Artikulasi Hati dan Otak

Kontemplasi diri….. hari – hari ini tiba tiba m…

Kontemplasi diri…..

hari – hari ini tiba tiba menjadi hari kaleidoskop memori diri diputar ulang. kunjungan ke tempat kost yang lama membuatku rindu akan masa – masa itu. aku merasa, ketika di kost itulah aku merasakan adanya ukhuwah yang dalam, walaupun tingkat kepahaman islam masing – masing individu berbeda. hal ini tidak kutemui di organisasi maupun di tempat tinggalku yang baru, sebuah asrama. aku memang mencoba kebiasaan – kebiasaan yang aku lakukan di tempat kostku yang lama, berkunjung dari kamar ke kamar untuk ngobrol, tapi yang kurasakan hampa. jarang ada tawa renyah, saling ledek, bahkan sekedar minta mp3 namun berkesan. semuanya menjadi serba kaku, dingin, beda interest, penuh kompetisi, penuh kecurigaan menyembunyikan peluang berprestasi. aku rindu suasana nonton bareng dengan gurauan persahabatan, aku rindu suasana makan bareng di warung makan dekat pasar balubur, aku rindu diledekin lagi karena aku angkatan termuda. aku rindu suasana egaliter sebuah rumah…tapi justru kerinduan itu semakin berarti bila kita tidak menjalaninya lagi…

hope to see u again bang anto, readone, bang ded, bang brian, MAW, bang hendra, bang dessy, bang simpari

berlanjut kemudian, tiba – tiba aku menemukan sebuah buku, buku ‘hitam’ yang entah barangkali aku telah lupa. tempat aku menuliskan puisi – puisi melankolik romantik tentang seseorang, tempat aku melukiskan ungkapan yang tak sempat terungkap lewat kata, hanya dengan pandangan mata. sudah lama..dan aku memutuskan memplesternya untuk mencegahku membuka memoar itu..sejenak terpikir untuk membukanya, namun sulit..sulit sekali hatiku untuk membukanya. keinginan yang dulu sejenak mengemuka, tapi tebasan pedang keinginan memotong keinginan itu, buku itu kembali aku simpan, memoar yang akan mampu merusak ukhuwahku, penyakit akut yang meracuniku. sejenak ku duduk dengan jari – jemariku menari – nari diatas tuts keyboard menulis sesuatu yang tak aku pikirkan lagi.

sejenak ku teringat rumahku. untaian kebahagiaan pernah kualami, tapi ternoda kala ku kelas 5 SD dengan usia sekitar 10 tahun. mendengar yang belum layak kudengar, menyaksikan sesuatu yang belum layak disaksikan bagi anak seusiaku adalah sebuah bentuk perusakan karakter, hingga kini aku merasa sulit untuk berkata ‘cinta’ pada orang yang memang kucinta, arus kemunafikan cinta terasa mengkontaminasi mulutku, mengkakukan otot lidah dan bibirku untuk berkata ‘cinta’. kemudian hari – hari selanjutnya banyak air mata yang tumpah, bukan hanya diriku namun orang – orang yang kucintai. betapa sakit menyaksikan orang yang kucinta, orang yang rela kutebus kebahagiaannya dengan darahku menangis, berkeluh kesah, dan jatuh…betapa sakit saat aku pura – pura tidur demi mendengar orang yang kucinta menceritakan semuanya pada orang yang ia percaya. betapa sakit ketika aku merasa tak mampu berbuat apa – apa melawan semua kemunafikan ini, semua penghambaan pada nafsu dunia ini, semua gunjingan orang, semua realitas yang meluncur dari orang yang kucinta. semuanya itu tiba – tiba membekas dalam karakter dingin dan kaku diriku. aku sejenak merasa ingin mendapat kehangatan jiwa untuk meleburkan dinginnya jiwaku.kemudian aku merasa bahwa aku membantuk karakter pribadiku sendiri..dari cerita, dari apa yang kusaksikan, dari idealismeku.

Januari 21, 2007 - Posted by | Blogroll

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: