitas kita sebagai sebuah bangsa yang tidak memiliki keteguhan dalam meyakini sesuatu yang kita yakini kebenarannya.

Integritas sebuah bangsa amat dipengaruhi mentalitas para pemimpinnya. Bagaimana mungkin pemimpin yang oportunis mampu menunjukkan integritas dalam bertindak. Pun juga pemimpin yang gamang, sebab ia akan terjebak oleh keraguan dirinya sendiri. yang kita perlukan adalah seorang pemimpin layaknya Soekarno yang berani berkata “Go ti Hell with your aid”,saat amerika menawarkan jerat “bantuan” utang, sebab beliau sadar efek ketergantungan yang akan ditimbulkannya. Pun juga pemimpin seperti Ahmadinejad yang berani memperjuangkan hak bangsanya untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Integritas keduanya layak diapresiasi lebih sebab berdasar pada niatan tulus membangun bangsanya.

Maka dari itu, pemimpin yang Indonesia butuhkan adalah pemimpin yang setiap kebijakannya menampilkan kekuatan integritasnya yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Termasuk dalam menentukan kebijakan luar negerinya. Jangan sampai kepentingan dan pendapat rakyat terabaikan dalam diplomasi luar negeri Indonesia.

April 11, 2007 Posted by | Blogroll | Tinggalkan komentar

Aku bukanlah putra bapakku Aku adalah putra kehidu…

Aku bukanlah putra bapakku
Aku adalah putra kehidupan yang mendamba hidupku sendiri
Aku datang melalui bapakku tapi tidak dari bapakku
dan sungguhpun bersamamu, aku sejatinya bukan milikmu..bapakku

Engkau dapat memberi kasih sayangmu, tapi tidak pendirianmu
Sebab aku punya pendirian sendiri
Engkau bisa memberi tempat pijakan bagi ragaku
tapi tidak jiwaku
Lantaran jiwaku ada di masa datang yang tak bisa engkau capai walau dalam mimpi sekalipun
Engkau boleh mengikuti alamku, tapi aku tidak akan mengikuti alammu
SEBAB HIDUP TIDAK SURUT KEBELAKANG, TIDAK TERTAMBAT DI MASA LALU

Bapakku….Engkau adalah busur dari anak panah kehidupan anakmu yang mampu melesatkannya ke masa depan…..

April 4, 2007 Posted by | Blogroll | Tinggalkan komentar