Artikulasi Hati dan Otak

“Sekolah Pendidikan Karakter” “Ilmu dapat dipela…

“Sekolah Pendidikan Karakter”

“Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh begitu saja. Pangkal segala pendidikan karakter adalah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar…” (Mohammad Hatta)
Ramadhan Syahrul Tarbiyah telah datang, input Ramadhan berupa orang – orang beriman hendak diproses agar menjadi orang – orang yang bertakwa. Pada takwa ada kata melaksanakan perintah Allah dan menjauh laranganNya, artinya sebuah kemampuan menunjukkan puncak – puncaknya iman melalui amal nyata yang terlihat di keluhuran akhlaknya.
Apabila imannya belum terejawantahkan dalam akhlak takwanya, maka belum sempurna iman seseorang tersebut, seperti yang termaktub dalam hadits
“ Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka “ (H.R Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Salah satu pengejawantahan iman dalam akhlak adalah cintanya kita pada kebenaran dan keberanian mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai – nilai kebenaran.
Bangsa ini tengah mengalami relativitas dalam memaknai kebenaran. Ada kebenaran menurut diri sendiri, menurut masyarakat, menurut hukum dan menurut agama. Poin yang terjadi di bangsa ini adalah masih ada gap dalam pemaknaannya. Kebenaran menurut diri sendiri, yang lebih layak disebut pembenaran, kental kaitannya dengan kepentingan pribadi seseorang terhadap sesuatu. Misalnya seorang artis yang rela memamerkan aurat atas nama estetika demi memperoleh penghasilan. Menurutnya hal itu benar menurutnya karena bernilai estetik, tapi bagi umat, tentunya bertanya etikanya dimana. Disini memang amat terlihat adanya penyimpangan pemikiran yang berakibat terjadinya paradoks antar nilai, dan ini terjadi karena pribadi tersebut belum memiliki dasar pemikiran yang kuat dalam memandang sesuatu hal secara menyeluruh untuk menentukan kadar kebenaran dari sesuatu hal.
Bukti lain adanya relativitas pemaknaan kebenaran adalah budaya main hakim sendiri di masyarakat. Bangsa ini telah menjadi bangsa yang barbar akibat pemahaman yang berbeda dalam menyikapi sesuatu hal tindakan kriminal sehingga diambil langkah – langkah yang cukup ’kriminal’ juga oleh masyarakat dan ini tidak dianggap salah olehnya. Apakah ini adalah buah dari pemaknaan kebenaran oleh masyarakat ?
Bangsa ini pun menjadi sedemikian permisifnya bisa jadi akibat dari pemaknaan kebenaran yang kurang tepat juga. Nilai – nilai positif bangsa tergusur oleh arus mode hasil globalisasi dan liberalisme. Lihat saja dari bagaimana kaum muda kita berpakaian dan bertingkah laku seperti budaya barat, dan itu lagi – lagi tidak dianggap salah oleh masyarakat. Bahkan tidak dianggap modern, orang – orang yang tidak mengikuti mode yang bersumber dari barat. Fenomena ini menggiring pada kenyataan bahwa kebenaran dalam masyarakat tidak selalu baik bagi masyarakat tersebut.
Kebenaran dalam masyarakat ini erat kaitannnya dengan media massa dan institusi pendidikan. Saat ini peran institusi pendidikan dalam membentuk karakter masyarakat dan menghadirkan pemahaman akan makna menyeluruh sebuah kebenaran kalah oleh pengopinian publik oleh media massa yang banyak menyajikan kebenaran rancu yang penuh kepentingan. Efisiensi institusi pendidikan masih amat rendah dalam menghasilkan individu – individu berkarakter yang memiliki visi kebangsaan, sedangkan efisiensi media massa dalam mencetak individu hedonis dan pragmatis cukup besar.
Hal yang harus diperkuat sebab hal itu merupakan inti pengendali kebenaran pribadi dan masyarakat adalah kebenaran dalam hukum dan agama. Kondisi bangsa ini adalah hukumnya masih belum independen sehingga kebenarannya bisa diperjualbelikan, dan bangsa ini kondisi kehidupannya masih penuh dengan sekularitas yang meletakkan agama sebatas tempat ibadah dalam suatu ritual. Namun, adakalanya pada momen – momen tertentu kebenaran yang hakiki mengemuka, salah satunya adalah Ramadhan.
Ramadhan tentunya menjadi saat yang strategis untuk menghadirkan kembali kecintaan pada kebenaran yang bersumber dari fitrah. Pada bulan ramadhan, syiar keagamaan begitu nyata gaungnya dan orang – orangnya pun terkondisikan untuk menerima kebenaran dan mencintainya. Masjid – masjid mulai kembali ramai dikunjungi orang yang walaupun datang untuk berbuka puasa dan sholat maghrib tentunya dan terlihat makmur dengan kegiatan islami.
Kecintaan pada kebenaran pun muncul dan dahsyatnya hal ini dibarengi dengan keberanian dalam mengatakan salah pada hal yang bertentangan dengan nilai kebenaran. Seperti ketika seorang mahasiswa yang kesehariannya ’gaul abis’ kala melihat temannya mencontek pekerjaan rumah miliknya, dia menegurnya bahwa Bulan Ramadhan tidak boleh mencontek sebab bisa merusak pahala puasa katanya. Luar biasa sekali, bahwa pangkal dari pendidikan karakter itu muncul disana, pada momentum Ramadhan ini.
Ada harapan besar akan terintegrasinya kebenaran – kebenaran individu, masyarakat, hukum dan agama ketika kedatangan Bulan Ramadhan ini. Harapan akan menyemainya benih – benih karakter cinta pada kebenaran dan keberanian mengatakan kebenaran dari terintegrasinya pemahaman tentang hakikat kebenaran itu, akan menjadi pertanda lahirnya pribadi – pribadi berkesadaran. Kelahiran pribadi – pribadi ini menjadi sebuah keniscayaan atas perubahan menuju kemajuan peradaban sebuah bangsa. Sebab bagaimana mungkin seorang individu akan melakukan perubahan sedangkan ia sendiri tidak memiliki kesadaran atas hal apa yang harus diubah.
Maka inilah individu itu, individu yang sadar akan realitas ditengah idealitas mereka. Merekalah yang akan berjuang, memperjuangkan nilai – nilai kebenaran yang diperoleh lewat kesadarannya akan realitas. Merekalah yang akan mentransformasi kebenaran masyarakat yang akan menjadi tanda lahir peradaban. Peradaban inilah yang akan melahirkan hukum yang independen, bebas dari kepentingan siapun, hukum yang tidak memihak rakyat atau penguasa, namun hukum yang memihak kebenaran
Sekali lagi, kebenaran yang mereka perjuangkan bukan kebenaran perut mereka. Namun kebenaran yang diperoleh dari akal dan hati mereka yang bersumber dari fitrah. Dan merekalah pribadi – pribadi yang akan diwisuda oleh sekolah pembentukan karakter berkurikulum langit yaitu Ramadhan. Mereka adalah orang – orang beriman yang akan melalui proses pembelajaran dan penempaan sehingga saat berakhirnya masa ajaran, akan mampu menampakkan puncak – puncak keimanan mereka melalui akhlak takwanya. Merekalah yang akan membidani persalinan peradaban baru bangsa mereka menuju peradaban yang berlandaskan nilai – nilai kebenaran hakiki, berdasarkan iman. Semoga bangsa itu adalah bangsa ini, Indonesia.

Desember 14, 2006 - Posted by | Blogroll

1 Komentar »

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    Komentar oleh Qinimain Zain | Oktober 1, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: